Pil KB Ibu Menyusui Resmi Diluncurkan

KBRN, Nganjuk : Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) wilayah Jawa Timur didukung Pemkab Nganjuk meluncurkan Pil KB bagi Ibu Menyusui dalam Mendukung ASI Eksklusif dan guna mencegah Stunting. Peluncuran dilakukan di Pendopo Kabupaten Nganjuk.

Plt. Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, menyampaikan pasangan usia subur di Nganjuk sebanyak 180 ribu, dan potensi menjadi peserta KB. 

"Di akhir tahun 2021, ibu hamil kurang lebih 6 ribu, dan itu objek sasaran penanganan penggunaan Pil KB. Minum Pil KB pasca melahirkan, Asi lancar, bayi sehat," ujar Marhaen.Jumat (21/1/2022).

Terkait stunting, menurut Marhaen, di Nganjuk Stunting pada tahun 2018 sebesar 16,1 persen, tahun 2019 turun menjadi 11,48 persen, tahun 2020 kurang lebih turun menjadi 11,01 persen, tahun 2021 Stunting turun menjadi 9,63 persen.

“Ini prestasi para kader bukan prestasi kabupaten," jelasnya.

Dijelaskan, dengan keberhasilan penurunan Stunting hingga 1 digit, merupakan peran serta semua Forkompimda Nganjuk. Tercatat di Nganjuk mempunyai kader KB sebanyak 2500 orang. 

"Intinya adalah gotong royong, kompak, dan di Nganjuk semua kompak. Nganjuk Ngawi Guyup Rukun SAE Jaya Abadi. Dan alhamdulilah Nganjuk mendapat 8 penghargaan terkait KB," Paparnya.

Sedangkan  Ketua DPRD Jatim, Kusnadi mengapresiasi Pemkab. Nganjuk yang bisa mencapai angka Stunting di 9 %. 

"Di bawah kepemimpinan bapak Bupati, stunting bisa teratasi diangka 1 digit. Melampaui target pak Presiden 14 persen," terang Kusnadi.

Kusnadi mengungkapkan stunting di Indonesia masih menunjukkan angka yang tinggi, dan diharapkan di tahun 2024 bisa memenuhi standar WHO, mencapai 14 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

"Dengan pencapaian melebihi target Presiden, Kabupaten Nganjuk bisa jadi percontohan di wilayah Jawa Timur," ujar Kusnadi.

Sementara itu, Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo mengatakan pil hanya mengandung progesteron, sehingga tidak menghambat keluarnya ASI. 

"Selesai Nifas bisa konsumsi pil ini, Insya Allah air susunya lebih baik," terangnya.

Hasto juga menyinggung dalam penurunan Stunting juga diperlukan peran remaja. 

"Remaja jangan hamil yang tidak dikehendaki. Angka kehamilan di Jawa Timur sudah bagus, tinggal kualitasnya diperbaiki," ujarnya.

Hasto menerangkan stunting bukan keturunan genetik, stunting adalah anak terlantar, karena tidak diurus. 

“Ada beberapa kerugian mengalami stunting yaitu tidak bisa tinggi, ,kurang cerdas dan masa tua sering sakit, " Pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar