Kekeluargaan Mahot Dengan Gajah Terpatri di CRU Cot Girek

Gajah Jantan CRU Cot Girek Bernama Affan Sedang Berpose Duduk

KBRN, Aceh Utara: Kamis (08/07/2021) siang, tim Liputan RRI tiba di puncak bukit Dusun Alue Buloh, Desa Cot Girek, Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara.

Dilokasi tersebut dalam 4 tahun terakhir sejak Oktober tahun 2016 telah dioperasikan Conservation Response Unit (CRU) Cot Girek yang salah satu fungsinya untuk penanggulangan mitigasi konflik satwa gajah liar dengan manusia.

Caption

Kedatangan kami pada Kamis siang itu adalah untuk kedua kalinya setelah setahun yang lalu.Kondisinya tidak jauh berbeda seperti sebelumnya.

Untuk bisa tiba dilokasi, harus melewati jalanan berbatu dan kubangan lumpur dibeberapa titik bekas diguyur hujan sejauh 12 Kilo Meter (KM).

CRU Cot Girek telah didirikan sejak tahun 2016 silam dengan jumlah personil sebanyak 7 orang. Masing-masing 4 orang diantara berprofesi sebagai Mahot, kemudian 2 orang Asisten Mahot yang tugasnya merawat Gajah, dan 1 orang Leader.

Gajah jinak di CRU Cot Girek saat ini berjumlah 3 ekor yakni 2 ekor Betina dan 1 ekor Jantan. Yang Jantan bernama Affan, sedang Betina bernama Marni dan Meulue.

"Gajah jinak disini ada empat ekor. Tapi sekarang tinggal tiga ekor lagi setelah satu ekor mati karena terserang diare pada tahun lalu. Berjenis kelamin Jantan, namanya si Otto", kata Zakhyatuddin Syah, Leader CRU Cot Girek Aceh Utara, Kepada RRI.

Mahot Iwan Berpose Dengan Gajah Rawatannya

Pria yang akrab disapa Bang Jek itu menyampaikan, para Mahot atau Perawat Gajah setiap harinya bertugas mengangon Gajah ke dalam hutan sekitar kawasan CRU agar memperoleh makanan alami.

Saat diangon itu Gajah tetap dirantai besi sepanjang 48 - 50 meter supaya tetap ada ruang gerak ketika mencari makanan secara alami.

"Tetap di ikat ketika diangon. Namun tidak menetap disitu-situ aja tapi nanti di pindah-pindah. Misal, paginya diangon agak dekat dengan CRU, terus siangnya dipindahkan ke lokasi yang agak jauh lagi, serta sore harinya dibawa naik ke CRU untuk diberi pakan tambahan, sesudah itu dibawa turun lagi ke hutan, istilahnya di kandangkan", terang Bang Jek.

Pakan tambahan biasanya berupa potongan tebu hingga potongan pelepah sawit yang dipesankan khusus satu truk setiap beberapa hari sekali.

Marni, Gajah Betina CRU Cot Girek 

Namun bang Jek juga menyayangkan kabar bakal terjadi perluasan tanaman sawit disekitar areal kawasan angon Gajah dalam waktu dekat ini. Sebab hal itu akan menyebabkan kawasan persediaan pakan alami Gajah CRU menjadi menciut atau berkurang.

"Saya juga bingung karena begitu banyak status penggunaan kawasan hutan. Ada namanya Hutan APL (Alih Pengguna Lain), terus ada lagi Hutan Produksi. Bahkan kawasannya sudah sangat dekat dengan Kawasan Ekosistem Lauser (KEL), aduh pokoknya heran", keluhnya lagi.

Salah Satu Lahan Yang Bakal Dijadikan Perluasan Lahan Sawit

Disisi lain, pekerjaan sebagai Mahot maupun Asistennya berisiko tinggi. Bukan tidak mungkin sewaktu-waktu Gajah Jinak yang mereka rawat bisa mengamuk. Apalagi jika sedang dalam masa keemasan atau masa puncak birahi.

"Waduh, kalau sudah kek gitu bisa repot urusannya. Sehingga kami pun harus cepat-cepat mengendalikan keadaan. Jangan sampai wajahnya berminyak. Karena pada bagian wajah atau mukanya terdapat lubang kecil. Nah kami harus memastikan disekitar lubang itu selalu kering jangan sampai mengeluarkan cairan seperti minyak. Itu tandanya hormon gajah jantan sedang meningkat. Terlambat kita antisipasi maka akan fatal akibatnya. Terlebih kami belum diasuransikan selain cuma BPJS Kesehatan", urai sang Leader.

Tapi sejauh ini Gajah Affan, Marni dan Meulue bahkan yang sudah mati si Otto patuh dan penurut kepada para Mahot.

Affan, Gajah Jantan CRU Cot Girek Mengangkat Belalainya Ketika Berpose Bersama

Satwa Gajah adalah binatang yang spesial, unik, dan bernaluri tinggi hampir mirip naluri seorang anak manusia.

Bahkan untuk urusan perkawinan saja, menurut cerita para Mahot, Hewan berbelalai ini pasangannya tidak sembarangan.

"Ada istilah dia tidak birahi atau tidak tertarik. Jika tidak suka sama suka maka tidak akan pernah terjadi perkawinan. Jika pun sudah saling tertarik dengan lawan jenisnya, perkawinan akan terjadi ditempat yang paling tersembunyi tidak disembarang tempat seperti hewan lain. Makanya saya juga suka tertawa ketika ada orang bilang Sperma Gajah atau bahasa awamnya Mani Gajah. Bagaimana kita tahu sedangkan perkawinan Gajah tidak pernah dapat kita saksikan", canda Bang Jek kepada RRI.

Dari keunikan dan sifat hewani spesial tersebut sehingga pada habitat alaminya hidup secara berkelompok-kelompok (berkoloni). Pada setiap kelompoknya dikenal istilah seperti anggota keluarga.

"Jadi, pada Gajah itu dikenal istilah ayah, ibu, anak, paman, bibi dan lain sebagainya. Makanya antara satu kelompok satu dengan lainnya tidak boleh menyatu karena bukan garis keturunan gitu", tutup pria bergelar S,H.I tersebut.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar