Mengubah Pola Pikir Insan Pertanian: Pembiayaan, Pendampingan dan Pengenalan Teknologi Pertanian

KBRN, Magetan: Berbagai permasalahan pertanian yang mengemuka membutuhkan penyelesaian segera. Permasalahan muncul mulai dari pra tanam yakni ketersediaan sarana produksi pertanian (saprotan), pasca panen yakni pemasaran hasil panen hingga berkaitan dengan regenerasi petani.

Muara dari permasalahan tersebut ialah terkait pola pikir. Masih banyak petani yang menggunakan cara konvensional dan alat tradisional dalam mengelola sawah misalnya bergantung dengan pupuk kimia utamanya pupuk subsidi dan belum memaksimalkan pemanfaatan alat pertanian berbasis teknologi IT. Hal ini berkaitan erat dengan regenerasi petani yang “mandeg” karena anggapan pekerjaan menjadi petani bukan pekerjaan yang memiliki prospek.

Salah satu tokoh pemuda desa Krajan kecamatan Parang kabupaten Magetan, Jawa Timur, Aris Mustofa menyesalkan fakta tersebut. Namun Arif tidak tinggal diam, ia mencoba mengurai simpul permasalahan dimulai dengan megandalkan kemampuan manajemennya. Sebagai komisaris wana wisata terpopuler di Magetan, Mojosemi Forest Park, Arif sudah berpengalaman mengonsep pemberdayaan masyarakat UMKM. Kini ia mandegani pemberdayaan masyarakat petani di desa kelahirannya menggandeng gabungan kelompok tani (Gapoktan) Sejahtera. Ia menjadi jembatan penghubung antara petani dengan berbagai pihak antara lain lembaga filantropi Dompet Dhuafa, ditambah beberapa off taker besar lainnya serta Mohari Farm Management sebagai pemilik teknologi pertanian.

“Mimpi saya anak-anak muda mau jadi petani. Saya terlahir di kondisi masih merasakan hidup menjadi petani, ikut bapak saya ke sawah nggaru dan ngluku, pernah saya alami. Anak-anak saya sudah tidak, termasuk anak-anak teman-teman saya di kampung ini sendiri sudah tidak mau menginjak sawah, sudah tidak mau menjadi petani. Terus masa depannya mau dibawa kemana? Ini yang menjadi pemikiran kita maka itu kita perkenalkan dengan Mohari Farm Managemen, teknologi-teknologi pertanian yang baru,” kara Arif.

Sebagai komisaris wana wisata terpopuler di Magetan, Mojosemi Forest Park, Arif sudah berpengalaman mengonsep pemberdayaan masyarakat UMKM. Kini ia mandegani pemberdayaan masyarakat petani di desa kelahirannya menggandeng gabungan kelompok tani (Gapoktan) Sejahtera. Ia menjadi jembatan penghubung antara petani dengan berbagai pihak antara lain lembaga filantropi Dompet Dhuafa, ditambah beberapa off taker besar lainnya serta Mohari Farm Management sebagai pemilik teknologi pertanian.

Nyemprot tidak perlu digendong, sudah pakai drone tinggal pencet putar. Itu semua sudah kita punya itu nanti akan kita terapkan. Tapi bisa kita terapkan kalau kita beroperasi dengan luasan yang mencukupi, kalau sendiri-sendiri tidak mungkin. biaya nyemprot 1 hektar, misalnya, kita sudah punya hitungannya semua. Kalau diganti drone berapa penghematannya. Harapannya ini memperbaiki permasalahan-permasalahan yang dialami petani kita,” lanjutnya.

Permasalahan yang ingin diselesaikan oleh Arif gayung bersambut dengan program “1.000 hektar ketahanan pangan” milik Dompet Dhuafa. Bukan hanya pendampingan saat masa tanam, namun hingga proses jual hasil panen. Dengan sistem closed loop, Dompet Dhuafa berupaya memutus mata rantai distribusi yang panjang sehingga terdapat margin bagi petani.

“Di hulu kita terlibat dalam membantu meringankan penyediaan bibit dan saprotan. Kita juga ajak beberapa pakar di teknologi pertanian berbasis kampus. Jadi dukungannya cukup banyak. Skema pembiayaannya kita ambil dari dana infaq, zakat dan sedekah. Ada dua pembiayaan dalam konsep close-loop nya Dompet Dhuafa yang pertama yang sifatnya penyaluran,tidak perlu diminta kembali karena merupakan hak masyarakat, cuma cara penyalurannya berbasis pendampingan. Berdasarkan alur pertanian kapan butuh pembiayaan saat itulah muncul. Untuk pembiayaan kedua itu di off taker, ini sudah masuk skema bisnis,” papar Bambang Suherman, Direktur Komunikasi dan Aliansi Strategis Dompet Dhuafa.

Jaminan pembelian gabah petani dengan harga tinggi akan mengeluarkan petani dari jebakan permainan ekonomi oknum tengkulak yang sering menyebabkan harga gabah turun drastis saat panen.

“Jadi Dompet Dhuafa menghitung agar nilai yang digunakan untuk membeli produk petani dapat berputar kembali memperkuat pertanian. Maka yang disebut dengan close loop adalah market, kalau pesantren-pesantren jaringan Dompet Dhuafa membutuhkan beras kan pasti ratusan ton, itu bisa disalurkan ke sana saja. Daripada beli di mart untungnya untuk siapa kan tidak tahu, kalau seperti ini untungnya ke petani,” imbuhnya.

Bukan hanya dengan Dompet Dhuafa, penandatanganan nota kesepakatan juga dilakukan dengan off taker besar lain diantaranya Food Station dan PT. Wilmar Padi Indonesia.

Skema yang sangat matang yang ditawarkan tersebut bukan berarti tidak menemui kendala karena mengubah kebiasaan turun temurun petani tidak semudah membalik telapak tangan. Hal ini diakui oleh penyuluh pertanian dari Mohari Farm Management, Rio.

“Memang perlu adaptasi. Yang perlu digarisbawahi kita menyediakan hampir seluruh sarana produksi, yang belum tanam kita sediakan benih, pupuk terutama NPK hayati, penanganan hama penyakit tanaman berbasis bio biopestisida biofungisida dan lain-lain, kemudian ada nutrisi tanaman. semua kita sediakan dan kita bombing, jadwalnya ada. jadi kita mau merubah banyak sekali mindset dari petani, misalnya, pakem yang harus ada pupuk kimia tanah, harus ada urea dan lain sebagainya, tidak harus seperti itu karena kita bisa mengganti dengan yang berbasis organik yang lebih ramah lingkungan dan ramah petani, dengan biaya yang lebih terukur,” tutur Rio.

Bertolak dari kondisi kesuburan tanah, kuantitas air dan sumber daya manusia yang semakin berkurang, maka mau tidak mau adaptasi dan pembiasaan perlu dilakukan terus menerus.

“Penanganan hama nya juga ada atau tidak ada hama penyakit kita lakukan aplikasi pencegahan jadi bukan konsep seperti pemadam kebakaran. Semuanya terjadwal dengan harapan produktivitas naik hama terkendali petani lebih sejahtera. Petani dibantu pembiayaan sehingga keunggulannya petani tidak mengeluarkan biaya di depan. Sistemnya yarnen setelah panen baru dibayar sehingga semua pihak untung tapi yang paling untung adalah petani,” pungkasnya.

Gapoktan Sejahtera Magetan diharapkan dapat menjadi contoh sukses integrasi pertanian dari hulu hingga hilir yang bukan hanya melibatkan insan pertanian namun juga pelaku bisnis. Mengingat petani menjadi pilar ketahanan pangan Indonesia sudah selayaknya petani menjadi subyek dan menjadi pihak yang mendapat keuntungan.

Disisi lain, petani harus menyadari bahwa pertanian adalah sektor yang dinamis sehingga perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan. Teknologi hadir bukan untuk menggantikan, teknologi hanya berperan meningkatkan produktivitas dan kinerja pertanian. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar