Sujud Syukur, 24 Napi Lapas I Madiun Dapat Asimilasi

KBRN, Madiun : Sebanyak 24 narapidana (Napi) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Madiun akhirnya dapat menghirup udara bebas setelah mengikuti program asimilasi, Kamis (7/7/2022). Pembebasan napi itu dilakukan untuk mencegah penularan Covid-19 di dalam Lapas. Suasana haru pun tak terbendung saat pelepasan para napi. Mereka bahkan melakukan sujud syukur sebagai ungkapan rasa syukur.

Seorang napi, Atik Sumiati tak henti bersyukur namanya terdaftar sebagai penerima program asimilasi. Dengan begitu ia lebih cepat menghirup udara bebas dari yang seharusnya ia jalani. Perempuan asal Kota Madiun ini berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

“Alhamdulillah saya dapat asimilasi. Seharusnya dipidana tiga tahun, saya hanya menjalani 1,6 tahun. Yang jelas program asimilasi ini gratis,” katanya.

Wejangan : 24 Napi Lapas I Madiun penerima asimilasi mendapat wejangan dari Kabid Pembinaan, Agus Salim. 

Disatu sisi banyak hal yang telah ia lakukan di dalam lapas. Di antaranya terlibat dalam produksi roti yang diberi nama L’Pasma Bakery. Kemudian mengikuti pelatihan menjahit dan bordir, hingga didapuk sebagai kepala produksi.

“Saya juga bersyukur yang dulunya nggak bisa bikin roti, menjahit dan bordir menjadi bisa. Jadi ketika keluar saya bisa menjalankan ilmu yang pernah saya dapat selama disini. Saya berkomitmen untuk berbuat hal yang lebih baik,” ucapnya.

Bebas : Napi menerima SK asimilasi dari Kabid Pembinaan Lapas I Madiun.

Kepala Bidang Pembinaan Lapas I Madiun, Agus Salim menuturkan,  pemberian asimilasi bagi 24 napi itu merujuk pada Peraturan Menteri Hukum dan HAM (Permenkumham) Nomor 43 Tahun 2021 tentang Pengeluaran dan Pembebasan Narapidana dan Anak melalui Asimilasi dan Integrasi dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19. Adapun ke-24 napi yang menjalani asimilasi di rumah mayoritas warga luar kota.

“Jadi dari 24 orang itu, yang dua pembebasan bersyarat dan  22 orang asimilasi di rumah. Jadi mereka itu dapat asimilasi karena berkelakuan baik, kemudian mereka juga mengikuti kegiatan pembinaan, baik kepribadian maupun kemandirian. Harapan kami mereka bisa kembali berbaur dengan masyarakat. Dan saya minta ke masyarakat, tolong mereka ini dibimbing, diawasi supaya mereka bisa berkelakuan baik,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan Lapas I Madiun, Taufiq Hidayatulloh mengungkapkan, dari 24 napi yang mendapat asimilasi, rata-rata tersandung kasus kriminal umum. Pun selama program tersebut bergulir, berdasarkan catatannya tidak ada warga binaan yang kembali melakukan tindak kejahatan.

“Ya harapan kami mereka bisa lebih baik dan tidak mengulangi tindak pidananya. Dan kami yang di Lapas I Madiun berharap kepada masyarakat jangan selalu menstigma bahwa narapidana selamanya napi. Jangan menganggap bahwa orang yang jahat selamanya jahat. Mudah-mudahan dengan pembinaan yang kami berikan selama mereka berada disini, dia bisa berbuat lebih baik, berguna bagi masyarakat dan negara,” tambahnya.

Seperti diketahui, Program asimilasi adalah proses pembinaan narapidana dan narapidana anak yang dilaksanakan dengan membaurkan warga binaan dalam kehidupan masyarakat.

Program asimilasi dilaksanakan di rumah. Proses pembimbingan, pengawasan asimilasi dan integrasi dilaksanakan oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas). Adapun terdapat persyaratan untuk warga binaan yang menerima asimilasi. Salah satunya penelitian masyarakat. Yakni melalui metode wawancara terhadap yang bersangkutan, keluarga dan lingkungan tempat tinggal. Apabila tidak memenuhi kriteria, maka asimilasi tidak bisa diberikan. Sementara itu ada beberapa warga binaan yang tidak bisa menerima asimilasi. Antara lain terkait kasus perlindungan anak, pembunuhan berencana maupun kasus pencurian.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar