Perkara Gugat Cerai Tak Berkurang Selama Pandemi

KBRN Lhoksukon Aceh Utara: Kebanyakan Masyarakat masih menganggap Mahkamah Syar’iyah sebagai Pengadilan Pengurusan Perceraian, Ikhwal keretakan Pasutri dalam Rumah Tangga didominasi Gugat Cerai kaum perempuan ini, mengawali pembicaraan Ketua Mahkamah Syar’Iyah (Pengadilan Agama) Lhoksukon, Ketika menerima Kunjungan silaturahmi Kepala LPP RRI Lhokseumawe Yusridarto diruang kerjanya Selasa sore (24/11/2020).

,”Kalo diluar Daerah biasa dikenal Pengadilan Agama,sebaliknya disini (Aceh) dikenal Pengadilan Percerian, padahal Putusan tersebut dijatuhkan Majelis Hakim karena ketidak cocokan kedua pihak melalui persidangan yang gagal dilakukan upaya Mediasi ditingkat Gampong, alias tidak ada kecocokan lagi, sebut Saayed Sofyan,sambil bercanda.,”

Peningkatan jumlah perkara gugat cerai ditengah situasi Pandemi Covid-19, dikatakan Ketua Mahkamah Syar’iyah Lhoksukon,Sayyed Sofyan,S.H.I.M.H, dapat dilihat dari jumlah 92 Putusan  Perceraian diantara  185 jumlah pengajuan perkara gugat cerai ditangani hingga bulan November 2020.

Dari 11 penyebab terjadinya perceraian dalam rumah tangga, faktor ekonomi dan Perselihan juga Pertengkaran terus menerus dan ketidak harmonisan menjadi salah satu alasan banyaknya Perkara gugat cerai diajukan kaum perempuan yang berakhir putusan perceraian .

Selain sebab akibat  terjadinya keretakan dalam rumah tangga tersebut, Sayyed Sofyan, juga menyebutkan kebanyakan pasutri sedang dilanda kerapuhan terpaksa dijatuhi putusan perceraraian setelah gagal dilakukan mediasi perdamaian agar dapat mempertahankan Keharmonisan dalam rumah tangga. 

Sementara disinggung bentuk Sosialisasi untuk mencapai tujuan mediasi,banyak perkara talak maupun cerai gugat cerai diajukan istri karena alasan tidak ada kecocokan tersebut telah melalui proses perdamaian yang gagal dilakukan (mediasi) ditingkat Gampong.

Selain putusan karena ketidak cocokan yang bertolak belakang dari tujuan mediasi mendamaikan ini, Majelis Hakim juga terpaksa melaksanakan prosudur penyelesaian perkara, baik dihadiri kedua pihak maupun persidangan tidak dihadiri satu pihak.

,”sebelumnya kita telah melakukan pemberitahuan dan pemanggilan kedua pihak untuk hadir dipersidangan. sementara sesuai prosudur, Majelis hakim terpaksa menjatuhkan putusan perceraian setelah 3 kali persidangan tidak dihadiri satu pihak, ,” pangkas Sayeed Soffyan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00