Peran Industri Hulu Migas di Aceh Timur Untuk Kemajuan Ekonomi Daerah

CPP Blok A Medco E&P Malaka Aceh Timur

KBRN, Aceh Timur : Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah. Bentuk sumber daya alam yang terkandung di dalamnya sangatlah beragam. Sumber daya yang melimpah tersebut tersebar di kabupaten/kota di Aceh dengan kondisi geografis yang berbeda-beda disetiap daerah.

Aceh, selain mempunyai sumber daya alam tumbuhan dan mikroorganisme, juga terkandung sumber daya alam abiotik seperti minyak bumi dan gas alam yang merupakan salah satu sumber daya alam menjadi kebutuhan mutlak bagi perkembangan manusia abad ini.

Kabupaten Aceh Timur adalah salah satu kabupaten di Aceh yang mempunyai sumber daya alam minyak bumi dan gas alam, yang telah dilakukan eksplorasi dan eksploitasi sejak Indonesia belum merdeka. Hingga hari ini Kabupaten Aceh Timur masih menyumbang devisa negara di sektor Migas, kawasan eksplorasi dan eksploitasi migas Blok A yang operasionalnya oleh PT. Medco E&P Malaka, tentunya akan memberi dampak terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Bagaimana kontribusi industri migas dalam menopang ekonomi daerah. Berikut ini wawancara Kontributor RRI Lhokseumawe dengan Kepala Divisi Formalitas dan Hubungan Eksternal Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) Adi Yusfan, melalui pesan WA, Sabtu (12/06/2021):

Bisakah Industri Migas Topang Pertumbuhan Ekonomi Daerah ?

Adi Yusfan : “Industri migas tentu saja bisa menopang ekonomi daerah. Untuk dampak langsung keberadaan industri hulu migas bagi daerah ini mencakup dana bagi hasil (DBH) migas yang sudah diatur dalam perundang-undangan, hak partipasi (participating interest/PI) sebesar 10 persen, pajak daerah dan retribusi daerah,”

Bagaimana dampak langsung dan tidak langsung Industri Migas untuk pembangunan Daerah ?

 Adi Yusfan: “ Selanjutnya, adanya vendor untuk penyedia barang dan jasa lokal, penyerapan tenaga kerja lokal, dan adanya tanggung jawab sosial. Fasilitas penunjang operasi migas juga dapat digunakan oleh masyarakat, adanya pasokan gas untuk kelistrikan daerah, bahan bakar industri, hingga bahan baku industri. Untuk dampak tidak langsung, berasal dari perusahaan penunjang bisnis hulu migas seperti  pajak daerah dan retribusi daerah, lalu ada bisnis penyedia barang dan jasa lokal, penyerapan tenaga kerja lokal, dan kucuran tanggung jawab sosial (TJS).”

Bagaimana tanggung jawab social atau CSR Perusahaan Migas untuk Daerah ?

Adi Yusfan : “Untuk CSR pun, BPMA memastikan pengelola dana Corporate Social Responsibility (CSR) tepat sasaran, dan bertempat di wilayah kerja dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S). Pemberian dana CSR tersebut juga berdasarkan wilayah kerja. Apabila perusahaan itu berwilayah kerja misalnya di Aceh Utara tentu memprioritaskan ring satunya untuk wilayah tersebut. Untuk saat ini, BPMA mengelola KKKS yang memiliki Wilayah Kerja di Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, dan Aceh Timur.

Apakah dengan kahadiran indutri migas dapat meningkatkan persentase Tingkat Komponen Dalam Negeri (TDKN) ?

Adi Yusfan : ”Kehadiran industri hulu migas turut memberikan multiplier effect baik bagi warga lokal maupun daerah. Sebagai informasi, Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) berhasil meningkatkan persentase Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Berdasarkan hasil perhitungan Per April 2021 Capaian komitmen TKDN Gabungan Barang dan Jasa naik tajam hingga mencapai 82,98% (cost basis) dengan ini melebihi target TKDN hulu migas 2021 sebesar 57% yang telah diterapkan sebelumnya.

Untuk menjaga Capaian Indutri Migas di Aceh, apa yang dilakukan BPMA ?

Adi Yusfan : “Untuk menjaga capaian tersebut hingga Desember 2021, BPMA selalu mengingatkan dan mengawasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Wilayah Kerja Aceh untuk mewajibkan penggunaan produk barang dan jasa dalam negeri.”

Berapa besar produksi Migas Aceh Tahun 2021. Dan Apa komitmen BPMA untuk meningkatan investasi Hulu migas di Aceh ?

Adi Yusfan : “Hingga kuartal I Tahun 2021, produksi migas telah mencapai 18.431 BOEPD atau 108% dari target 17.051 BOEPD. Kepala BPMA Teuku Mohamad Faisal mengatakan fokus pengembangan migas Aceh adalah mendorong produksi dan menemukan cadangan baru.”

Dari hasil wawancara penulis dengan Kepala Divisi Formalitas dan Hubungan Eksternal badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) dapat diambil kesimpulan bahwa, kehadiran industri hulu migas akan memberikan dampak multiplier effect baik warga lokal maupun daerah itu sendiri. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00