Tergerus Kondisi "Musafir" Penjual Es Cream Pantang Menyerah

KBRN, Lhokseumawe; Meskipun Bulan Suci Ramadhan merupakan Bulan yang penuh dengan Keberkahan, namun terkadang bagi orang lain merupakan Bulan yang penuh dengan Perjuangan seperti yang di rasakan Musafir penjual Es Cream Warga Uteun Bayi Kecamatan Banda Sakti Lhokseumawe yang kehilangan pendapatan di Bulan Ramadhan.

Bapak 2 (Dua) yang memiliki Anak ini merasa Khawatir tentang kebutuhan untuk Anak-anaknya saat Lebaran Idul Fitri nantinya, akibat kehilangan pendapatan di Bulan Ramadhan. Iia merasa Gundah dan Gelisah untuk memenuhi kebutuhan Sehari-hari, dan untuk kebutuhan berlebaran mereka nantinya.

“Selama Buleun Puasa loen hana meungkat (Selama Bulan ramadhan Saya tidak jualan Es Cream).”Ungkap Musafir kepada RRI Minggu (18/04/21).

Ternyata di Bulan lain ia berjualan Es Cream, namun di Bulan Ramadhan seperti ini aktifitas tersebut terpaksa di tinggalkan. Ia hanya mengandalkan Tenaga untuk mencari Nafkah, jika ada Kawan atau Orang lain yang membutuhan tenaganya baik itu untuk bekerja Buruh Bangunan dan lainnya Ia lakukan. namun hal ini juga tidak maksimal, karena Kondisi kakinya yang kurang Sehat karena pernah mengalami Patah saat membetulkan Atap rumahnya.

“Di buleun Ramadhan loen Cuma Kerja bantu-bantu goep, nyan pieh hanjeut brat sebab gakiloen saket (Selama Bulan Ramadhan saya kerja bantu-bantu Orang, itupuen tidak jika kerjanya tidak berat).” Terang Musafir sambil menunjukkah kakinya yang pernah patah.

Begitu juga saat beribadah, seperti Sholat Terawih. jika kakinya kuat maka Ia akan Sembahyang 21 Rakaat. namun jika kakinya tidak mampu, maka hanya 11 (Sebelas) Rakaat yang mampu di laksanakan.

“menyoe Sembahyang Teraweh pieh lon susah, sebab gakieloen mantoeng neurie Sakt (Sembahyang Teraweh ada Saya ikuti, Cuma yang sering saya sanggup 8 Rakaat)”Sambungnya.

Sementara itu selama berjualan Es Cream di Musim Pandemic covid-19 ini cerita Musafir, Ia juga merasa sangat kesulitan karena Kondisi Ekonomi Masyarakat dinilai sulit. Es yang Ia jual sangat jarang habis, apalagi saat aktifitas di Rumah Sekolah tidak ada.

“Lawetnyoe payah tamieta acara ureung meukaweun baroe na rame (Selama ini saya Cuma mengandalkan Acara Pesta Perkawinan Orang untuk berjualan).”Ceritanya.

Ia meyakini ini merupakan cobaan hidup bagi keluarganya, dan Ia juga meyakini cobaab ini ada Hikmahnya. semoga Allah SWT memberkahi keluarganya dengan Keimanan, dan Ketaqwaan yang kokoh kepada Allah SWT. Harapnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar