Blessing In Disguise, Pandemi Pecut Inovasi Pemanfaatan Teknologi

KBRN, Magetan: Corona melanda sejak 2019 bahkan menjadi pandemi di banyak negara tak terkecuali Indonesia. Ibarat serangan gerilya, diam-diam menyergap.  Siapa terlena, ialah yang terbidik menjadi korban. Tembakan virus menjadi sangat tak  terduga dan memaksa banyak pihak untuk tiarap sejenak.

Pendidikan tak luput dari pukulan besar dan memaksa pelaku pendidikan; keluarga, sekolah dan masyarakat, melakukan perubahan dalam waktu singkat. Ditengah kondisi ketidakmerataan infrastruktur, sarana dan prasarana bidang pendidikan, pendidik, siswa dan orang tua dituntut melompat dari zona nyaman. Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) kabupaten Magetan, Sundarto, menyebut seluruh pihak harus ‘memaksa diri’ berakselerasi.

“Banyak PR yang harus dikerjakan bukan hanya PGRI sendiri tapi juga pemerintah. Guru menghadapi tantangan yang luar biasa dan itu harus kita selesaikan kalau negara menginginkan setara dengan negara maju. Infrastruktur di negara maju sudah tertata dan kita belum tapi kita dipaksa untuk mengembangkan diri agar tidak tertinggal. Masalah ini kompleks dalam arti secara infrastruktur sebelumnya belum siap sama sekali, sumber Daya Manusia (SDM) juga belum siap tapi harus memaksa diri mengejar. Sehingga akselerasi sangat dibutuhkan. Akselerasi pengetahuan dan pembiayaan,” kata Sundarto dalam dialog Lintas Madiun Pagi di RRI, Rabu (24/11/2021) lalu.

Keputusan berat harus diambil antara menjaga anak tetap dirumah agar tidak tertular atau mengijinkan mereka pergi dengan segambreng aturan yang belum tentu dapat dilakukan sepanjang waktu di sekolah.

Tidak ada pilihan lain, pemanfaatan teknologi menjadi jawaban. Pertemuan non fisik yang semula dinilai berat dilakukan bahkan nyaris mustahil, mau tidak mau menjadi sebuah keharusan. Dengan demikian anak-anak tetap memperoleh haknya dalam pendidikan namun tetap minimal pertemuan dan mobilitas, perilaku yang memicu penularan. Pemikiran ini kerap diungkapkan Bupati Magetan, Suprawoto dalam berbagai kesempatan, seperti saat momen peringatan Hari Guru Nasional ke-76, Kamis (25/11/2021).

“Pasti ada blessing in disguise, hikmah tersembunyi. Pandemi ini mengajarkan kepada kita bahwa belajar itu bisa online, bisa menggunakan digital. Sekolah-sekolah harus mulai kreatif dengan menggunakan teknologi. Statementnya Pak kepala BKN itu PNS semakin berkurang, karena apa, karena teknologi dan itu tidak bisa dihindari. Manusia kan diberi akal, pasti ada aja akalnya dan pandemi mengajarkan kita tentang itu. Guru mungkin sekarang sebagai mitra bahkan mungkin lebih pintar muridnya jadi guru tidak boleh ketinggalan justru harus membimbing,” tegasnya.

Langkah berani diambil oleh SMKN 1 Magetan (Kanesma). Dari pengalaman keberhasilan jurnal elektronik setahun sebelum pandemi, dibangunlah Sistem Ujian Daring (SIUDA) dan Sistem Informasi Pondok Romadhon dan Litersi (SIPORA). Sistem pencatatan daring berbasis web yang dapat diakses oleh seluruh warga sekolah dengan jaringan internet maupun intranet. Ketiga sistem yang diciptakan guna menjawab hambatan pandemi tersebut kemudian digabung dan dinamai E-JUDARA.

Tim IT Kanesma, Ibnu Ma’ruf mengungkapkan E-JUDARA mampu menghimpun seluruh catatan aktivitas guru dan siswa secara real-time. Sehingga tidak ada lagi celah bagi guru maupun siswa untuk lalai dalam tugasnya yaitu mengajar maupun belajar. Saat ini cara kerja seluruh sistem tengah ditingkatkan dari yang semula hanya satu arah kini telah dapat saling memberi umpan balik baik dari murid ke guru maupun sebaliknya.

“Aplikasi ini ada update mulai dari mencatat saja, saya kembangkan bisa ada feedback dari guru. Terakhir yang saya update adalah bisa mencantumkan bukti foto atau gambar. Misalnya SIPORA, sekarang digunakan untuk pekan literasi, siswa setiap hari paling tidak membaca satu buku, majalah atau bacaan apapun. Nah, apa yang dia baca silakan difoto kemudian di-upload di situ nanti dijelaskan yang dibaca judulnya apa isinya apa. Kemudian wali kelas melihat dan verifikasi atau memberi tanggapan terkait buku tersebut,” papar guru berusia 29 tahun ini.

Kepala SMKN 1 Magetan, Sugiyanto tidak memungkiri bahwa aktifitas pembelajaran yang melibatkan jaringan internet pasti menemui kendala antara lain kekuatan signal internet yang berbeda di masing-masing tempat tinggal siswa serta kemampuan orang tua siswa yang berbeda dalam menyediakan gadget untuk mengakses pembelajaran daring. Namun hal tersebut bukan menjadi alasan dan hambatan, pihaknya menyediakan fasilitas baik jaringan maupun piranti di sekolah yang dapat digunakan oleh siswa setiap saat.

“Kendala diantaranya anak tidak ada wi-fi atau jaringan internetnya tidak bagus karena Magetan ini daerah barat seperti Poncol dan Sarangan itu daerah pegunungan. Maka itu kemarin waktu pelaksanaan SIUDA, anak-anak yang mengalami kesulitan kami persilahkan ke sekolah, kami siapkan 7 lab komputer. jadi ada solusinya, semua program itu pasti ada kendalanya tapi bagaimana kita mencari solusi,” ujar Kepsek.

Kebermanfaatan dan kefektifan E-JUDARA rancangan SMKN yang berlokasi di Jalan Kartini no. 6 ini menjadi  inovasi yang diunggulkan oleh Dinas Pendidikan provinsi Jawa Timur untuk maju dalam Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) tahun 2021. Hasilnya, E-JUDARA berhasil masuk dalam jajaran TOP 30 Kovablik 2021 mengungguli ratusan kompetitornya.

“Kami bersaing dengan ratusan sekolah SMA SMK se-Jawa Timur kemudian SMK 1 terpilih mewakili Dinas Pendidikan provinsi Jawa Timur untuk Kovablik. Jadi atas nama Dinas Pendidikan provinsi Jawa Timur melawan dinas-dinas di seluruh Jawa timur dan akhirnya menjadi TOP 30 pelayanan publik se-Jawa Timur,” ungkapnya bangga.

Pandemi akhrinya memaksa seluruh pelaku pendidikan melesat jauh, melampaui seabad ketertinggalan. Bak kuda pacu yang terpecut untuk kembali berlari kencang, pandemi mengingatkan dunia pendidikan untuk mengedepankan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, dimana negara lain sudah memelakukannya di abad 20. Namun tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik. Pandemi harusnya menjadi pupuk penguat akar tanaman, teknologi menjadi air yang dapat menumbuh suburkan pohon pendidikan hingga berbuah generasi-generasi yang techno-friendly, adaptif dan inovatif.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar