“Hari Pangan Sedunia, Mahasiswa Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Krisis Pangan”

KBRN Lhokseumawe: Mermperingati Hari pangan Sedunia, Puluhan Mahasiswa tergabung Eksekutif Kota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (Ek-LMND) Lhokseumawe dan Aceh Utara, gelar aksi unjuk rasa berisikan kritikan kepada Pemerintah yang berlansung tertib di Taman Riyadhah Lhokseumawe , Senin,18/10/2021.

Aksi unjuk Rasa merefleksi pangan se-dunia dan pengentasan kemiskinan berlangsung ditaman Riyadhah tersebut diawali teriakan lantang Koordinator Aksi  Alfathur Rizki yang mendesak Pemerintah untuk keluar dari krisis pangan tak kunjung jelas.

“Terlebih ditengah situasi pandemi saat ini kondisi tersebut telah berimplikasi pada ketahanan pangan ikut berdampak terjadinya pertambahan jumlah angka pengangguran. Untuk itu kami meminta kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk menciptakan master plan ekonomi merdeka, dari kapitalisme, oligarki dan neoliberalisme,” teriak Koordijnator Aksi Alfathur Rizki menggunakan alat pengeras Suara.

Lanjut  kalangan Mahsiswa juga mendesak Pemerintah untuk mengevaluasi program food estate, yakni program pemborosan uang negara yang mengakibatkan konflik sosial budaya, akibat perampasan ruang hidup masyarakat.

Sesuai pasal 34 undang-undang dasar 1945 dan pasal 27 ayat 2. Pemerintah perlu mewujudkan demokrasi ekonomi sebagai resolusi agar Aceh keluar dari garis kemiskinan. selain desakan mengevaluasi satu tahun Omnibus Law, pemerintah juga diminta mewujudkan pendidikan gratis serta demokrasi, dan menangkan Pancasila sebagai resolusi problem bangsa.

“seharusnya anak telantar, kemiskinan tersebut harus dilindungi oleh Negara. Tapi kami ketika menggerakkan aksi, dipinggiran jalan khususnya Perkotaan Kota Lhokseumawe, sangat ramai yang mengemis di negara agraris yang katanya keadilan sosial harus diwujudkan,” cetus mahasiswa secara bergantian. Aceh termiskin se-Sumatera, diduga, kurang perhatian pemerintah dalam membuka lapangan kerja terhadap anak muda yang hari ini banyak yang di PHK akibat krisis kesehatan global.

“Kita berharap untu keluar dari kemiskinan, Pemerintah Aceh harus menciptakan lapangan kerja. Sejauh ini pemerintah hanya melihat sejumlah sektor, secara angka, tidak secara ekonomi rumah tangga,” imbuhnya. Meski sempat menarik perhatian pengguna jalan, namun aksi unjuk rasa puluhan mahasiswa tersebut berlangsung tertib dibawah pengawalan Aparat Kepolisian Polres Lhokseumawe. Selain membawa alat peraga berupa embel-embel kain dan karton yang bertuliskan kritikan kepada Pemerintah, mahasiswa juga membacakan puisi serta menyanyikan lagu krisis pangan dan ekonomi rakyat.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00