Kemuliaan Hari Tasyriq Idul Adha, Kajian Ustadz UG

Ustadz Mirza Gunawan

KBRN, Lhokseumawe: Dalam ajaran akidah agama islam dikenal istilah Hari Tasyriq pada setiap tibanya hari raya Idul Adha bulan Dzulhijjah tahun Hijriyah.

Sekjen lembaga Tauhid, Tasawwuf, dan Fiqih (TASTAFI) Kota Lhokseumawe, Ustadz Mirza Gunawan (UG) ketika ditanya RRI, Jum'at (23/07/2021) menjelaskan, ada begitu banyak makna dari kata Tasyriq Idul Adha.

"Salah satunya terkandung beragam kemuliaan didalamnya baik diharamkan berpuasa sekalipun puasa qada atau puasa senin-kamis serta anjuran kumandang takbir selepas shalat fardhu selama hari Tasriq dan lain-lain", ujar Ustad yang akrab disapa UG ini kepada RRI mengawali penjelasannya.

Dalam keyakinan akidah umat islam khususnya Ahlussunnah Wal Jama'ah di Aceh sudah turun temurun mengenal hari tasyriq mulai 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Artinya tiga hari.

Selama tiga hari itu, biasanya dilalui dengan amalan menyembelih hewan qurban, memperbanyak zikir hingga mengumandangkan takbir selama tiga hari berturut-turut selepas melaksanakan Shalat Fardhu lima waktu.

"Hari Tasyriq juga sebagai bentuk solidaritas kepada umat muslim yang sedang menunaikan ibadah haji dan sedang melempar jumrah. Jadi, kalau kita di Indonesia ini tidak ada yang berhaji maka diharuskan memperbanyak doa, berzikir, bersyukur, sebagaimana perintah Rasulullah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim, Imam Ahmad dan Abu Daud", terang UG yang juga Sekum Himpunan Ulama Dayah (HUDA) Lhokseumawe ini.

Bahkan diriwayatkan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib, beliau bertakbir setelah Shalat Shubuh Tanggal 09 Dzulhijjah sampai Ashar tanggal 13 Dzulhijjah. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00