FOKUS: #TANGGAP BENCANA

Menanam Pohon, Menjaga Bumi

Editorial RRI Madiun, Minggu (28/11/2021)

KBRN, Madiun : Dalam beberapa hari terakhir, berbagai pihak mulai siaga terhadap kemungkinan terjadinya bencana, sejalan dengan masa pancaroba datangnya musim penghujan.

Sudah terjadi pula secara nyata, bencana banjir bandang, angin puting beliung dan longsor diberbagai daerah, yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian material tidak sedikit.

Pemerintah melalui stake holder terkait, TNI, Polri, lembaga swadaya masarakat relawan maupun simpatisan dengan segala kekuatan dan pendukungnya, telah digerakan untuk bersama-sama bergandeng tangan, mengantisipasi dan menangani jika bencana terjadi.

Komitmen yang dibangun, diantaranya ditandai dengan gelar apel bersama maupun latihan dan simulai Search And Recue, atau pertolongan dan penyelamatan saat darurat.

Apel dan latihan bersama, menyiagakan personil, peralatan pendukung dan juga logistik, memang sangat penting untuk jangka pendek menghadapi kemungkinan terjadinya bencana.

Tetapi kiranya tidak kalah penting, untuk juga mengantisipasi datangnya bencana, terutama banjir dalam jangka panjang.

Tidak dapat dipungkiri, penebangan pohon di hutan dan daerah tangkapan air, berkontribusi besar terhadap bencana banjir dimana-mana.

Dari sebuah penelitian menunjukan, pohon menjadi mediasi siklus air dengan bertindak seperti pompa alam biologi, pohon menyedot air dari tanah dan menyimpannya ke atmosfer dengan mengubahnya dari cairan menjadi uap.

Dengan siklus tersebut, hutan berkontribusi pada pembentukan awan dan curah hujan. Pohon juga mencegah banjir dengan menampung hujan sehingga tidak mudah mengalir ke danau dan sungai atau daratan yang lebih rendah.

Akar pohon mampu menahan tanah ditempat seharusnya tersapu oleh hujan, dan membantu komunitas mikroba berkembang, berfungsi sebagai penyubur tanah.

Tanpa pohon, daerah yang sebelumnya berhutan akan menjadi lebih kering dan lebih rentan terhadap kekeringan ekstrem. Ketika hujan datang, banjir akan menjadi bencana. Erosi besar-besaran akan berdampak pada lautan, sedimenya dapat menimbun terumbu karang dan habitat laut lainnya.

Tetapi faktanya, Jumlah hutan semakin menyusut oleh berbagai sebab, antara lain pembalakan liar, perambahan hutan, pengurangan kawasan hutan atau deforestasi untuk kepentingan pembangunan dan penggunaan lahan yang dilakukan secara masif dan tidak didasarkan pada prinsip keberlanjutan.

Akibatnya pasti, hutan menjadi rusak dan tidak dapat lagi menyerap karbon dengan baik, membuat atmosfer bumi semakin panas dan mempercepat terjadinya perubahan iklim.

Sebenarnya, Pemerintah Indonesia sudah mengambil sikap untuk menanggulangi kerusakan hutan dengan mengajak masyarakat menanam pohon, bahkan tidak sekadar mengajak, tetapi Presiden tahun 2008 telah mengeluarkan keputusan nomor 24, yang menetapkan tanggal 28 November sebagai hari menanam pohon Indonesia.

Oleh karena itu, 28 November hari ini, kiranya saat yang tepat untuk mengimplementasikan hari menanam pohon Indonesia, menghijaukan kembali nusantara.(AB/YAF/Foto : Istimewa)

Komentar ditulis oleh Wakil Pemimpin Redaksi (Wapemred) RRI Madiun Imam Suyanto.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar