IDI Aceh Utara Minta Lengkapi APD Dokter Yang Menanggani Pasien COVID-19

KBRN, Lhoksukon : Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Aceh Utara, telah mengeluarkan surat himbauan bernomor 615/ID/ AU/2020, agar tidak melibatkan dokter dalam menangani warga yang terindakasi virus corona (COVID-19), jika tidak dilengkapi alat pelindung diri (APD) sesuai standar, karena nyawa taruhannya saat menanggani pasien tersebut.

Surat himbauan tersebut dikeluarkan pada 24 Maret 2020, yang ditandatangani oleh Ketua IDI cabang Aceh Utara, dr Harry Laksamana, yang ditujukan ke sejumlah pihak dalam penangganan COVID-19, diantaranya kepada kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Direktur Rumah Sakit Umum Cut Mutia, (RSUCM), Puskemas, dan Gugus percepatan penangganan COVID-19, Aceh Utara.

Ketua IDI cabang Aceh Utara. dr Harry Laksamana kepada RRI menyebutkan, surat himbaun tersebut dikeluarkan kepada pihak terkait, karena sudah ada korban jiwa tenaga kerja kesehatan khususnya dokter pada saat bertugas penanggulangan COVID-19 di Indonesia, yaitu sudah enam orang dokter yang menjadi korban dalam penanganan virus corona (COVID-19).

“Kami mengharapkan kepada seluruh Satuan kerja (Satker) dan Fasilitas Kesehatan (Faskes), untuk tidak melibatkan dokter/ anggota IDI Aceh Utara, tanpa alat pelindung diri (APD) yang cukup dan tidak sesuai dengan standar  APD yang seharusnya,”harap dr Harry. Selasa (24/3/2020).

Dalam surat himbauan ada beberapa poin permintaan IDI, yaitu memperhatikan  beban  kerja tenaga dokter tidak melebihi delapan jam kerja perhari, kemudian memperhatikan fasilitas yang cukup, memberikan transportasi, konsumsi  dan keamanan bagi dokter yang bekerja extra dilual jabwal resmi .

"Fasilitas kesehatan yang melayani perawatan rawat jalan (rumah sakir atau puskesmas) untuk dapat menunda pelayanan yang tidak bersifat ermegency, selain itu memberikan jabwal istirahat yang cukup bagi tenaga dokter yang bertugas bertugas dilapangan ,"terangnya.

Dokter Harry menyebutkan, saat ini dokter yang tergabung dalam IDI cabang Aceh Utara mencapai 155 orang, ada yang bertugas di puskesmas maupun rumah sakit, sementara 21 orang diantaranya merupakan dokter internship.

"Para dokter baik yang bertugas di Puskesmas maupun di rumah sakit,  yang merupakan garda terrdepan dalam menanggani  pasien ODP maupun PDP virus corona (COVID-19), hanya mengharapkan untuk dilengkapi alat pelindung diri (APD) dan sejumlah alat kesehatan yang dibutuhkan sesuai standar WHO, demi meminimalisir risiko penularan.”pungkasnya. (FUL).

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00