Kek Manaf : Saya Tak Bisa Melihat, Tapi Saya Tak Minta-Minta

Kakek Tunanetra yang hidup sebatang kara di gubuk Reyot
Kondisi rumah Kakek Tunanetra yang tidak layak huni

KBRN, Aceh Utara : Menikmati hidup dan berkumpul dengan anak maupun cucu biasanya menjadi keinginan banyak orang di masa tua, Sayangnya hal ini tidak bisa dirasakan Abdul Manaf (68) yang hidup sebatang kara di gubuk reyotnya yang berada di Gampong Teupin Gapeuh Kecamatan Tanah Pasir, Kabupaten Aceh Utara.

Selain hidup sebatang kara, Kakek Manaf sapaan tetangganya, juga memiliki keterbatasan fisik  yaitu Tunanetra (buta) kondisi tersebut sudah dirasakan selama 4 tahun terakhir, yang saat miris Kakek Manaf hanya menumpang di rumah gubuk reyot milik almarhumah Syarifah  warga setempat.

Rumah gubuk berukuran 4x6 meter persegi yang tidak layak huni itu, sebagian terbuat dari dinding kayu dan bambu anyam yang sudah lapuk dimakan usia serta atap rumbia yang dilapisi terpal (tenda). Akibatnya saat musim hujan, kakek Manaf terpaksa tidur dalam keadaan basah kuyup dan kedinginan.

Sosok Kakek Manaf yang selalu bersyukur atas rahmatnya, tetap semangat menjalani hidup dan menjalankan ibadah meskipun kondisinya sangat memprihatinkan dan tidak pernah menjadi belas kasihan kepada orang lain atau menjadi peminta-minta.

“Meskipun kondisi saya tidak bisa melihat, belum pernah meminta-meminta  atau menjadi pengemis, kecuali ada orang atau tetangga yang kasih baik uang maupun makanan, Alhamdulllah saya terima, karena kalau meminta-minta saya malu,”kata Kakek Abdul Manaf, kepada RRI, Jumat (16/4/2021).

Sementara untuk kebutuhan  hidup dan kesehariannya, Kakek Manaf  memilih menanamkan cabai, dan pisang di samping rumah yang ditempatinya serta mencari ikan di sungai depan rumahnya untuk dijual ke pasar atau warga.

“Saya masak sendiri dan makan ala kadarnya, kadang-kadang ada tetangga yang kasih makanan, selama ini untuk bertahan hidup cuma dari hasil jual tanaman seperti serai, dan ikan rawa, kadang perhari dapat Rp 5.000, kalau sebelumnya masih ada istri, pernah mendapatkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Namun pasca istrinya (Alm) meninggal tidak pernah menerima lagi bantuan itu,”kisahnya.

Kakek Manaf menceritakan tentang kehidupan sebelumnya  Tsunami 2004 lalu, Kakek Manag pernah  menjadi tukang becak dan kerja di bengkel Las di Banda Aceh, Pada saat Tsunami semua harta, rumah termasuk istri beserta anaknya menjadi korban Tsunami  pulang ke kampung halaman.

“Selama 6 tahun berumah tangga dengan istri kedua, tidak ada keturunan (dikaruniai anak) istrinya  meninggal karena sakit, pasca almarhummah istri  kondisi mata sudah tidak bisa melihat, dan sudah sering berobat ke rumah sakit, Namun dokter menvonis, bola mata saya tidak bisa disembuhkan, sehingga saya pasrah dengan kondisi seperti ini, karena untuk berobat lagi tidak ada biaya perjalanan ke rumah sakit, “pintanya.

Demikian sepenggal kisah pilu kakek Abdul Manaf (68) yang kondisinya sangat memprihatinkan dan hidup sebatang kara di gubuk reyotnya yang berada di Gampong Teupin Gapeuh Kecamatan Tanah Pasir Aceh Utara, sangat membutuhkan bantuan dan perhatian dari pemerintah  serta para darmawan untuk biaya hidup. semoga  dibulan suci Ramadhan penuh berkah ini, pintu hati kita terketuk untuk berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan iuran tangan kita .

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00