Miris, Bersama 5 Anak Pasutri Miskin Bertahan Hidup Di Gubuk Reyot

KBRN Lhokseumawe: Disaat Pemerintah menggelontorkan dana desa bernilai fantastis. Namun ternyata sejauh ini masih banyak ditemui kondisi kehidupan warga miskin yang harus berjuang bertahan hidup seadanya di tengah pandemi Covid 19.

Hidup terlunta lunta dibawah garis kemikinan dijalani Pasutri Naraida 43 tahun dan zulkifli Warga Kelurahan desa Ujong Blang Kecamatan Banda Sakti Lhokseumawe, menjadi salah satu potret buram dari sekian banyak kehidupan pasutri miskin yang harus berjuang hidup ditempat tidak layak huni.

Hanya dibutuhkan waktu sekitar 10 atau 15 menit waktu untuk menjangkau lokasi Gubuk pasutri miskin ini dari pusat Keramaian kota lhokseumawe

,”kalau jam segini sore Suami masih belum pulang kerja,sehari narek becak upah angkut barang jika disuruh orang, dia pergi jam 9 pulang jam 6 sore , biasa bawa pulang 1 bambu beras juga ikan, apa yang dibawa pulang suami itu yang saya masak,:’ Ujar Naraida sambil menyuapi kedua anaknya yang masih kecil.

Miris memang jika melihat kondisi kehidupan dijalani pasutri miskin terpaksa tinggal ditempat tidak layak huni dilokasi terpisah dari perumahan penduduk, tepatnya dikawasan lahan kosong milik warga desa setempat.

,’ada rumah oran tua rumah mamak, tapi tidak dikasih untuk saya, jadi saya terpaksa tinggal digubuk ini daripada tak ada  tempat tinggal. inipun tanah orang kami numpang,"

Satu kamar tidur dan satunya dijadikan dapur untuk masak. Sekilas terlihat tidak ada yang istimewa di dalam gubuk dibangun seadanya berbahan seng bekas,  bahkan Mereka tidak memiliki tempat tidur, sehingga mereka hanya tidur di selembar kasur yang langsung diletakkan di atas lantai tanah.

Bersama lima anak yang masih kecil , di gubuk kecil inilah pasutri misikin pasangan nuraida dan zulkifli sehari hari harus bertaruh hidup, tanpa pernah putus asa meratapi nasib. Hidup  tenang tanpa ada keributan dalam rumah tangga menjadi sebuah kebahagiaan diidamkan olehnya.

,”Saya ibu rumah tangga, tuk apa mikir yang panjang panjang yang penting rumah tangga gak ribut berengkar selalu, apa adanya apa yang dibawa puang suami itu yang kami makan,”

Dari rezeki yang diperoleh sebagai buruh harian, ia bersama suaminya selalu mencoba menyisihkan sedikit uang yang rencananya akan dipergunakan untuk memperbaiki  tempat tinggal ditempati bersama kelima anaknya yang masih kecil

,’Kalau ada duit lebih suami dikasih untuk saya simpan,Kedepan kalau ada duit mau bikin rumah sendiri, inipun tanah tanah oran kami numpang dirikan gubuk,’

Selain menggantungkan harapan dari hasil kerja keras suami sebagai tukang becak, Nuraida mengaku sagat beruntung jika mereka masih punya seorang putra bernama Riski kini berusia 16 tahun ikut membantu sebagai ponopang tulang punggung keluarganya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00