FOKUS: #PPKM

Mimpi 30 Tahun Warga Desa Wayang Mendapat Listrik Terwujud

KBRN, Ponorogo : Kegembiraan terpancar dari wajah Maryono (40) warga Dusun Mutih, Desa Wayang, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. Listrik yang ia idamkan bersama warga desanya selama 30 tahun, kini akan menjadi kenyataan.

Ironis memang, pulau Jawa yang konon sudah penuh dengan infrastruktur nyatanya masih ada wilayah yang menunggu aliran listrik hingga 3 dekade lamanya.

Dusun Mutih dan Dusun Krajan, Desa Wayang, Kecamatan Pulung memang berada cukup jauh di kaki Pegunungan Wilis atau berjarak 24 KM arah timur laut dari pusat kota Ponorogo.

"Ini murni keinginan kuat warga, bukan keinginan siapa-siapa dan kami memang sangat membutuhkan aliran listrik itu," kata Maryono, Rabu (25/8/2021).

Malangnya lagi Keinginan kuat warga untuk mendapat listrik justru sempat dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab. 

Pernah dijanjikan oleh seseorang untuk mendapat aliran listrik setahun lalu, tapi kenyataannya janji hanya tinggal janji saja. Padahal warga sudah terlanjur membayar sejumlah uanga kepada oknum tersebut.

"Ya kita pernah dulu urunan dijanjikan orang tapi ya kenyataannya tidak kunjung terealisasi, kami tidak menyesali. Ya tidak apa-apa memang jalan kami harus begitu," ujar Maryono.

Maryono menuturkan suka-duka dalam usaha perjuangan demi mendapatkan aliran listrik untuk ia dan ratusan warga Dusun Mutih.

Dengan mata berkaca-kaca karena gembira bercampur haru, Maryono mengungkapkan, setelah berjuang sekian tahun akhirnya keinginan memiliki jaringan listrik dapat segera terwujud.

"Yang jelas kita sebagai warga masyarakat desa Wayang, dukuh Mutih bahwa harapan 30 tahun yang terpendam itu akhirnya tahun 2021 ini dapat terwujud. Kami sangat bersyukur," ungkapnya penuh sukacita.

Karena selama ini wilayah yang berpenduduk 302 jiwa itu mengandalkan listrik yang sangat minim. Bayangkan saja dari tetangga yang memiliki jaringan listrik cuma sebesar 450 watt, harus dibagi 7 sampai 8 KK hanya untuk mendapatkan satu lampu penerangan tiap rumah. Selebihnya masih mengandalkan lampu petromak, lilin hingga lampu minyak tanah.

“Selama ini kami mengambil, nyabang, dari tetangga yang letak rumahnya dekat dengan tiang listrik terjauh di Wayang. 450 watt dibagi-bagi, jadi ya kecil sekali, ga bisa untuk apa-apa,” jelas ayah 2 anak itu. 

Bahkan Saking kecilnya suplay listrik yang dimiliki, warga setempatpun tidak bisa mengakses air dari sumbernya. Padahal di desa tersebut terdapat sumber air yang melimpah dari sumber air  'Sumber Beji'. Namun karena letak Dusun Mutih paling atas di atas perbukitan sehingga air tidak dapat ditarik keatas diantaranya disebabkan tidak adanya daya listrik.

"Permasalah utamanya tidak adanya tiang dan kabel besar jaringan, jadi daya listrik itu sangat terbatas bahkan tidak ada. Intinya masyarakat selama 30 tahun sampai hari ini memiliki harapan yang besar. Salah satunya planning kami listrik itu menaikkan sumber air ke Dusun kami," ulasnya

Dengan adanya tiang-tiang listrik yang  segera dipancang di Dusun Mutih dan Krajan Desa Wayang, maka Maryono berharap dapat meningkatkan perekonimian warga. Sebab dengan adanya listrik, maka penduduk setempat bisa melakukan pekerjaan yang selama ini terhambat.

“Kemarin saat melakukan pekerjaan membangun rumah warga, kami kesulitan mengoperasikan peralatan tukang karena minimnya listrik. Beberap kali listrik anjlok (mati). Ini membuat kita jadi fikiran kapan ya listrik ini terpenuhi. Mudah-mudahan ke depannya lancar, ini berkah dari pandemi,” imbuh Maryono.

Sementara itu Kepala Desa Wayang Subari menuturkan warga dua Dusun di wilayahnya memang belum teraliri listrik selama puluhan tahun. Hal inilah yang membuatnya merasa prihatin.

"Ya itulah pake penerangan tradisional selama ini seperti petromax kadang lilin. Ya kalau punya TV ya pake aki, tape atau nyetel musik masih menggunakan batu baterai," ujar Subari.

Namun mimpi buruk itu nampaknya segera sirna. Ini setelah Puluhan tiang listrik sudah tiba dan nampak tergelatak di depan balai Desa Wayang,Pulung,Ponorogo, Rabu (25/8/2021) kemarin. 

Sedianya tiang-tiang listrik dari beton itu akan dipasang hari itu juga, tapi karena sesuatu hal sedikit ditunda pemancangannya. Namun hal itu tidak mengurangi kegembiraan warga Dusun Mutih. Karena selama 30 tahun hidup dalam ‘kegelapan’.

“Rencana hari ini mau dipasang, tapi karena ada kerepotan yang lain di PLN, maka ditunda,’ jelas Subari, Kades Wayang,Pulung, Rabu (25/8/2021).

Subari juga menjelaskan, pengajuan pemasangan tiang listrik dan pengadaan kabel besar di 2 Dusun wilayahnya yaitu Mutih dan Krajan, sudah dilakukan beberapa tahun lalu. Namun belum ada respon. Baru ketahuan di belakang hari, ternyata proposal itu menguap begitu saja, tidak pernah teregritasi. Namun angin segar mulai berhembus dalam 3 bulan ini. 30 tahun yang akhirnya terbayar dalam 3 bulan.

"Ya sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi warga, karena mau menukang tidak ada listrik, mau pertanian modern energi untuk membangkitkan atau menaikkan suplai air ke wilayah atas tidak ada," bener Subari.

Dari 3 Dusun di Desa Wayang, Kecamatan Pulung Ponorogo, hanya Dusun Surodipo yang sudah memilki jaringan listrik sejak tahun 1992 lalu.  Kesulitan pemasangan listrik di 2 dari 3 Dusun di Desa Wayang adalah mendatangkan tiang pancang dan kabel-kabel besar. Karena daerah tersebut merupakan pegunungan, sehingga mengalami kesulitan. Saat ini puluhan tiang listrik masih ‘dititipkan' di desa tetangga Desa Serak, Pulung, karena sulitnya akses menuju Desa Wayang.

Subari berharap dengan masuknya listrik dapat merubah wajah desanya dan mengangkat drajat ekonomi warga. Dan mimpi warga Dusun Mutih dan Dusun Krajan Desa Wayang keluar dari kegelapan dapat segera terwujud

"Ya mudah-mudahan dengan adanya listrik ini bisa memajukan warga kami Desa Wayang khususnya dusun Mutih dan Krajan  Dulu beberapa kali kami ajukan proposal tapi tidak ada kabar beritanya. Tapi Alhamdulillah, kini tiang listrik segera dipancang," pungkas Subari.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar