Almarhum Bupati Bireuen, Miliki Rumah Unik Serupa Mesjid

KBRN, Bireuen: Kesedihan masih tampak di raut wajah pihak keluarga Almarhum Bupati Bireuen, H. Saifannur, pasca prosesi pemakaman di lokasi tanah pemakaman keluarga besar, yang berada di belakang rumah pribadi orang nomor satu di Kabupaten Bireuen tersebut.

Almarhum meninggalkan tiga orang anak masing - masing Neli Safrida (Sulung), Ziaurrahmah, dan Afdhal. Sementara dua orang anak lainnya sudah terlebih dahulu dipanggil sang khalik.

Saat ini ke tiga anak kandung mantan Ketua DPC Golkar Kabupaten Bireuen tersebut, tinggal bersama Fauziah sang ibu, di rumah mewah pinggir jalan lintas Medan - Banda Aceh, Desa Paya Meuneng, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Aceh Utara.

Pantauan RRI, Senin (20/01/2020) di rumah duka, papan bunga ucapan belasungkawa berjejer sampai ke pinggir jalan raya. Kediaman pribadi Almarhum bentuknya pun tergolong unik namun megah. Dimana atap rumah menyerupai bangunan kubah mesjid. 

Diceritakan adik kandung almarhum, H. Mukhlis, A.Md, kepada RRI, sebelum tutup usia pada Minggu, 19 Januari 2020, pukul 21.15 WIB di ICU RS Siloam Medan, Saifannur sempat mengeluhkan rasa sakit dalam dua bulan terakhir ini. 

"Ya memang dalam dua bulan inilah, kita sempat bawa ke singapore. Selesai dari singapore, kita lihat kondisinya masih belum ada perubahan ya. Lalu, kita ambil sikap bawa ke China. Sepulang dari China, tempo sepuluh hari kemudian, ya sudah meninggalkan kita", ungkap Mukhlis kepada RRI, ditengah keramaian pelayat yang datang berkunjung.

H. Saifannur semasa hidupnya dikenal sebagai orang yang ramah dan Dermawan terhadap warga sekitar. Bahkan pernah menjadi Geuchiek (Kepala Desa) Paya Meuneng, periode 1998 sampai tahun 2004.

Almarhum juga seorang pengusaha sukses. Bahkan menurut informasi yang diperoleh RRI dari warga pelayat di rumah duka, sosok Saifannur juga termasuk tokoh yang membangun Kabupaten Bireuen bersama Bupati pertama Mustafa Gelanggang.

Bahkan saat masih menjadi pengusaha dan kontraktor, almarhum termasuk orang yang membangun Kantor Bupati Bireuen menggunakan uang pribadinya sebagai dana talangan sementara. Sebab kala itu Bireuen belum memiliki anggaran karena masih baru mekar dari Kabupaten Aceh Utara, demikian cerita yang diperoleh RRI dari warga sekitar di lokasi rumah duka.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00