Tak Ingin Sisakan Masalah, Bupati Minta Boyongan Pasar Legi Dilakukan Dengan Hati

KBRN, Ponorogo : Menyikapi masalah sengketa lapak di Pasar Legi yang hingga saat ini belum terselesaikan Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko meminta kepada Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Dan Usaha Mikro untuk menjernihkan semua permasalahan sebelum boyongan resmi dilakukan. Permasalahan yang harus di jernihkan dengan hati antara lain masalah sengketa pembagian lapak di lantai 1 dan juga laporan hilangnya 30 lapak pedagang sayur.

Hal tersebut disampaikan Sugiri Sancoko  usai menemuai Kepala Dinas Perdagkum Andin Andana Warih usai mengkomunikasikan rencana pembagian lapak dan kunci lapak kepada Bupati. Bupati juga mengizinkan  boyongan secara orang perorang ke Pasar Legi yang telah dimulai mulai Rabu (9/6/2021) kemarin. Boyongan perorangan itu dilakukan untuk menghindari terjadinnya kerumunan  karena masih dalam pandemic covid-19.

"Rabu (9 Juni 2021,red) itu sudah dimulai boyongan fisik, artinya belum peresmian lo ya . Boyongan fisik itu bakal dimulai dari Pasar Legi Relokasi. Prosesnya terlebih dahulu dilakukan pengecekan satu persatu pada para pedagangang untuk menghindari kerumunan  dengan menerapkan protokol kesehatan, Ungkap Sugiri Sancoko, Kamis (10/6/2021).

Boyongan dimulai dari para pedagang pasar relokasi yang dilakukan satu persatu, dan checklistnya dilakukan dihadapan bupati. Siapa nama pedagangnya, asalnya dari mana, menempati lapak berapa, kemudian tanda tangan dan disaksikan langsung Bupati.

Setelah proses boyongan pasar relokasi  kemudian dilanjutkan  boyongan oleh para pedagang  Pasar Lanang (Pasar Legi Selatan),  Pasar eks. Stasiun dan eks. Pengadilan atau obrok grosir lainnya.  Dengan proses dan sistem boyongan fisik seperti ini Bupati Sugiri berharap saat peresmian nanti tidak timbul masalah.

"Prosesnya begitu, sehingga saat peresmian sudah klir, detail dan jernih tidak ada yang disalahkan," tegasnya.

Sugiri kembali menegaskan, pihaknya tidak bermaksud memperlambat proses boyongan namun ingin mengklirkan semua permasalahan yang ada, baru kemudian dilakukan boyongan secara resmi.

"Saya memang menyarankan Dinas Perdagkum jernih menggunakan hati dalam menyelesaikan masalah pasar, jangan sampai tidak jernih karena pasar adalah sumbu ekonomi. Pedagang lama harus menempati tempat utama, itu yang penting prinsipnya. Setelah itu pasar lainnya, semua pasar harus tersentra di sana," tandasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00