Pekan Ini, Kota Madiun Berencana Gelar PTM 100 Persen

KBRN, Madiun: Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Madiun dalam waktu dekat akan melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen bagi satuan pendidikan jenjang TK, SD dan SMP. Kebijakan itu dilakukan mengingat capaian vaksinasi anak usia 6-11 tahun dosis pertama, di wilayah setempat cukup tinggi, 93 persen.

"Kalau nggak Minggu ini ya paling lambat Minggu depan kita lakukan PTM 100 persen," ujar Kepala Dindik, Lismawati usai meninjau vaksinasi anak dosis dua di SDN Banjarejo, Senin (17/1/2022).

Ia menyebut, bukan hanya mempertimbangkan soal capaian vaksinasi, melainkan juga dilihat dari kesiapan masing-masing satuan pendidikan. Pun, juga mendasar SKB 4 Menteri, yang mengizinkan PTM digelar 100 persen. Namun demikian, penyebaran covid-19 varian baru, Omicron di lingkungan sekolah tetap menjadi perhatian khusus. Karenanya proteksi lebih diperketat, utamanya terhadap penerapan protokol kesehatan (prokes).

"Kalau di daerah lain masuknya siswa usai libur tahun baru sudah 100 persen, kami bertahap dulu. Setelah kami evaluasi kok hasilnya bagus, tidak ada temuan (kasus Covid-19.red), baru nanti kami berani untuk 100 persen. Ini salah satu proteksi kami selain menggenjot vaksinasi," ungkap dia.

Rencana PTM 100 persen mendapat respon beragam dari wali murid. Seperti dikatakan Ega Swastika Pratiwi. Ia justru lebih setuju PTM terbatas, 50 persen ketimbang masuk full 100 persen.

"Saya inginnya ya separo gitu pembelajarannya jangan full semua masuk, biar nggak kumpul lama-lama dengan teman-temanya, kan menghindari kerumunan gitu," kata Ega.

Lain halnya disampaikan Veronica Boni. Ia mendukung penuh PTM 100 persen di sekolah agar pembelajaran lebih maksimal. Apalagi anak-anak usia 6-11 tahun mayoritas telah menjalani vaksinasi covid-19. Namun demikian ia selaku orang tua, tetap mengedukasi anak untuk tetap menerapkan prokes ketat.

"Kalau anak-anak sudah vaksin semua ya nggak apa-apa kalau PTM 100 persen. Kalau misal masih banyak yang belum vaksin ya jangan dulu. Kan kalau anak di rumah terus, ya sulit untuk belajar. Pasti game terus. Kan beda ya kalau belajar di rumah dengan di sekolah," terangnya.

Senada juga diungkapkan Bakti Nugroho, yang menginginkan PTM 100 persen. Sebab, menurutnya, belajar di rumah dirasa kurang maksimal. Namun demikian, beredarnya informasi siswa di luar daerah yang terpapar covid-19 varian baru, Omicron, membuat dirinya turut was-was.

"Ya was-was tapi kan kita juga butuh anak masuk PTM 100 persen. Tinggal kita kasih pengertian sama anak terhadap prokesnya," terangnya.

Bakti menjelaskan, keinginan orang tua siswa untuk PTM 100 persen bukan tanpa alasan. Ini mengingat tidak sedikit orang tua siswa yang kesulitan mendampingi anaknya belajar di rumah. Baginya, jika PTM berlangsung, materi pembelajaran yang disampaikan guru dapat diterima dengan mudah oleh siswa, ketimbang belajar dari rumah.

"Soalnya diberi pembelajaran secara tatap muka saja kadang nggak mengerti, apalagi sampai nggak tatap muka. Biar anak lebih paham gitu. Kalau di rumah ngasih pengertian ke anak itu susah," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar