Kejari Kota Madiun Hentikan Penuntutan Kasus Penggelapan Lewat Restorative Justice

KBRN, Madiun : Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Madiun menghentikan Kasus penggelapan/penipuan dengan Restorative Justice (RJ) yang dilakukan Putu Juniawan (53) warga Desa Kedungrejo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. . Di Kota Madiun, RJ telah dilakukan dua kali. Kali ini berlangsung di Rumah RJ  Kelurahan Kelun, Kota Madiun, Senin (27/6/2022).

Kepala Seksi Pidana Umum (Pidum) Kejari Kota Madiun, Muhammad Andy Kurniawan mengatakan, kasus penggelapan/penipuan yang dilakukan Putu Juniawan terjadi pada Maret lalu. Yang bersangkutan berencana membeli dua unit Hp di salah satu counter Hp, Jalan Yos Sudarso, Kota Madiun senilai Rp3 juta. Namun karena tak memiliki uang kemudian dijanjikan akan dibayar di hari esoknya.

Karena tidak kunjung dibayar, korban kemudian menghubungi Putu namun selalu menghindar. Hingga kemudian pada awal April, Putu Juniawan menjualnya dan uang tersebut digunakan untuk modal usaha bawang merah. Oleh korban selanjutnya kasus tersebut dilaporkan ke aparat kepolisian, selanjutnya yang bersangkutan dilakukan penahanan sejak 12 April 2022.

Sujud Syukur : Putu Juniawan sujud syukur usia dinyatakan bebas dari penahanan.

Andy menyebut, ada beberapa pertimbangan yang membuat Putu Juniawan dibebaskan dari penahanan, salah satunya korban telah memaafkan perbuatan tersangka dan korban berharap perkara tersebut tidak dilanjutkan ke persidangan dengan adanya kesepakatan damai. . Perkara tersebut diakui telah memenuhi persyaratan untuk melalui proses RJ sesuai dengan ketentuan pasal 5 Ayat (1) Peraturan Kejaksaan Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan berdasarkan Keadilan Restoratif.

“Restorative justice ini diberikan karena ada beberapa pertimbangan, yaitu tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana, tersangka disangka melanggar pasal 372 KUHP atau 378 KUHP dengan ancaman pdana paling lama 4 tahun. Kemudian telah ada surat pernyataan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak bahwa tersangka telah membayar kerugian saksi korban sebesar Rp3 juta serta korban telah memaafkan perbuatan dari tersangka dan s korban berharap perkara tersangka tidak dilanjutkan ke persidangan dengan adanya kesepakatan damai,” ujarnya.

Ditemui RRI, Putu Juniawan mengaku telah menyesali perbuatannya. Bahkan usai menerima surat bebas, ia ditemani sang istri langsung sujud syukur.

Damai : Novel Amar (korban) dan Putu Juniawan (tersangka) berdamai usai kejakaan menyelesaikan perkara penggelapan Hp melalui program restorative justice.

“Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, saya juga terimakasih kepada jaksa penuntut umum yang telah menghentikan penuntutan perkara ini sehingga tidak sampai ke pengadilan,” katanya.

Istri Putu, Titik Rianawati tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Kasus yang menimpa suaminya tersebut bisa menjadi pembelajaran hidup, untuk tidak melakukan perbuatan melawan hukum.

“Ya yang jelas ini semua ada hikmahnya bagi keluarga saya. Dari pihak kejaksaan tadi juga menyampaikan dan memohon kepada saya dan keluarga untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi,” ucapnya.

Pemilik counter Hp selaku korban, Novel Amar mengaku telah memaafkan perbuatan Putu Juniawan. Bahkan antara keduanya, juga telah terjadi kesepakatan damai pada Selasa, 14 Juni lalu.

“Saya menyambut baik dengan adanya restorative justice ini, semoga kedepannya tidak terulang lagi kasus seperti ini. Yang jelas sudah ada perdamaian dan dua unit Hp yang dibawa (Putu Juniawan.red) sudah dibayar lunas,” bebernya.

Sebelumnya terhadap penanganan kasus ini, Kejari Kota Madiun telah mengajukan permohonan RJ kepada Jaksa Agung. Selanjutnya pada Rabu, 22 Juni 2022 Jaksa Agung RI melalui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum menyetujui 10 permohonan Penghentian Penuntutan berdasarkan Keadilan Restoratif Justice, salah satunya, perkara yang menimpa Putu Juniawan. Kemudian Kejari Kota Madiun menerbitkan Surat Keterangan Penghentian Penuntutan (SKP2) terhadap perkara tersebut, selanjutnya dibebaskan dari penahanan pada 27 Juni 2022.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar