BI Kediri Ajak Masyarakat Lakukan ‘5 Jangan’ Wujud Cinta, Bangga dan Paham Rupiah

KBRN, Madiun : Rupiah merupakan alat pembayaran yang sah di Indonesia sebagaimana UU No.7/2011 tentang Mata Uang Rupiah. Sebagai alat transaksi, kondisi uang tidak selalu dalam keadaan sempurna. Faktanya, peredaran uang lusuh, uang cacat hingga uang rusak saat ini masih dijumpai. Baik uang kertas maupun uang logam, dari pecahan Rp100 hingga Rp100.000. Ini karena uang tersebut telah dipegang dan digunakan banyak orang untuk bertransaksi. Dengan latar belakang masyarakat yang berbeda-beda, cara memperlakukannya pun tak sama.

Bahkan tak jarang ditemui uang kertas yang sobek, uang yang diisolasi atau diselotip, terdapat banyak coretan hingga hilang sebagian. Sedangkan pada uang logam terkadang berubah warna, kotor hingga melengkung. Tentu, hal itu menjadi keprihatinan bersama karena menandakan masyarakat belum sepenuhnya Cinta, Bangga dan Paham rupiah.

Seperti dikatakan Hariyanto, seorang pedagang gorengan warga Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Hampir setiap hari ia mendapatkan rupiah dari pembeli yang kondisinya mayoritas bekas lipatan. Tak jarang pula ia menerima uang lusuh dari konsumennya. Namun demikian ia tak bisa menolak dan hanya bisa pasrah dengan harapan bisa diputar kembali untuk membeli dagangan di hari esoknya.

“Kalau uang lusuh hampir setiap hari dapat dari pembeli, tapi mau bagaimana lagi orang kan beda-beda. Adanya itu ya saya terima saja. Sebetulnya mintanya yang bagus, yang rapi karena kita itu harus merawat rupiah dengan baik,” katanya, Sabtu (25/6/2022).

Senada dikatakan Vera, seorang ibu rumah tangga. Pengalaman tak enak pun ia rasakan ketika membeli bumbu dapur di pasar tradisional. Uang kembalian yang lusuh, cacat maupun rusak terpaksa ia terima dari pedagang. Kondisi itu menurutnya tidak sebanding dengan rupiah yang ia bayarkan dengan kondisi yang bagus, karena berjajar rapi di dalam dompetnya. Namun ketika ia hendak menolak, ia berpikir ulang karena tidak ingin berdebat dengan pedagang tersebut.

“Ngomongin rupiah saya salah satu orang yang concern banget sama rupiah. Jadi memang saya itu cinta dan bangga sama rupiah dengan mengenali, dan merawat rupiah. Karena saya sadar rupiah ini adalah satu-satunya alat pembayaran yang sah di Indonesia. Saya juga tahu bahwa fungsi rupiah ini sebagai nilai tukar, jadi saya juga bertransaksi, berbelanja dengan bijak dan pastinya hemat dan mencoba juga untuk berinvestasi. Makanya kalau dapat uang yang sobek atau lusuh itu sedih banget. Ya heran saja sama orang-orang kalau misalnya kita punya uang yang bagus, uang kertasnya baru kita kan juga senang,” terangnya.

Sementara itu Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kediri, Moch. Choirur Rofiq saat menghadiri acara semarak Cinta, Bangga dan Paham Rupiah di Sun Hotel Madiun, 16 Juni lalu menyatakan, Bank Indonesia maupun pihak lain yang disetujui BI menyediakan penggantian apabila masyarakat memiliki uang yang masuk kategori tidak layak edar. Termasuk diantaranya uang lusuh, uang cacat maupun uang rusak. Uang tersebut dapat diganti oleh BI apabila masih dikenali ciri-ciri keasliannya dan memenuhi kriteria penggantian uang rusak. Uang rusak tersebut nantinya akan diganti dengan uang layak edar sejumlah uang rusak yang ditukarkan.

“Tentunya rupiah ini harus dijaga dan dirawat. Caranya gimana, ya jangan dilipat, jangan dibasahi, jangan distaples, jangan dicoret-coret dan satunya jangan diremas. Pesan kami supaya masyarakat ikut menjaga dan merawat rupiah melalui 5 jangan tadi,” ungkapnya.

Deputi Kepala Perwakilan BI Kediri, C. Tratmono Wibowo menjelaskan, ketika rupiah yang diterima seseorang dari manapun sekalipun kondisinya lusuh disarankan tidak ditolak selama uang tersebut asli. Nantinya aka ada petugas dari perbankan yang akan menarik uang tidak layak edar di masyarakat.

“BI tentunya tidak bisa bekerja sendiri, melibatkan perbankan lain dan masyarakat. Ketika ada uang lusuh secepatnya ditukarkan ke bank. Bisa ke perbankan, bisa ke BI. Tapi selama uang itu asli tidak boleh ditolak. Kita itu setiap hari menarik uang lusuh itu sangat banyak, jadi secepatnya kita tarik untuk kita musnahkan dan kita ganti yang baru. Pemusnahannya ada du acara, untuk uang kertas dengan diracik dan dipotong-potong tidak menyerupai uang, jadi semacam serbuk. Kalau uang logam itu dilebur,” ucapnya.

Baginya, tidak ada alasan bagi masyarakat yang tinggal di Indonesia, tidak menggunakan rupiah. Karena itu BI Kediri tidak henti-hentinya mengedukasi masyarakat untuk melakukan Gerakan Cinta, Bangga dan Paham Rupiah. Apalagi dalam uang tersebut terdapat gambar pahlawan, pemandangan dan kebudayaan Indonesia yang semestinya dijaga dan dihormati. Cinta, yakni dengan cara mengenal, merawat dan menjaga rupiah dengan baik. Bangga, karena rupiah merupakan symbol kedaulatan, alat pembayaran yang sah dan pemersatu bangsa. Serta Paham, berarti memahami dalam hal bertransaksi, berbelanja dengan hemat dan menggunakan alat pembayaran non tunai atau digital QRIS.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar