Wayang Krucil: Wayang Syiar Islam, Dalang dan Paraga Tampil Atas Ilham?

KBRN, Magetan: Wayang Krucil yang dipercaya telah ada sejak 400 tahun silam memunculkan beberapa pendapat mengenai kehadirannya dalam kesenian Jawa. Beberapa pendapat mengaitkannya dengan kedatangan Islam di Nusantara, sebagai hasil akulturasi antara wayang kulit purwa dan kebudayaan baru bernafaskan Islam yang tengah berkembang masa itu. Pendapat lain menyebutkan bahwa wayang krucil muncul di masa pemerintahan Pangeran Pekik tahun 1700-an dari Surabaya, seorang ulama dan ahli fiqih yang merupakan adik ipar Sultan Mataram. Pangeran Pekik mendapat mandat dari Sultan Agung (Mataram Islam) untuk menguasai kawasan Giri Kedaton pada tahun 1635, yang saat itu penduduknya belum sepenuhnya menganut agama Islam. Pangeran Pekik diduga menggunakan media wayang berbahan kayu untuk menyebarkan dakwahnya.

Wayang yang berkembang di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Brantas dan Bengawan Solo ini juga dipagelarkan di Magetan. Salah satu pemain gamelan pementasan wayang krucil yakni Sugeng Hariyanto warga desa Bedagug Kecamatan Panekan mengaku terakhir kali memainkan wayang krucil pada akhir tahun 1980 an. Pementasan tersebut ia ikuti saat masing duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Berlaku sebagai dalang adalah kakeknya.

Ia menceritakan, ada kisah magis yang dialami kakeknya saat menemukan wayang krucil. Kala itu kakeknya sedang mbahu atau mengerjakan lahan dihutan menemukan bongkahan kayu yang seolah menolak dibakar.

“Mbah Ditto itu mbahu atau mengerjakan lahan di hutan, terus di membuat perapian dan ada kayu yang hanyut dari Gunung. Saat dia membuat perapian kayu tersebut selalu mundur saat terjilat api. Setiap di majukan kayu tersebut mundur, Kayu tersebut kemudian dibelah didalam kayu tersebut ada 2 wayang termasuk wayang yang terbakar,” ujarnya.

Pun saat memainkan wayang, cerita yang dipertunjukkan tidak tertulis namun kakeknya dapat memainkan dengan lihai seolah mendapat ilham. Seluruh penabuh juga bak orang-orang terpilih. Kakeknya yang merupakan keturuan terakhir pemain wayang krucil diwilayah setempat pernah mengatakan bahwa siapapun akan bisa memainkan cerita wayang krucil ketika dibutuhkan untuk memainkan wayang tersebut.Sugeng Hariyanto mengaku tidak ada pakem yang terdokumentasikan untuk memainkan wayang krucil baik cerita maupun penabuh gamelan.

“Saya ikut mainkan gamelan sejak kelas 1 SMP. Setiap siapa saja yang diajak main sudah pasti bisa tanpa latihan. Secara logis nada gamelannya monoton, tapi secara spiritual siapa yang ditujuk pasti bisa. Cerita itu tidak pernah ditulis, tapi kalau kewahyon (mendapat wahyu) dalang itu bisa saja mendalang, sepeti orang kerasukan, beliau langsung bisa. Kakek saya pandai mendalang cerita Bintal Jemur, Adam Makno pandai sekali. Saya pernah berusaha menulis dan menerjemahkan, tapi setiap saya tanya kakek saya mengatakan sudah lupa Kakek karena tiba-tiba saja bisa,” imbuhnya.

Sugeng Hariyanto mengungkapkan sejak terakhir kali dipentaskan oleh kakeknya, tidak ada lagi penampilan wayang krucil. Wayang krucil hanya ditampilkan disaat-saat tertentu atas permintaan seseorang yang mempunyai nadzar saat cita-cita mereka yang telah terlaksana.

“Kira-kira kalau benar-benar tidak mengetahui sejarah jangan sekali kali memainkan wayang tersebut. Bahayanya nanti kalau syiar Islam tidak pas bisa menyesatkan, Kalau simbah bilang kalau tidak terpilih nanti usianya tidak sampai karena ceritanya memang syiar,” katanya.

Kini peralatan seperti gong, kendang serta peralatan lainnya sudah mulai rusak. Sugeng Hariyanto hanya bisa merawat peninggalan wayang dari kakeknya tersebut.

Akankah wayang krucil di Magetan menghilang karena aroma mistis yang masih kental menyelimuti sejarah penemuannya didaerah setempat? Padahal wayang krucil sarat akan makna dan diperkirakan menjadi media syiar agama Islam. Ataukah ada pegiat-pegiat yang mampu menemukan sejarah terang dan meluruskan cerita yang telah berkembang?

Hani Fadilah – RRI Madiun

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar