People Pleasing dan Kelelahan Emosional

  • 08 Feb 2026 17:10 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Berbagai kajian psikologi sosial dan kesehatan mental yang dilansir dari berbagai sumber menunjukkan bahwa people pleasing berkaitan erat dengan kelelahan emosional yang berkepanjangan. 

People pleasing merujuk pada kecenderungan seseorang untuk terus menyenangkan orang lain, bahkan dengan mengorbankan kebutuhan dan batasan diri sendiri. Dalam kehidupan modern yang menuntut harmoni sosial dan citra positif, perilaku ini sering dianggap sebagai sikap baik dan dewasa. Padahal, di baliknya tersimpan tekanan emosional yang tidak sedikit.

Individu dengan kecenderungan people pleasing kerap kesulitan mengatakan tidak. Mereka merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain dan takut dianggap egois atau mengecewakan. Akibatnya, keputusan yang diambil sering kali tidak mencerminkan kebutuhan pribadi. Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat individu kehilangan koneksi dengan emosi dan keinginannya sendiri.

Kelelahan emosional muncul ketika upaya menyenangkan orang lain dilakukan secara terus-menerus tanpa ruang pemulihan. Energi mental habis untuk mengelola ekspektasi, menjaga citra, dan menekan konflik. 

Secara perlahan, muncul rasa lelah, jengkel tersembunyi, hingga perasaan hampa. Ironisnya, kelelahan ini sering tidak terlihat karena individu tetap tampak ramah dan kooperatif.

Media sosial dan budaya sosial modern turut memperkuat pola ini. Dorongan untuk selalu responsif, suportif, dan “hadir” membuat batas personal semakin kabur. 

Apresiasi sosial sering datang ketika seseorang mengalah, bukan ketika ia menjaga dirinya sendiri. Dalam situasi seperti ini, people pleasing berubah dari pilihan menjadi kebiasaan yang melelahkan.

Menurut opini penulis, people pleasing bukan sekadar sifat baik, melainkan mekanisme bertahan yang perlu disadari dan dievaluasi. Menjaga hubungan sosial penting, tetapi tidak seharusnya dibayar dengan kelelahan emosional yang kronis. 

Belajar menetapkan batas dan menghargai kebutuhan diri sendiri adalah bentuk kesehatan mental, bukan egoisme. Relasi yang sehat justru lahir dari individu yang utuh secara emosional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....