Puisi Bantal Tanpa Kapas Dalam Kenangan

KBRN, Lhokseumawe: Ibarat bunga kadang berkembang indah, kadang tersungkur layu.

Kadang-kadang tersiram oleh hujan angin lalu.Kadang tarbakar tembikar matahari jika kau hilang, kan kucari lagijika kau rusak akan ku perbaiki.

Jika kau pergi, kan ku susuri tapi jika kau mati, aku takkan sudi mengikutimu dan aku berteriak dengan lisan hatiku dengan keras bangkitlah!! bangunlah!! bersama puing-puing ini.

Besok lusa kita buat perhitungan lagi.

Begitulah naskah puisi berjudul "Dalam Bantal Tanpa Kapas" karya Enzuharisman, S.Pd yang kini hanya tinggal kenangan.

Sang Seniman sudah pergi untuk selama-lamanya menghadap Ilahi Rabbi dalam tragedi kecelakaan tunggal di Jalan Raya Nagan Raya menuju Blang Pidie, tepatnya kawasan Desa Gunung Samarinda, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat.

"Puisi Dalam Bantal Tanpa Kapas adalah puisi terakhir dari Guru SMP Negeri Sabang tersebut", kenang Hamdani Mulya, seorang Guru di Kota Lhokseumawe yang juga sahabat karib Almarhum di Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia (Gemasastrin) FKIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Angkatan 1998, kepada RRI, Rabu (15/12/2021).

Lanjut Hamdani, kejadian yang memilukan itu terjadi pada hari Senin, 12 Desember 2021, sekira pukul 16.30 WIB.

Saat itu Almarhum, menuju Aceh Selatan berencana menjenguk orangtuanya yang sedang sakit. Namun ditengah perjalanan sang Seniman mengalami kecelakaan tunggal.

"Enzuharisman merupakan alumni FKIP, Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh", tutup Hamdani.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar