Kisah Garuda Pancasila Diatas Tombak Layar

Garuda Pancasila Diatas Tombak Layar Meunasah Tanjong, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara.

KBRN, Aceh Utara: Selasa, 8 Juni 2021 atau tujuh hari setelah peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2021, tim Liputan RRI Lhokseumawe, menapaki kaki di Desa (Gampong) Tanjong, Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara untuk melihat lebih dekat ukiran atau pahatan Garuda Pancasila di atas bangunan Tombak Layar (Atap Segitiga) Meunasah (Surau) setempat.Konon, Garuda Pancasila itu dipahat sejak tahun 1977 silam serta masih dapat dijumpai hingga saat ini.

Mungkin jika lukisan atau gambar Garuda Pancasila diruang kerja perkantoran sudah biasa dijumpai.

Namun jika Lambang Negara tersebut terpajang di rumah ibadah bukan hal yang biasa dijumpai terlebih di wilayah Aceh khususnya Kota Lhokseumawe maupun Kabupaten Aceh Utara.

Karena itu, pada tulisan kali ini, kami (RRI Lhokseumawe-red) akan mengulas Napak Tilas Garuda Pancasila Diatas Tombak Layar Meunasah Tanjong, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara.

Kalimah Thayyibah dan Bhinneka Tunggal Ika 

Ukiran Garuda Pancasila Diatas Tombak Layar Meunasah Tanjong berpadu dengan Ukiran Kaligrafi Aksara Arab yakni Kalimah Thayyibah Lailahaillallah Muhammadurrasulullah.

Sementara dibagian Dada Burung Garuda Pancasila itu terukir Perisai yang didalamnya dilukis Bintang, Kepala Kerbau, Pohon Beringin, Rantai, Padi dan Kapas. Sedangkan di bagian kaki Burung Garuda itu terukir Bhinneka Tunggal Ika.

Begitulah pemandangan yang disaksikan RRI ketika menengadahkan Kepala ke atas Atap Bangunan Meunasah berbentuk Rumah Adat Aceh (Rumoh Aceh) dengan 17 tiang sebagai penopang.

Dipahat 1977

Dibawah Atap segitiga tempat Garuda Pancasila dan Kalimah Thayyibah diletakkan kayu balok panjang Horizantal (melintang) tertera Tgl 9-3-1977 (pojok kiri) dan Tgl 19-5-1984 (pojok kanan).

"Disebelah kiri itu tanggal dan tahun mulai dibangun. Di sebelah kanan itu, tanggal dan tahun selesainya", tutur Pj Keuchiek (Kepala Desa) Tanjong, Meurah Mulia, Bakhtiar, mengawali cerita Garuda Pancasila Diatas Tombak Layar.

Pemahat Pertama 

Garuda Pancasila bercat emas itu dipahat pertama sejak tahun 1977. Tapi semua pemahatnya saat ini sudah berpulang ke Rahmatullah (Meninggal Dunia).

"Utoh nya itu ada Hasan Maksum, Utoh Abdullah. Utoh nya ada tiga orang, tapi yang saya ingat hanya dua nama itu. Tapi semuanya udah meninggal sekarang", kenang Pj Keuchiek sembari menyebut nama pemahatnya.

Tetapi berdasarkan keterangan yang diperoleh RRI dari Nurdin, Tokoh Masyarakat setempat, dahulu hampir semua Desa di Kecamatan Meurah Mulia, mengukir Garuda Pancasila di rumah Ibadah. Tapi sekarang sudah pada merombaknya sehingga saat ini hanya tinggal di Desa Tanjong saja.

"Saya masih ingat, karena saat dibuat saya waktu itu masih sekolah SD", ungkap Nurdin yang juga mantan Keuchiek.

Saya udah dua kali jadi Keuchiek disini (Gampong Tanjong-red). Pertama, tahun 2000. Udah itu turun sebentar. Terus nyalon lagi tahun 2017 dan terpilih lagi, jadi saya paham sekali tentang Garuda Pancasila Diatas Tombak Layar itu, Aku Nurdin lagi.

Dihantam OTK

Apalagi, pada tahun 2000 sampai 2003 ketika Perselisihan Politik (Konflik) antara Pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menjadi suasana mencekam dan kritis bagi keberadaan Garuda Pancasila Diatas Tombak Layar Meunasah Tanjong.

"Kenapa masih bertahan, ya kita doa-doakan sikitlah. Bahkan kampung-kampung lain ada yang terpaksa menutupnya. Kami tetap membiarkan seperti itu, sampai mau dihancurkan oleh OTK dengan martil diketuk gitu. Ya, gawat lah kondisinya ketika itu", kenang Nurdin.

"Kalau kita naik keatas Atap masih ada bekas retaknya dan sompelnya (terkelupas) bekas dihantam OTK", ungkap Pj Keuchiek Bakhtiar menambahkan cerita Nurdin.

Tak Runtuh

Ukiran Garuda Pancasila Diatas Tombak Layar Meunasah Tanjong, Meurah Mulia, Aceh Utara sudah melewati beberapa dekade kritis di Aceh.

Bukan saja fase Konflik Aceh, bahkan tak runtuh sedikitpun ketika Dilanda Gempa Bumi dahsyat tahun 2004.

"Kami ngak akan ganti. Tetap seperti ini bangunan lamanya. Tahan ini, kayunya dari Gunung, ada juga sedekah orang, wakaf orang. Gempa aja tahan, paling-paling krek, krek, krek", ucap Nurdin menirukan bunyi kayu yang bergerak ketika diayun Gempa Bumi saat itu, tapi tidak runtuh.

"Kita akan pugar kembali nanti. Ngak kita ganti, biar unik dan langka", timpal Pj Keuchiek Bakhtiar didampingi Nurdin, di halaman Meunasah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00