Kenapa Aceh Jadi Target Persinggahan Rohingya Setelah Bangladesh ?

Muhammad Ilyas(37) salah satu pengungsi Rohingya di Pulau Idaman Simpang Ulim Aceh Timur yang bisa berbahasa Melayu. Foto KBRN, Ilyas Ismail

KBRN, Aceh Timur : Sejak pecahnya konflik  Muslim Rohingya di Negara Myanmar. Warga Muslim Rohingya bukan saja membanjari Negara Bangladesh, akan tetapi daratan Aceh, terutama pesisir Selat Malaka, juga kerap menjadi tempat persinggahan manusia perahu dari Negara Myanmar tersebut.

Kedatangan muslim Rohingya di Aceh dimulai sejak tahun 2009 silam di Kota Sabang, kemudian menyusul di Idi Rayeuk, Aceh Timur, Kota Langsa, Kuala Kereutoe Aceh Utara, dan Kota Lhokseumawe. Dari beberapa gelombang kedatangan pengungsi rohingnya ke daratan Aceh hingga kini telah mencapai ribuan orang.

Tahun ini, tepatnya Jumat (04 /06/2021) pagi, masyarakat Desa Kuala Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur, kembali dikejutkan dengan datanganya kerumunan manusia berwajah kusam dengan pakaian kumuh memenuhi tepian pantai Pulau Idaman, desa setempat.

Menurut kisah Kepala Desa Kuala Simpang Ulim, Idris Ismail kepada KBRN, pagi itu Jumat, seperti biasa, adat masyarakat Aceh pantang beraktifitas nelayan di hari Jumat. Pagi itu warganya dikejuatkan dengan keberadaan sebuah kapal kayu terdampar di sisi Palau Idaman, yang hanya berjarak dibatasi sungai lebih kurang 200 meter.

Warganya melihat gerobolan manusia dewasa, laki-laki, perempuan dan anak-anak, satu persatu turun dari kapal kayu ke dalam dua unit rakit tiup berwarna merah hitam. Kemudian mereka mengayuh rakit tiup menggapai tepian pantai Pulau Idaman tersebut.

“Warga kami terkejut, melihat adanya pengungsi Rohingya yang terdampar di sana. Mereka datang sendiri, tidak di undang. Mereka lesuh dan berpakaian kusam dan dalam kondisi kelaparan. Dibalik hijab hitam wanita-wanita muslim itu terlihat linangan air mata, seraya meminta minum dan makan kepada kami,” kisah singkat Idris Ismail kepada RRI.co.id, Sabtu (05/06/2021) siang.

Pantauan KBRN, kedatangan 81 pengungsi Rohingya tahun ini, sedikit berbeda dengan gelombang sebelumnya. Menurut pantau penulis kedatangan tahun 2009 di Idi dan di Julok Aceh Timur, pada Mai 2015, mereka tidak mempunyai rakit tiup. Dan mereka juga tidak mengantongi kartu (Card UNHCR). Namun 81 Rohingya yang terdampar di Pulau Idaman Simpang Ulim, kali ini, mereka hampir semuanya mengantongi Card Refugee UNHCR.

Menurut, Mohammad Ilyas (37) salah sorang pengungsi Rohingya yang bisa berbahasa Melayu, mengatakan, dirinya dan 81 pengungsi Rohingya lainnya mereka datang dari Kamp pengungsian Bangladesh.

“Dari Myanmar Saya sudah 14 tahun berada di Kamp pengungsian Bangladesh, kami memperoleh Card UNHCR di sana. Kemudian kami dari Kamp pengungsian Bangladesh ke India selama 1 bulan, kemudian kami ditolak berlayar hingga sampai di sini,” kata Muhammad Ilyas.

Kisahnya, sesampai di India sempat ditahan selama 1 bulan, kemudian mereka di tolak ke laut dengan kapal kayu. Setelah menempuh perjalanan selama dua bulan, katanya, hingga mereka sebanyak 81 orang terdampar di Pulau Idaman, Desa Kuala Simpang Ulim, Kecamatan Simpang Ulim Aceh Timur. Lebih kurang 30 KM arah barat Kota Idi Rayeuk, ibu kota Kabupaten Aceh Timur.

Hingga kini 81 pengungsi Rohingya tersebut yang terdiari dari 59 orang wanita dan 22 orang pria, diantaranya 11 orang anak-anak 5 anak lelaki dan 6 anak perempuan, masih menampati tenda darurat yang disediakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Timur.

Tim UNHCR Indonesia, pada Sabtu (05/06/2021) kemarin telah datang mendata para pengungsi Rohingya yang terdampar di Pulau Idaman tersebut. Bagaimana nasib mereka selanjutnya, apakah mereka harus bertahan di Pulau Idaman yang saat malam hari diserang nyamuk-nyamuk bakau, atau mereka akan dipindahkan ke tempat yang lebih layak seperti dikatakan oleh Tim UNHCR, ketika diwawancari awak media kemarin Sabtu (05/06/2021).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar