Gerakan Cinta Lhokseumawe Sebut Kinerja Walikota Dua Periode Buruk

Kelompok Gerakan Cinta Lhokseumawe saat menggelar konferensi pers di Cafe Kota Petro Dolar, Minggu (03/07/2022). (Foto: RRI.co.id/Ist)

KBRN, Lhokseumawe: Kelompok yang menamakan diri "Gerakan Cinta Lhokseumawe" menyebut Kinerja Walikota Lhokseumawe, Suadi Yahya buruk dan tidak merakyat.

Bahkan, dua periode menjadi orang nomor satu di kota itu, Suadi disebut hanya mampu memperkaya diri dengan melahirkan sejumlah proyek mubazir yang menguras keuangan negara. 

Demikian pendapat Kelompok tersebut melalui ketuanya Mukhlis Azhar pada konfrensi pers di Cafe Kota Petro Dolar Jalan Merdeka, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Minggu (03/07/2022). 

Mereka juga mengenakan kostum oblong warna hitam bertuliskan "Gerakan Cinta Lhokseumawe" saat melakukan pertemuan lalu menggelar konferensi pers.

Mukhlis yang akrab sapa Pak Ulis ini mengatakan, kepimpinan Walikota Lhokseumawe Suadi Yahya selama dua periode dan sempat menjadi wakil walikota selama satu periode, tidak memberi arti terhadap kemajuan pembangunan dan peningkatan ekonomi rakyat.

"Selama 15 tahun Suadi Yahya memimpin dinilai tidak ada sama sekali kemajuan  atau membuat perubahan yang baik bagi Kota Lhokseumawe," kata Pak Ulis yang juga mantan Anggota DPRK Lhokseumawe itu. 

Bahkan lanjut dia, Kota Lhokseumawe bagai tak bertuan hingga masyarakat miskin tak tahu harus mengadukan nasibnya yang terabaikan oleh pemerintah setempat. 

Wajah Ibukota Lhokseumawe juga kian usang karena tidak mengalami perawatan, atau perubahan sebab  tidak ada upaya pemerintah untuk mempercantiknya dengan hiasan yang enak dipandang mata. 

Bukti lain yang paling nyata terjadi adalah, selama ini kinerja pemerintahan hanya memperkaya pejabat dan mengabaikan nasib masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Ini ditandai dengan banyaknya pembangunan proyek yang terbengkalai dan berjalan ditempat.

Diantaranya Pasar Kios Ponsel, Pasar Buah Desa Keude Aceh, Pasar Sayur Mayur di Meunasah Mesjid Cunda, Pasar Induk Desa Ujung Blang dan lainnya.

Proyek yang sudah rampung dibangun ini tak mampu difungsikan untuk kepentingan masyarakat dan sama sekali belum dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar