Terkendala Pemasaran, Banyak Pelaku UMKM Di Lhokseumawe Gulung Tikar

KBRN Lhokseumawe: Seharusnya Program UMKM dicanangkan Pemerintah bertujuan untuk menyerap jumlah tenaga kerja yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan Masyarakat yang berdikarinya atas usaha yang dilakukannya, akan tetapi sangat disayangkan jika kondisi pertumbuhan ekonomi pelaku UMKM dimasa Endemi Covid 19 sekarang ini justru semakin terpuruk karena alasan minimnya modal usaha dan lemahnya pemasaran yang tidak didukung Ilmu pengetahuan dimiliki setiap pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang ada diwilayah kota Lhokseumawe. 

Seperti dikatakan kepala Disperindakop Lhokseumawe Muhammad Rizal, (dalam dialog studio Lintas  Sektoral Rabu pagi,24/05/2022), Hal paling menyulitkan dihadapi pelaku umkm yang tidak dapat berkembang ditengah situasi pandemi Covid sebelumnya, dapat dilihat dari jumlah 5.000 lebih pelaku UMKM yang ada, hanya sebagian kecil saja yang mampu bertahan dan memiliki izin usaha, lebel dan produk halal.

“Dari jumlah 5.330 UMKM yang ada diwilayah kota Lhokseumawe ini memang kita pada umumnya ini masih bersifat sangat kecil usaha mikro,  yang sudah berkembang itu hanya sekitar 100 san UMKM ini dibuktikan dari kesulitan mereka berusaha dengan mengurus izin berusaha  kemudian ada PRT nya , sehingga mereka sudah bisa masuk kepasar Global  kalau mampu mengemas kualitas Produk yang diharapkan bisa bersaing dengan Produk Luar” Jelas Muhammad Rizal Kadiperindakop Lhokseumawe

Selain kekurangan Modal Usaha serta tidak adanya penyaluran Modal Usaha dari perbankan, jatuh bangunnya usaha mikro masyarakat pada umumnya juga disebabkan karena  minimnya Ilmu pengetahuan masyarakat untuk mengambangkan kualitas Produk dihasilkan pelaku usaha Mikro yang ada.

Sekarang kan pagsa pasar kita jangan hanya berfikir untuk orang yang ada dilhokseumawe atau yang datang kelhokseumawe saja, akan tetapi untuk sekarang ini semua Produk mikro bisa dipasarkan keluar daerah dengan memanfaatkan media Sosial yang ada,

Semantara menanggpi pernyataan kepala Disprindakop, Dosen fakultas Ekonomi Unimal Yulius Dharma, juga berpendapat, bahwa minimnya ilmu pengetahuan merupakan sebuah persoalan yang pelik dihadapi para pelaku UMKM.

Memang yang jadi persoalan yang pelik dihadpi pelaku UMKM dari tahun ketahun itu adalah persoalan  pemasaran, kalo Produk sudah baik tapi masih terkendala disegi pemasaran, sehingga banyak pelaku Usaha Mikoro yang terpaksa gulung tikar, Sebagai mana diketahui itu Banyak  pelaku UMKM yang tidak terdaftar  justru semakin terdampak ditengah situasi pandemi Covid 19”. Tutur Yulius Dharma

Pada bagian akhir pembicaraan  Yulius Dharma juga menyarankan kepada Pemerintah untuk terus melakukan peningkatan pembinaan masyarakat yang berkecimpung dibidang  bisnis wira usaha Mikro ini. Dengan ilmu pengetahuan dimiliki pelaku usaha mikro dipastikan  dapat mengasah pola pikir untuk mengembangkan kualitas Produk  sebuah usaha Mikro

“kalau ingin menghasilkan sebuah Produk berkualitas ya tentunya dibutuhkan kemampuan mereka untuk mengemas Produk serta memiliki kemampuan untuk melakukan terobasan penjualan mengunakan media sosial.” Ungkap Yulias Dharma dalam Dialog  Interaktif  Pro 1 RRI  Lhokseumawe bertema UMKM Usaha Maju, Kita Mendunia. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar