Menengok Hasil Kerajinan Warga Binaan di Balik Jeruji Lapas I Madiun

KBRN, Madiun : Keterbatasan tidak menjadi penghalang seseorang untuk berkreatifitas. Itulah yang dilakukan puluhan warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas I Madiun. Walaupun mereka sedang menjalani masa pidana, tak lantas menyurutkan niatnya untuk melestarikan budaya. Salah satunya membuat batik tulis beraneka jenis.

Diantara puluhan WBP, ada nama Slamet Arifin. Dengan lihainya, tangan kanan memegang canting berisi cairan yang kemudian dituangkan di kain bergambar pola yang berada di tangan kirinya. Kepada RRI, dirinya menjelaskan sedari awal proses membuat batik. Kali pertama, membuat pola atau motif batik menggunakan pensil, kemudian dicanting. Sehari setelahnya dilakukan pewarnaan terhadap pola yang dibuat. Berikutnya direndam untuk menghilangkan bekas canting yang terlalu timbul. Kemudian dijemur.

Pria 30 tahun asal Surabaya itu biasanya membatik bersama dua rekannya yang tergabung satu tim. Untuk menuntaskan satu motif kain batik, diperlukan waktu sekitar lima hari. Ia pun merasa bersyukur mendapat pelatihan, sehingga ketika keluar dari lapas memiliki keahlian yang mumpuni.

“Batik yang pernah saya buat itu motif naga, daun sama merak. Senang sih ada pelatihan begini. Karena ada kegiatan di dalam lapas. Jadi nggak jenuh nunggu di kamar terus. Yang diharapkan ya setelah keluar dari sini bisa membuat usaha sendiri,” katanya, Selasa (21/9/2021).

Batik : Kalapas I Madiun, Asep Sutandar (Tengah) menunjukkan hasil batik kreasi warga binaan.

Senada juga dikatakan Wayan seorang WBP lainnya di Lapas I Madiun. Seniman tato asal Pulau Dewata Bali ini semenjak menjalani masa pidana, dirinya beralih menuangkan ide kreatifitasnya pada kain yang polanya diubah menjadi batik. Meski cukup sulit membatik dibanding melukis pada kulit tubuh, ia mengaku sangat menekuni sehingga memiliki kegiatan bermanfaat yang bisa menjadi bekal ketika keluar dari lapas.

“Kalau dulu kan saya biasa bikin tato waktu di Bali. Sekarang disini bikin batik. Sebenarnya sulit batik. Gampang-gampang susah sih kalau batik, karena harus punya imajinasi sendiri. Tapi ya saya senang, disini ada kegiatan dan ikut-ikut pelatihan juga,” terangnya.

Sementara itu Kepala Lapas Kelas I Madiun, Asep Sutandar menyatakan, pembinaan di lapas berkonsentrasi pada dua hal. Yakni pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian. Pembinaan kepribadian diantaranya diberikan penyuluhan, sosialisasi hingga pembinaan kerohanian. Sedangkan pembinaan kemandirian, termasuk di dalamnya membatik. Dengan kegiatan itu harapannya karya yang mereka hasilkan bernilai ekonomis tinggi. Meski pelatihan membatik baru dilakukan dua bulan terakhir, setidaknya sudah ada 30-40 karya yang telah dihasilkan warga binaannya dengan beraneka motif. Pelatihannya bekerja sama dengan UPT Balai Pelatihan Kerja Ponorogo.

“Memang perlu ketelitian untuk membuat batik tulis ini. Jadi kita ingin lebih luas lagi merekrut warga binaan di dalam melakukan pembinaan kemandirian ini. Sementara ini memang hanya ada 30 WBP yang kami rasa mereka memiliki keahlian di bidang ini. Kedepan jumlahnya akan kita tambah, mengingat kita juga memiliki tempat yang cukup luas. Ini semata-mata untuk meningkatkan kualitas warga binaan, sehingga ketika kembali ke masyarakat mereka memiliki keahlian,” ungkapnya.

Pada sisi lain, karya batik yang dihasilkan Lapas I Madiun mendapat apresiasi dari jajaran atas. Wakil Menteri Hukum dan HAM RI, Edward Omar Sharif Hiariej saat berkunjung ke Lapas I Madiun beberapa waktu lalu menyatakan, pembuatan batik oleh warga binaan merupakan contoh kongkrit hasil pembinaan di lapas. Hal itu menurutnya harus terus didorong dan dikembangkan sehingga ketika kembali di tengah-tengah masyarakat, memiliki keterampilan yang bermanfaat. Tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga orang lain.

“Saya kira ini suatu percontohan yang baik ya. Karena tugas lapas itu tidak mudah. Ada tiga tugas yang paling susah. Pertama, memastikan ketika warga binaan dikembalikan ke masyarakat dia bisa diterima. Kedua, harus bisa memastikan bahwa yang kembali ke masyarakat itu tidak mengulangi perbuatannya. Dan ketiga, harus bisa dipastikan bahwa yang kembali ke masyarakat itu bisa bermanfaat. Seperti membatik ini adalah sebagai hasil kongkrit pembinaan di lapas,” ujarnya.

Empuk : produksi L'Pasma Bakery, kue buatan warga binaan Lapas I Madiun.

Adapun selain membatik, WBP Lapas I Madiun juga mendapat pelatihan membuat aneka kue. Bahkan saat ini terus berproduksi, per hari mampu menghasilkan 200 pcs roti yang diberi nama L’Pasma Bakery. Lima jenis kue tersebut juga dihasilkan dari tangan-tangan kreatif WBP wanita Lapas I Madiun bekerja sama dengan salah satu UMKM di Kota Madiun. Tidak hanya dikonsumsi di internal lapas maupun disuguhkan ketika ada tamu, melainkan telah dipasarkan ke sejumlah instansi vertikal yang ada di Madiun maupun luar daerah.

Karya lainnya, WBP Lapas I Madiun juga dibekali pelatihan meubeler. Seperti membuat meja, kursi, almari serta aneka hand craf lainnya yang kualitasya tidak kalah bersaing dengan produk di toko-toko kerajinan. Pun di bidang peternakan, perikanan dan pertanian sampai saat ini juga terus berlanjut. Diantaranya budidaya ikan lele, budidaya kangkung dan aneka jenis sayuran lainnya di dalam kompleks Lapas I Madiun.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00