Waspada PMK, Dinas Peternakan Trenggalek Sekat Hewan Masuk dari 4 Kabupaten

KBRN, Trenggalek :  Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Provinsi Jawa Timur mulai mewabah. 

Sebagai upaya antisipasi, Dinas Peternakan Trenggalek melakukan penyekatan Hewan Masuk dari 4 kabupaten yang ada di Jawa Timur.

PMK atau dikenal juga sebagai Foot and Mouth Disease (FMD) dan Apthtae Epizooticae adalah penyakit hewan menular bersifat akut yang disebabkan virus.

Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Peternakan Trenggalek, Nur Kholik mengatakan sesuai  arahan dari Gubernur Jawa Timur, pihaknya akan meningkatkan kewaspadaan penyakit yang bisa menular antar hewan.

Arahan tersebut salah satunya dilarang menerima hewan dari Kabupaten/Kota di Jawa Timur yang saat ini sudah ada indikasi paparan PMK, yaitu Gresik, Lumajang, Sidoarjo dan Mojokerto.

“Dari kabupaten yang sudah ada indikasi paparan PMK itu kami himbaukan kepada pedagang hewan untuk tidak membeli, untuk meminimalisir kasus penularan,” ucap Kholik. Minggu (15/5/2022).

Kholik, menjelaskan jika penyakit PMK itu tidak menular antar hewan saja. Penyakit PMK juga bisa melalui manusia, dan alat transportasi hewan.

“Untuk antisipasi dan langkah konkritnya, kami masih menunggu regulasi dari Kementerian, untuk saat ini masih sekedar imbauan saja,” jelasnya.

Sementara itu, populasi hewan ternak Sapi potong di Trenggalek pada Triwulan IV sebanyak 38.840, yang terbagi betina 29.558 dan jantan 9.282.

Kemudian, populasi sapi perah di Trenggalek sebanyak 6.619 yang terbagi betina 4.983 dan jantan 1.636 ekor.

Kholik menyebutkan, sebelumnya Kabupaten Trenggalek juga menjadi rujukan datangnya hewan dari luar daerah, seperti Blitar, Lumajang dan Boyolali.

“Untuk Trenggalek menerima dari 2 zona yang sudah terjangkit PMK, yaitu Lumajang, dan kabarnya Boyolali juga ada, namun belum keluar uji laboratoriumnya,” ungkap Kholik.

Kholik, mengungkapkan hewan yang bisa terpapar PMK tidak hanya sapi saja, namun juga bisa menular kepada hewan yang berkaki empat.

Ciri-ciri hewan yang terpapar PMK yaitu mulut berbusa, dan berliur kemudian suhu tubuh hewan mencapai 41 derajat celcius, dan hewan cenderung sering rebahan.

“Dampaknya bisa menyebabkan hewan mati, karena tidak nafsu makan dan berdiri tidak bisa karena kaki sakit,” paparnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar