Dialog HPN, Pengamat Sarankan Kekerasan Pers Dilapor Juga Ke Komnas HAM

KBRN, Lhokseumawe: Menyongsong peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2020, sejumlah pengurus organisasi Kewartawanan seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Persatuan Wartawan Aceh (PWA), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) hingga ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) yang bermarkas di Kota Lhokseumawe maupun Kabupaten Aceh Utara, masih mempersoalkan kasus kekerasan terhadap Pers yang masih terjadi dalam wilayah Aceh, antara tahun 2019 hingga 2020.

Gabungan Wartawan atau Jurnalis dari beberapa organisasi tersebut, belum lama ini juga kembali turun ke jalan menggelar aksi damai di Pusat Kota Lhokseumawe dengan menyuarakan usut tuntas kekerasan terhadap pers, terutama kasus pembakaran rumah Asnawi, Wartawan Koran Harian Serambi Indonesia di Kutacane Aceh Tenggara (Agara), yang sampai kini belum ada kejelasan hukum terhadap pelakunya.

Demikian pula kasus pemukulan dan pengeroyokan yang dialami Dedi Iskandar, juga Wartawan Koran Harian Serambi Indonesia di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat.

RRI Lhokseumawe juga membahas khusus kasus kekerasan terhadap Pers itu dalam Dialog Interaktif Jum'at (07/02/2020) pagi, berjudul "Kebebasan Pers Tapi Kekerasan Terhadap Wartawan Masih Terjadi di Aceh" dengan narasumber yang hadir ke studio Pro-1 RRI Lhokseumawe, Sekretaris PWI Aceh Utara, Yuswardi Mustafa, dan Pengamat Komunikasi, yang juga Dosen Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Kabupaten Bireuen, Dr Fauzi Abubakar.

Tidak hanya itu, ada juga narasumber lainnya namun tersambung melalui Line Telpon, yakni Kepala Harian Serambi Indonesia Biro Lhokseumawe dan Aceh Utara, Jafaruddin dan Wartawan korban kekerasan, Dedi Iskandar.

Menurut Kabiro Koran Harian Serambi Indonesia Biro Lokseumawe dan Aceh Utara, Jafaruddin, tahun 2019 kasus kekerasan pers dialami Asnawi, rumahnya dibakar, termasuk harta benda milikinya seperti mobil juga hangus dilalap api. Masih beruntung, Isteri bersama anaknya dapat menyelamatkan diri.

Kemudian kekerasan berlanjut pada awal tahun 2020, bertambah lagi dan terjadi di Meulaboh yang dialami Teuku Dedi Iskandar. Dia dianiaya dan dikeroyok oleh sekelompok pihak.

Pihaknya melihat memang kasus kekerasan kepada wartawan di Aceh cenderung meningkat lagi, setelah pada tahun 2017 dan 2018 yang lalu tak pernah terjadi. Teman-teman di Lhokseumawe juga sudah berupaya melakukan semacam desakan kepada aparat penegak hukum supaya kasus ini diungkap sampai tuntas.

"Tapi, persoalannya lagi-lagi banyak sekali kasus-kasus yang terjadi terhadap pers itu entah kenapa seperti sulit diungkap. Misalnya kasus terhadap Asnawi itukan sampai sekarang belum ada titik terangnya meskipun polisi telah melakukan pemanggilan saksi, tim puslabfor juga sudah melakukan investigasi ke lokasi, namun persoalan lagi-lagi kita harus sebutkan sampai sekarang belum ada titik terang, belum ada pelaku yang diamankan dalam kasus tersebut", keluh Jafaruddin.

Sementara, Pengamat Komunikasi, Dr Fauzi Abubakar, menyarankan agar beberapa kasus kekerasan pers di Aceh itu, dilaporkan saja ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

"Tunggu, saya ingin bertanya dulu kepada PWI. Kekerasan begini termasuk pelanggaran HAM atau tidak. Kalau masuk dalam kategori pelanggaran HAM, maka dilapor saja ke Komnas HAM", pinta Fauzi Abubakar menyatakan pendapatnya dalam dialog tersebut.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00