Penghilangan Hutan untuk Sawitnisasi di Aceh Utara serta Dampaknya

Hutan Cot Girek Aceh Utara (Foto: Google.com)

KBRN, Aceh Utara: Sebuah hasil Penelitian dan Riset yang dilakukan Dosen Ilmu Antropologi, Universitas Malikussaleh (Unimal) Teuku Kemal Pasya, S.Ag., M.Hum, menunjukkan tata lingkungan hidup (Ekologis) Kabupaten Aceh Utara, sudah rusak parah.

Riset yang dibiayai Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unimal menyasar tentang Krisis Lingkungan dan Dampak Sawitnisasi di Aceh Utara.

"Riset itu kemudian melihat tentang kemerosotan Ekologis terutama yang terjadi di Aceh Utara, sehingga menyebabkan daerah ini sangat rawan terjadinya bencana baik di musim kering maupun di musim penghujan", kata Teuku Kemal Pasya, kepada RRI, Minggu (15/01/2022).

Kemudian pihaknya juga menemukan dalam Riset tersebut adanya masalah tentang aspek Ekologis yakni RTRW Aceh Utara yang belum lagi direvisi sejak tahun 2014.

Problem ini semakin memprihatinkan karena ternyata proses Deforestasi dan Penghilangan Hutan serta Politik Moratorium Sawit yang sebenarnya sudah dicanangkan sejak tahun 2017 tidak terjadi.

"Malah yang terjadi adalah perluasan HGU, izin HGU, kemudian juga ada izin HTI yang ternyata kita lihat ada penyimpangan secara peraturan sehingga itu semua beresultante menjadi krisis lingkungan di Aceh Utara", paparnya.

Hal itu tambah Kemal, mengakibatkan terjadinya banjir Bandang yang cukup besar di Aceh Utara. Terlebih lagi ketika ternyata pada Proyek Waduk Raksasa Keureuto juga tidak berjalan efektif.

"Waduknya sempat jebol sehingga akhirnya merendam lebih dari 16 Kecamatan di Aceh Utara. Jadi, Banjir tidak lepas dari Politik Ekologis yang salah kaprah atau tidak diperhatikan dengan cukup penting. Seolah-olah dengan kemudian menerabas Hutan, serta memberikan izin-izin sawit yang serampangan", pungkasnya pula.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar