Fenomena Hari Tanpa Bayangan, Suhu Terasa Lebih Menyengat di Aceh

Pengamatan Pergeseran Matahari. (Foto/Dok. BMKG)

KBRN, Aceh Utara: Hari tanpa bayangan adalah salah satu fenomena alam di suatu tempat tertentu yang mana seseorang atau benda lain apabila berdiri tegak akan kehilangan bayang-bayangnya, ketika Matahari berada pada posisi paling tinggi di langit.

Dalam kondisi seperti ini, bayangan akan jatuh tegak lurus karena bertumpu pada objek itu sendiri.

Secara umum masyarakat lazim menyebut sebagai fenomena bayangan yang hilang atau tanpa bayangan, kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara Malikussaleh, Aceh Utara, Siswanto, kepada RRI, Selasa (07/09/2021).

Dalam Ilmu Meteorologi lanjutnya, hari tanpa bayangan tidak memberikan dampak signifikan pada iklim ataupun cuaca, karena peristiwa ini akan terjadi secara periodik dalam 1 (satu) tahun berulang 2 (dua) kali sebagai akibat adanya gerak semua matahari.

Namun pada saat fenomena hari tanpa bayangan terjadi, Intensitas Cahaya Matahari yang diterima Permukaan Bumi akan lebih maksimal.

"Hal itu karena posisi Matahari akan tegak lurus dengan permukaan bumi. Selain itu, kadar sinar ultraviolet (UV) juga akan lebih maksimum jika dibandingkan dengan hari yang lain", ujarnya.

Suhu udara pada siang hari juga akan terasa lebih panas menyengat atau terik. Terlebih apabila saat puncak hari tanpa bayangan dengan kondisi cuaca cerah tanpa awan, maka akan terasa lebih panas jika dibandingkan dengan hari biasanya.

Hari Tanpa Bayangan Ini dapat juga digunakan Sebagai dasar Untuk Menghitung Waktu Sholat Dzuhur.

Dengan Kata Lain Bisa digunakan Sebagai Media Untuk Melakukan Kalibrasi Waktu Sholat di masing - masing lokasiSholat Dzuhur dilaksanakan setelah tergelincirnya matahari dari Titik Zenith.

"Zenith yaitu titik di angkasa yang berada persis di atas pengamat. Kedudukan zenith di angkasa tergantung pada arah gaya gravitasi bumi di tempat pengamatan", pungkas Siswanto.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00