Kejari Aceh Utara kembalikan Barang-bukti Kulit dan Tulang Harimau ke BKSDA Aceh

KBRN, Aceh Utara : Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh  Utara, mengembalikan barang bukti (BB) perkara perdagangan satwa dilindungi berupa kulit  dan tulang belulang harimau  ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh

Barang bukti  tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Kajari Aceh  Utara, Pipuk Firman Priyadi, kepada pihak BKSDA di wakili Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Madya BKSDA Aceh, drh Taing Lubis.Saat penyerahan tersebut turut disaksikan Kasi Pidum Kejari Aceh Utara, Yudhi Permana, dan Jaksa Pratama Harri Citra Kesuma, di halaman Kejari setempat, Selasa (13/10/2020).

Kepala Kejari Aceh  Utara, Pipuk Firman Priyadi kepada RRI menyebutkan, penyerahan barang bukti berupa kulit dan tulang belulang harimau dilakukan setelah adanya proses persidangan yang telah adanya putusan inkrach dari pengadilan pada bulan Februari lalu.

“Dalam kasus inid ada lima pelaku yang terlibat yaitu Ahmad Mardani (32) warga Aceh Timur, Muzakir (30) warga Aceh Utara, Husen (20) warga Sumatera Utara (Medan), kemudian Apes (40) dan Iran Susanto (30) keduanya Warga Aceh Tamiang, masing-masing di vonis 14 bulan penjara.”kata Pipuk Firman. Selasa (13/10/2020).

Sementara, Pengendali ekosistem hutan ahli madia BKSDA Aceh, drh Taing Lubis, menyebutkan bedasarkan hasil identifikasi dari barang bukti kulit tersebut, harimau jenis betina berusia 8 tahun, pelaku menangkap dengan cara memasang perangkap jerat, karena ada bekas di bagian kaki.

"Barang Buktiini  akan dilakukan regisrasi terlebih dahulu, jika kualitasnya masih bagus akan dimuseumkan atau kepentingan konservasi lainnya, jika kualitasnya tidak bagus akan dimusnahkan,"terangnya.

Disebutkan, ada tiga lokasi barang bukti rampasan dan sudah berkekuatan hukum yang kita jemput langsung hari ini, masing-masing di Aceh  Utara, berupa  kulit  dan tulang belulang harimau, kemudian di Aceh Timur berupa kulit harimau, dan Kabupaten barang bukti trenggiling.

"Perburuan harimau sumatera masih terjadi di Aceh dan sebagian besar kulit dan tulang belulang harimau ini dijual ke luar Aceh dengan harga yang menggiurkan. Namun harapan kita aksi perburuan dan perdagangan satwa dilindungi ini tidak lagi terulang. Mudah-mudahan kasus ini menjadi kasus yang terakhir di Aceh,” pungkasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00