Ini Penyebab Gas Bersubsidi Ukuran 3 Kg Sering Langka di Aceh

KBRN, Aceh Utara : Dugaan kelangkaan gas bersubsidi ukuran 3Kilogram, beberapa pekan terakhir  di sejumlah Kabupaten-kota di Aceh, Khususnya di Aceh Utara dan Lhokseumawe, disebabkan karena permintaan gas semakin meningkat menjelang hari raya idul Adha 1441 Hijriah. Bahkan warga rela mengantri berjam-jam di sejumlah pangkalan yang masuk gas.

Menanggapi kelangkaan gas bersubsidi 3 kilogram menjelang Idul Adha 1441 H, Manejer PT Sri Dirgahayu Wetan, Sri Rezeki,  merupakan salah satu agen penyalur gas, di tiga wilayah yaitu Aceh Utara, Lhokseumawe dan Bireun turut angkat bicara.

“Kesulitan mendapatkan bahan bakar gas elpiji subsidi ukuran 3 kg, disebabkan dari masyarakat sendiri, kerana sebelumnya setiap rumah tangga memiliki satu tabung, sekarang lebih dari satu satu tabung, dan saat itu banyak masyarakat yang mengunakan gas elpiji untuk kebutuhan sehari-hari menjelang lebaran.”terang Sri Rezeki, Kamis (6/8/2020

Menurutnya, gas melon itu banyak digunakan oleh masyarakat yang ekonomi menengah ke atas seperti ASN. padahal dalam peraturan sudah jelas disebutkan gas bersubsidi ukuran 3 kg, diperuntukkan untuk masyarakat miskin dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

“Dalam aturan, untuk rumah tangga dibolehkan membeli empat tabung gas tiga kilogram perbulan, sedangkan untuk UMKM, bisa mendapatkan sembilan tabung gas perbulan, bahkan sepekan sebelum lebaran, pihak Pertamina telah menambah kuota hingga 30% ke setiap pangkalan, dan menyalurkan sesuai kebutuhan, tidak ada alasan kesulitan mendapatkan gas,”terangnya,

Selama ini, perusahaannya memasok gas ke 179 pangkalan di tiga kabupaten-kota di Aceh, untuk wilayah  Kabupaten Aceh Utara melakukan pemasokan ke 68 pangkalan, Lhokseumawe kepada 45 pangkalan dan Kabupaten Bireuen kepada 66 pangkalan yang tersebar di beberapa kecamatan.

“Setiap bulan pasokan gas ke pangkalan berbeda, karena sesuai kebutuhan, paling banyak 1400 tabung perbulan dan paling sedikit 300 tabung perbulan, dan kami juga meminta kepada pemilik pangkalan  untuk menjual sesuai Harga Edaran Tertinggi (HET) Rp18 ribu,“ jelasnya.

Ia mengaku untuk saat ini, pangkalan yang dia memasok gas, belum ditemukan melakukan pelanggaran, jika kedepan ada temuan di lapangan  gas elpiji 3 kilogram dijual  ke pengencer  termasuk menjual diatas  harga HET pangkalan itu akan ditindak tegas.

“Jika ada laporan masyarakat dan terbukti ada pangkalan ‘Nakal’ pertamina akan memberikan sanksi tegas kepada pangkalan itu,  termasuk akan dilakukan Pemutusan Hubungan Usaha (PHU).”tegasnya.

Sementara Pemilik Pangkalan UD Muzakir di Kecamatan Samudera Aceh Utara., Zulbahri kepada RRI menyebutkan, untuk saat ini gas elpiji  bersubsidi 3 kilogram sudah normal kembali, meskipun sebelumnya warga sempat mengantri untuk mendapatkan gas .

“Meskipun lebaran agen (hari libur) agen/ penyalur tetap memasok gas ke pangkalan kesuai kuota, selama ini belum ada warga yang memprotes pangkalan kita, karena setiap gas masuk tetap memberikan kepada warga dan menjual  susuai harga yang ditetapkan pemerintah,”terangnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00