Petilasan Patih Gringsing di Kutho Miring

KBRN, Madiun: Tidak banyak yang tahu di Kota Madiun terdapat Petilasan Doro Patih atau Patih Gringsing. Lokasinya berada di Kutho Miring, Jalan Setinggil, Kelurahan Demangan. Konon di Setinggil itu merupakan pendopo kerajaan. Di mana Patih Gringsing merupakan pemimpin perang pada jaman Prawirodirjo I melawan Belanda.

Tokoh masyarakat setempat, Budi Santosa mengatakan, keberadaan petilasan tersebut akan terus di uri-uri. Apalagi sejauh ini banyak masyarakat luar daerah yang datang ke lokasi untuk mendapat berkah. Warga setempat pun antusias untuk melakukan perawatan. Bahkan warga juga berinisiatif mengagendakan kegiatan bersih desa maupun ritual lainnya di lokasi tersebut.

“Ini menurut sejarah keberadaan petilasan ini antara tahun 1700-1800 Masehi. Jadi dulu itu darahnya Patih Gringsing tercecer disini dan kuda putih itu mati disini. Dan justru banyak orang luar kota yang datang kesini dan dijadikan tempat jujugan wisata religi,” Ujarnya, Rabu (22/9/2021).

Budi menyatakan, awal mulanya warga mengetahui adanya petilasan Patih Gringsing justru dari warga luar kota yang datang ke lokasi. Saat itu warga sekitar hanya diundang selamatan. Sedangkan keberadaan petilsan tersebut dulu tak terawat bahkan nyaris tidak terlihat karena berada dibawah gundukan tanah dan sampah. Apalagi petilasan patih Gringsing itu bukan berada di lahan milik pemda, melainkan tanah pribadi milik warga.

“Masyarakat kini sudah tahu bahwa ada petilsan mudah-mudahan ada perhatian dari pemkot sehingga bisa digunakan sebagai lokasi wisata religi,” tambahnya.

Menindaklanjuti hal itu Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Madiun, Agus Purwowidagdo menyatakan, pihaknya akan melakukan pertemuan dengan ahli waris, masyarakat sekitar, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Sebab petilasan Patih Gringsing berada di lahan milik perseorangan. Pertemuan itu untuk membicarakan kepemilikan lahan, agar langkah yang akan diambil pemkot kedepan tidak menyalahi aturan.

Pun untuk melakukan penelitian, pihaknya bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan. Termasuk meneliti benda kuno yang saat ini dirawat warga Setinggil, sekaligus melakukan eskavasi di sekitar Sendang Kuncen. Tujuannya untuk memastikan apakah tiga lokasi itu menjadi cagar budaya.

“Dari pemkot Madiun tidak memiliki keahlian untuk meneliti apakah itu nanti menjadi cagar budaya atau tidak. Namun kita masih menduga lokasi itu menjadi objek cagar budaya. Makanya tahun ini kita teliti sama-sama dengan pihak Trowulan, karena di lokasi itu nanti menjadi salah satu kawasan destinasi religi,” terangnya.

Adapun selain Petilasan Patih Gringsing, di Setinggil Kelurahan Demangan juga terdapat belasan benda kuno yang masih di rawat warga di rumahnya masing-masing. Diantaranya Watu Lesung dan lumpang, watu lesung dan watu gapuro, watu lumpang berukuran besar dan kecil serta batu batas.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00