Ini Alasan Kenapa Kelor Dipilih Untuk Penanggulangan Stunting

KBRN,Aceh Tamiang : Daun kelor atau memiliki nama latin Moringa oleifera, termasuk dalam jenis tanaman tropis yang banyak digunakan sebagai obat herbal atau obat tradisional. Hasil penelitian menyebutkan, sekitar 2 gram daun kelor, terdapat setidaknya terdapat 14 kalori dan nutrisi lain, berupa karbohidrat, protein, zat besi, kalium, magnesium, vitamin C, vitamin A, kalsium, dan asam folat. Selain itu, terdapat pula serat, vitamin B, fosfor, tembaga, zink, dan selenium.

Daun kelor banyak digunakan untuk membantu meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui. Namun, tanaman herbal ini juga ternyata baik untuk menunjang kesehatan tubuh. Mulai dari menjaga tekanan darah hingga membantu mencegah penyakit kanker.

Organisasi Pangan Dunia, Food and Agriculture Organization (FAO) sempat memasukkan kelor sebagai Crop of the Month di tahun 2018.

Di Aceh Tamiang, tanaman yang banyak tumbuh di sembarang tempat ini, coba dimanfaatkan untuk penanggulangan stunting pada balita. Adalah Bappeda bersama Pokja IV TP-PKK Kabupaten dan Dinas Kesehatan setempat yang mendorong ujicoba diversifikasi pemanfaatan daun kelor untuk diolah menjadi biskuit dan makanan ringan.  

Analis Gizi Dinas Kesehatan Aceh Tamiang, Wan Inda Kumala, Minggu (23/1/2022), menjelaskan, inovasi daun kelor tersebut berawal dari hasil penelitian yang menyebutkan besaran kandungan zat besi dan kalsium yang dibutuhkan untuk mencegah terjadinya stunting.

“Daun kelor ternyata kaya zat besi dan kalsium. Zat ini sangat dibutuhkan oleh ibu hamil di 1000 hari keemasan seorang anak. Jadi daun kelor ini diolah dalam berbagai bentuk olahan makanan dan minuman untuk dikonsumsi para balita”, ujar Inda.

Untuk mengakselerasi diseminasi produk olahan kelor yang jadi inovasi daerah ini, dibentuklah Kusibuk (Kelompok Usaha Kreasi Ibu-ibu Kreatif), yang berisi para perempuan kreatif yang berjuang menegakkan ekonomi rumah tangga di masa pandemi ini. Kelompok para ibu tangguh ini diarahkan untuk membentuk usaha kreatif berbasis kearifan lokal, termasuk diversifikasi pengolahan daun kelor.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar