Kisah Pilu Nenek Bondi Berpuasa “Siang Malam”

Nenek Bondi didampingi Anaknya

KBRN, Aceh Utara : Siang itu nenek Bondi yang berusia 72 tahun itu, terbaring di lantai dalam rumahnya beralaskan tikar, karena sedang mengalami sakit, sebelumnya nenek Bondi janda asal Gampong Cibrek Kecamatan Tanah Pasir Aceh Utara, pada pagi dan siang hari jarang kita temui di rumahnya.

Sebelumya nenek Bondi bersama anak bungsunya Abdullah (32), sibuk mencari kepiting di Alur tambak kawasannya desanya, untuk kebutuhan hidup sehari sehari-hari yaitu membeli beras dan lauk.

Namun sejak kondisinya sering sakit ia hanya ia memilih untuk mengupas daun nipah untuk dijadikan rokok milik warga setempat, dengan mendapatkan upah dalam satu ikatan Rp 10 Ribu, dan mampu dalam sehari bisa mengupas hanya satu ikatan.

Sementara untuk tambahan kebutuhan sehari-hari anak bungsunya yang menjadi tulang punggung, Meskipun rata-rata dalam sehari anaknya (Abdullah) hanya mengantongi Rp30 ribu dari hasil jualan kepiting yang ia tangkap di Alur tambak kawasannya Namun Nenek Bondi dan anak bungsunya tak pernah mengeluh dan tetap bersyukur atas rezeki yang diberikan.

Mirisnya lagi, Jika anaknya tidak bisa membawa pulang rezeki di saat bulan suci ramadhan ini, tidak makan nasi  saat buka puasa hanya dengan air putih, alias "puasa siang malam"karena tidak ada beras dirumah.

Kepada RRI Nenek Bondi mengaku, sejak suaminya meninggal sejak 2000 silam, janda dua anak ini selama ini tinggal bersama anaknya bungsunya, sedangkan anak laki-laki sulungnya sudah berkeluarga.

“Untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari jika, saat saya sakit, yang mencari nafkah anak bungsu (Abdullah), kami makan apa adanya dan tetap bersyukur,”kisah Nenek Bondi,kepada RRI Lhokseumawe, Rabu (28/4/2021).

Nenek Bondi bersama anak bungsunya tinggal di rumah bantuan Tsunami berukuran 3x6 meter persegi yang masih layak huni, Selain itu nenek Bondi juga  mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan  dari Program Keluarga Harapan (PKH).

“Saya tidak pernah menerima bantuan lain, Saya hanya  menerima bantuan dari Bantuan Langsung Tunai (BLT) Covid-19 dari dana desa (DD), meskipun kami hidup serba kekurangan makan ala kadar dan tidak semawah dibandingkan tetangganya di bulan suci ramadhan, tetap semangat menjalankan ibadah puasa, "kata Nenek Bondi yang didamping anak bungsunya.

Sementara Abdullah anak bungsu Nenek Bondi mengaku ia tidak memiliki pekerjaan lagi. ia selama ini untuk kebutuhan sehari hari hanya dari penghasilan dari tangkapan kepiting, dengan menggunakan alat tradisional / jaring.

“Dalam sehari ia mendapatkan penghasilan sekitar Rp 30 ribu dan uang hasil jualan kepiting itu untuk kebutuhan sehari-hari bersama ibu, baik beli beras maupun kebutuhan lainnya.”kata Abdullah.

Selain itu Abdullah mengaku, jika tidak ada uang, untuk bisa makan, terpaksa harus ngutang beras di pasar. Jika ada uang baru saya lunasi.”Kadang ada juga tidak makan,kerana tidak berani lagi ngutang  jika belum kami bayar atau melunasi,”keluhnya.

Demikian saudara sepenggal kisah kehidupan  Nenek Bondi bersama anak bungsunya  Abdullah, asal Gampong Cibrek Kecamatan Tanah Pasir Aceh Utara. Meski rata-rata dalam sehari Ia hanya mengantongi Rp30 ribu dari hasil jualan kepiting yang dijaring di tambak kawasannya, mereka tak pernah mengeluh dan tetap bersyukur

Oleh karena itu kita yang memiliki kelebihan rezeki dapat membantu meringankan beban kehidupan orang-orang yang membutuhkan seperti nenek  Bondi  dan beberapa kaum dhuafa lainnya.

Jika ada yang mau bersedekah bisa menyalurkan melalui RRI Lhokseumawe, karena menjelang akhir  puasa, tim berkah ramadhan RRI Lhokseumawe akan mengantar langsung bantuan atau sedekah dari donatur kepada sejumlah kaum dhuafa yang berhak menerimanya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar