Pasien Gangguan Jiwa Meningkat di Lhokseumawe

KBRN Lhokseumawe: Diantara berbagai persoalan tidak terselesaikan, seperti konflik dalam rumah tangga, apalagi tekanan Ekonomi Ditengah situasi Pandemi  Covid19, dikhawatirkan akan berpengaruh pada perubahan prilaku sesorang sebagai penderita Gangguan Jiwa atau disebut (ODGJ) Orang Dengan Gangguan Jiwa.  Kondisi tersebut, dikatakan Psikolog Kesehatan dari Fakultas Kedoktoran Unimal Nursan Junita, paling rentan dialami (ODMK). Orang Dengan Masalah jiwa. 

Selain mendukung tindakan pengobatan, Nursan Junita juga menyarankan Pemerintah Daerah untuk mengambil tindakan pencegahan melalui Pembentukan Unit Layanan Kesehatan mental Masyarakat disetiap Desa.

,”Meski ODMK ini masih berfungsi cara berpikirnya, namun jika persoalan dihadapi tidak tertanggulangi meraka punya resiko besar kehilangan akan pikiran sehat harus dibawa berobat kerumah sakit, jadi pencegahan paling tepat bisa dimulai dari Unit terkcil didesa sebagai tempat mereka curhat mengungkap perasaan,”sebut Psikolog Nursan Junita.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe melalui Sekretaris, Dokter Hellizar, mengakui adanya jumlah peningkatan angka penderita gangguan jiwa tersbar di 4 wilayah kecamatan kota Lhokseumawe.  Data tahun 2019 Hingga pertengahan tahun 2020, disebutkan Helizar tercatat sekitar 558 Penderita Gangguan Jiwa, mereka tersebar di 4 Wilayah Kecamatan.

selain memberikan bantuan pengobatan,  petugas kesehatan jiwa disetiap Puskesmas dikatakan Dokter Helizar juga melakukan (home visite) Kunjungan kerumah pasien gangguan mental dan kejiwaan yang dirawat jalan ditempat keluarga.

,”’ya kebanyakan itu pasien rawat jalan, tapi ada yang dirawat inap diruang poli jiwa rumah sakit umum cut meutia, sedangkan pasien tidakterkendali akan pikiran sehatnya, itu  terpaksa kita rujuk kerumah sakit jiwa ditingkat propinsi.,” terang Dokter Helizar.

Lebih lanjut  terkait keberadaan penderita gangguan jiwa berkeliaran bebas dijalan raya, dikatakan dokter helizar, bekerja sama lintas sektor dinas Sosial pihak dinas telah melakukan pembetukan tim penangulangan yang ikut melibatkan satpol pp,/ dari sejumlah penderita gangguan jiwa ditemukan tersebut dikatakan kebanyakan berasal dari luar daerah.

,’Jika memang tidak ditemukan identitas keluarga, maka pasien tersebut terpaksa dirujuk kerumah sakit jiwa untuk menjalani pengobatan di RSJ ditingkat Propinsi.,’

Dukungan semua pihak terutama keluarga dikatakan Helizar sangat diperlukan untuk membimbing dan mengatur jadwal pasien minum obat secara teratur, bukan sebaliknya melakukan tindakan penekanan apalagi mengurung pasien jiwa

,”apabila dia pulang dalam keluarga aturlah jadwal minum obat teratur, pasien jangan dikurung apalagi dipasung, karena hal itu akan membuat pasien tidak bisa beriteraksi secara baik, sehingga mereka bisa kembali kambuh',.

Sebagaimana dijelaskan pengamat kesehatan , konflik dalam rumah tangga dan  tekanan ekonomi disertai persoalan tidak tertanggulangi, kadang membuat seseorang kehilangan akan pikiran sehat, sehingg kerap melakukan tindakan diluar kesadaran .

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00