Puluhan Ulama Aceh Wafat Selama 2021, Bunyi Hadist: Pertanda Kiamat Sudah Dekat ?

Kumpulan Foto Para Ulama Kharismatik Aceh. (Foto: Dok. Steemit.com)

KBRN, Lhokseumawe: Kamis, 3 Juni 2021, boleh dibilang menjadi hari berduka atau berkabung bagi ummat muslim di provinsi Aceh, menyusul wafatnya tiga ulama kharismatik di hari yang sama.

Ulama yang berpulang ke Rahmatullah pada hari itu diantaranya H. Ramli Ben Cut atau Abati Babah Buloh. Kemudian, Teungku (Tgk) Abdullah atau disapa Tgk Kuroek di Paya Kambuek, Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, dan Tgk Muhammad Nasir Bin Tgk Thaib (Guru Senior Dayah Al-Madinatuddiniyah Babussalam, Kecamatan Blang Blah Deh, Kabupaten Bireuen. Almarhum dikenal dengan sapaan Abon Nasir.

Sebelumnya sederetan nama ulama Kharismatik Aceh seperti Tgk Mustafa Ahmad (Abu Paloh Gadeng), Abu Kruet Lintang, Abu Matang Peureulak, termasuk Waled Ulee Titi yang wafat karena kecelakaan lalu lintas juga sudah berpulang ke Rahmatullah dalam tahun 2021 ini.

Bahkan menurut catatan pihak Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Utara, dalam tahun 2021 ini, sudah sekitar 30 ulama kharismatik Aceh wafat.

Dikatakan Kepala Sekretariat MPU Aceh Utara, Muzakkir Fuad, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ“

Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.“[H.R. Muslim].

Senada dengan Muzakkir, Sekretaris lembaga Tauhid, Tasawwuf, dan Fiqih (Tastafi) Kota Lhokseumawe, Tgk Zarkasyi, kepada RRI, menuturkan, semakin banyak ulama yang wafat maka akan semakin banyak sumber ilmu agama yang hilang. Karena meninggalnya ulama takkan tergantikan dengan yang lain.

"Yang sudah pasti dengan meninggalnya para ulama adalah suatu musibah yang tidak tergantikan. Artinya, meninggalnya ulama tidak ada yang bisa menggantikan yang seperti itu. Maka bagi kita ummat islam itu musibah yang paling besar dengan hilangnya ilmu, diangkatnya ilmu oleh Allah SWT", terang Tgk Zarkasyi, setelah mengisi pengajian bulanan di Mushalla Al-Ikhlas, Kantor RRI Lhokseumawe, Jum'at, 4 Juni 2021.

Disamping itu, Tegas Tgk Imum Syiek (Imam Besar) Masjid Al-Falah, Gampong Keude Aceh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe itu, dengan diangkatnya Ilmu agama dari muka bumi, maka hal itu sebuah pertanda besar dunia sudah dekat dengan Kiamat.

"Itu juga salah satu tanda-tanda bahwa Kiamat sudah dekat. Dalam hadist juga dikatakan salah satu tanda-tanda Kiamat sudah dekat itu adalah diangkatnya ilmu. Arti diangkatnya ilmu itu adalah diangkatnya ulama-ulama, diambilnya ulama-ulama oleh Allah SWT untuk kembali kepada Allah SWT, itu salah satunya", paparnya lagi.

Maka sangat besar musibah dengan hilangnya ulama. Istilahnya musibah yang tidak bisa tergantikan. Ulama meninggal tidak bisa digantikan dengan orang lain.

Sedangkan ulama kharismatik Aceh yang masih ada atau masih hidup sampai dengan saat ini diantaranya Abu Tumin Blang Blah Deh (Bireuen).

Dibawahnya ada Abu Usman Kuta Krueng (Pidie Jaya), Abu Hasanoel atau Abu Mudi Samalanga (Bireuen), Abon Arongan Samalanga (Bireuen), Waled Nuruzzahri atau Waled Nu Samalanga (Bireuen), Abu Manan Blang Jruen (Aceh Utara), Abah Lamno (Aceh Jaya), Abu Ulee Titi (Aceh Besar), Abu Paya Pasie (Aceh Timur).

"Itupun usia beliau-beliau itu rata-rata memasuki usia renta", pungkas Tgk Zarkasyi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar