Spirit Perjuangan di Rumoh Cut Meutia

KBRN,Aceh Utara : Di hari-hari biasa, rumoh (rumah) sekaligus museum pahlawan nasional, Cut Nyak Meutia, di Gampong (Desa) Masjid Pirak Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, terlihat sepi. Pintu kayu yang menjulang tinggi tergembok. Hampir tidak ada manusia yang melintas, kecuali seorang perempuan separuh baya yang membuka sebuah warung di depan museum.

Untuk bisa masuk ke ruangan, harus memiliki kontak sebelumnya dengan Idris, penjaga rumoh Cut Meutia. Nomor kontaknya tertera di depan pintu gerbang dengan cat yang sudah aus sehingga harus lebih teliti melihatnya jika tidak ingin salah. Beruntungnya kami sudah kontak dengan dengan Teuku Syarifuddin yang memahami tentang sejarah dan silsilah keluarga Cut Meutia.           

Rumoh Cut Meutia terletak di areal seluas sekitar 1 hektar di Gampong Masjid Pirak Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, atau sekitar 33 kilo meter dari Kota Lhokseumawe dengan lama tempuh sekitar 1 jam. Dari pinggiran Jalan Medan – Banda Aceh, pengunjung bisa memilih jalan melalui Simpang Ceubrek Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara. Terdapat beberapa pilihan jalan menuju Rumoh Cut Meutia, tetapi jalan melalui Kecamatan Tanah Luas yang bersebelahan dengan Kecamatan Matangkuli, relatif lebih mudah.  

Tidak terlalu banyak penanda jalan menuju Rumoh Cut Meutia, dan itu menjadi salah satu kesulitan bagi pengunjung kalau tidak rajin bertanya. Banyak tikungan yang harus dilintasi sepanjang jalan di beberapa desa. Pemandangan berganti-ganti dari perumahan penduduk desa dan persawahan. Jalanan menuju ke sana tidak selamanya mulus, ada juga beberapa ruas jalan rusak dan becek.

Rumoh Cut Meutia berarsitektur Aceh dengan pilar-pilar (tameh) dari kayu bulat dan dibangun tanpa menggunakan paku. Rumah khas Aceh berbentuk rumah panggung yang dulu dimaksudkan untuk menghindari bencana seperti banjir, menghindari serangan binatang buas, dan belakangan terbukti tahan terhadap gempa.

Teuku Syarifuddin mengungkapkan, Rumoh Cut Meutia tersebut sudah beberapa kali mengalami perombakan pada 1981, 1982, dan 1983, tetapi keaslian bentuknya tetap dipertahankan. Rumoh tersebut berlantai papan sebagaimana rumah adat Aceh pada umumnya. Begitu masuk melalui pintu utama, pengunjung bisa langsung berada dengan pilihan menuju serambi (seuramoe). Kalau lurus, langsung menuju serambi belakang yang diperuntukkan bagi perempuan. Sedangkan jika berbelok ke kiri, menuju dengan serambi depan untuk lelaki. Luas serambi belakang dengan serambi depan nyaris sama membuktikan masyarakat Aceh secara tradisional sudah memerhatikan kesetaraan gender.

Hanya ada dua kamar dalam Rumoh Cut Meutia. Menurut Syarifuddin, bilik sisi kanan biasanya digunakan untuk pengantin dan bilik di sebelah kiri ditempati orang tua. Di lorong menuju serambi belakang, terdapat beberapa foto bersejarah, termasuk foto cucu Cut Meutia, Teuku Rusli,  dan cicitnya yang kini bermukim di Jakarta.

Sedangkan di serambi depan, terdapat beberapa lukisan modern tentang Cut Meutia, misalnya lukisan tentang pertempuran dengan penjajah Belanda. Di sana juga terdapat poster uang kertas pecahan Rp1.000. Di sana juga terdapat replika tangan Cut Meutia lengkap dengan gelang emas dan sebilah pedang yang sengaja dipotong Belanda sebagai bukti bahwa perempuan itu berhasil dibunuh.

Syarifuddin menuturkan, ketika terjadi pertempuran dengan Brigade Van Slooten pada 25 Oktober 1919 di Krueng Peutoe dalam serbuan yang dipimpin Mosselman, Cut Meutia gugur. Belanda kemudian memotong tangan Cut Meutia sebagai bukti bahwa perempuan itu sudah gugur dalam pertempuran.    

Kisah singkat perjuangan Cut Meutia memang terdapat di dinding rumah. Perempuan yang lahir pada 1870 tersebut, bersuamikan Teuku Syamsyarif atau Teuku Chik Dibaroh yang bekerja sama dengan Belanda. Karena tidak sejalan dengan garis perjuangannya, Cut Meutia minta cerai dari suami dan kemudian menikah dengan Teuku Cut Muhammad atau Teuku Chik Ditunong yang menentang Belanda.

Pernikahan dengan Teuku Chik Ditunong melahirkan seorang putra yang diberinama Teuku Raja Sabi. Teuku Chik Ditunong gugur setelah dihukum tembak mati oleh Belanda di bibir pantai Ujong Blang, Lhokseumawe, 26 Maret 1905. Sebelum gugur, Teuku Chik Ditunong berpesan agar Cut Meutia menikah dengan Pang Nanggroe, seorang panglima perang yang gigih melawan Belanda.

“Jadi, ada latar perjuangan dalam ketiga pernikahan Cut Nyak Meutia,” ujar Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara, Nurliana, yang ditemui secara terpisah, Kamis, 2 Desember 2021.

Selain merasakan spirit perjuangan Cut Meutia dalam mengusir penjajah Belanda, di rumah adat Aceh tersebut juga bisa mempelajari filosofi rumah adat. Di sana juga terdapat jeungki, alat tradisional untuk menumbuk padi khas Aceh yang digunakan dengan cara menginjak. Tak jauh dari jeungki, juga terdapat tiga unit krong, tempat tradisional masyarakat Aceh menyimpan padi.

“Masyarakat Aceh sejak dulu memiliki kebiasaan menyimpan padi dalam krong untuk mengantisipasi perubahan musim atau gagal panen. Jadi, krong ini memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan. Sampai sekarang masih banyak ditemukan di kampung-kampung,” ungkap Raisa Agustiana, staf di sekretariat Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Lhokseumawe.  

Mengunjungi Rumoh Cut Meutia menjadi momen untuk merasakan spirit perjuangan pahlawan nasional dalam mengusir penjajah. Lokasi tersebut menjadi salah satu pilihan yang harusnya dikunjungi mahasiswa Modul Nusantara Kelompok IV di Universitas Malikussaleh yang diasuh Jufridar, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Para mahasiswa tersebut berasal dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Jawa Timur. “Tapi karena pandemi Covid-19, seluruh kegiatan harus berlangsung secara daring,” ungkap Prof Dr M Sayuti, person in charge (PIC) Program Modul Nusantara Universitas Malikussaleh.[Ayi Jufridar]

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar