Ini Saran IDI Madiun agar Tak Muncul Klaster Baru Penyebaran Covid-19

KBRN, Madiun: Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Madiun mendukung upaya pemkot kembali menerapkan pola lama. Apalagi IDI telah memprediksi kasus terkonfirmasi positif covid-19 meledak pasca mobilitas dibuka tanpa ada pembatasan. Bahkan golongan anak-anak dianggap luput dari pengawasan hingga terpapar corona. Selain itu para dokter juga mengingatkan protokol kesehatan tidak hanya diterapkan bagi masyarakat, melainkan penting diaplikasikan untuk bangunan.

Ketua IDI Cabang Madiun, dr. Tauhid Islamy Sp.OG mengatakan, selama ini publik mengenal kelompok komorbid atau orang dengan penyakit penyerta sebagai golongan yang rentan terpapar Covid-19. Menurutnya ada satu kelompok yakni anak-anak dan balita yang selama ini luput dari pengawasan. Terbukti adanya kasus bayi usia dua tahun di Kota Madiun terpapar Covid-19.

“Ternyata harus memperhatikan kelompok ini yang kadang terlupakan,” kata Tauhid (7/8/2020).

Seperti diketahui bayi yang merupakan pasien nomor 31 asal Kelurahan Banjarejo, Taman itu merupakan cucu dari pasien nomor 25, pedagang Pasar Sambirejo yang terkonfirmasi pada 23 Juli lalu. Saat ini bayi menjalani isolasi mandiri di rumah. Menurutnya tidak menjadi soal jika menjalani isolasi mandiri. Asalkan diterapkan protokol kesehatan dengan ketat.

“Justru pasien dengan kategori konfirmasi asimptomatik itu kan tanpa gejala, disarankan untuk isolasi mandiri,” imbuhnya.

Tidak kalah pentingnya, Tauhid meminta ibu bayi tetap memberikan air susu ibu (ASI) untuk mencukupi kebutuhan nutrisi buah hati. Agar kondisi kesehatan tidak turun dan segera pulih. Dia menyarankan saat memberikan ASI kepada bayi, si ibu mengenakan masker medis. Jika memungkinkan mengenakan faceshield.

IDI mencatat klaster keluarga telah terbentuk di daerah. Klaster itu terbentuk dengan adanya transmisi atau penyebaran lokal. Asalnya dari importad case atau kasus yang dibawa karena mobilitas penduduk. Ledakan kasus itu telah diprediksi para dokter pasca pemerintah melonggarkan mobilisasi masyarakat.

“Kami sudah memprediksi hijaunya tidak lama, karena mobilitas penduduk ini. Dari situ menjadi transmisi lokal jika tidak segera ada pembatasan,” terangnya.

Karena itu ia memberikan masukan tiga langkah ke pemerintah daerah dalam rangka menekan angka kasus baru. Pertama, menerapkan restriksi atau pembatasan untuk mendeteksi warga yang masuk atau kembali dari luar daerah terutama zona merah. Langkah ini menurutnya sejalan dengan adanya Kampung Tangguh. Kedua, pemerintah meningkatkan upaya testing, tracing, dan treatment (3T), baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Menurutnya 3T yang dilakukan dengan baik dapat menekan terbentuknya penyebaran atau transimisi lokal bahkan klaster keluarga.

Terakhir, menurut Tauhid merupakan upaya baru yang penting dilakukan yakni mengaplikasikan protokol kesehatan untuk bangunan. Sebab menurutnya tidak ada gunanya jika masyarakat menerapkan protokol kesehatan namun berada di ruangan tertutup dilengkapi air conditioner (AC). Tauhid menjelaskan secara ilmiah virus itu akan tetap ada di ruangan demikian. Tauhid menyarankan bangunan umum baik perkantoran, pusat perbelanjaan yang tidak memiliki jendela harus dipasangi ventilasi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00