SBMR Kecewa UMK 2022 Naik Tipis

KBRN, Madiun: Serikat Buruh Madiun Raya (SBMR) anggota Federasi Sebumi kecewa atas keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/803/Kpts/013/2021 Tentang Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) Di Jawa Timur Tahun 2022. Pasalnya, kenaikan UMK yang akan diterapkan mulai Januari tahun depan tergolong sangat minim hanya Rp36.400,04. Dari Rp1.954.705,75 di tahun 2021 menjadi Rp1.991.105,79 di tahun 2022.

Ketua SBMR, Aris Budiono mengatakan, kenaikan UMK itu tidak sebanding dengan kondisi saat ini. Apalagi kebutuhan semakin besar. Pun harga kebutuhan pokok di pasaran juga mengalami peningkatan.

“Kami sangat kecewa karena merasa buruh ini dijadikan tumbal krisis kaum penguasa,” katanya, Rabu (1/12/2021).

Menurutnya, dengan UMK yang masih berada di bawah Rp2 juta per bulan, maka terjadi ketimpangan sosial yang sangat jauh. Dirinya berharap pemerintah mendengar aspirasi kaum buruh. Jika tidak, kata Aris, SBMR akan berkonsolidasi dengan kaum buruh di Madiun Raya untuk membuat gerakan yang lebih besar.

“Jangan teriak slogan mengentaskan kemiskinan, sedangkan upah saja rendah. Jadi kami sangat menolak keputusan upah itu,” ujarnya.

Berdasarkan Keputusan Gubernur Jatim Nomor 188/803/Kpts/013/2021 disebutkan bahwa UMK tersebut berlaku bagi pekerja yang memiliki masa kerja kurang dari satu tahun. Pun pengusaha yang telah memberikan upah lebih tinggi dari ketetapan UMK, dilarang mengurangi atau menurunkan upah.

Seperti diketahui, UMK Kota Madiun tahun 2022 berada di urutan ke 25 dari 38 kota/kabupaten di Jatim. Sekaligus tertinggi di Karesidenan Madiun. Posisi kedua, Kabupaten Ngawi Rp1.962.585,99. Pacitan Rp1.961.154,77. Kabupaten Madiun Rp1.958.410,31. Magetan Rp1.957.329,43 dan Ponorogo Rp1.954.281,32.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar