Misteri Manusia Perahu

Orang tuh asik duduk - duduk aja nonton. Itu bukan sinetron yang harus kita nonton. Saya udah nangis-nangis kek mana caranya saya bantu orang tuh. Masih anak-anak yang masih nenen, apa ngak sedih kita kan

KBRN, Lhokseumawe : Jamilah (35) dan Musliadi (45) masih mengingat momen terdamparnya 'Manusia Perahu' ke Tepi Pantai Lancok kawasan Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara, meskipun sudah lima bulan berlalu sejak 25 Juni 2020 silam.

"Saya udah nangis - nangis kek mana caranya saya bantu orang tuh. Karena sayang, rasa iba, karena kami juga pernah mengalami susah", kenang Jamilah yang sempat bertengkar dengan aparat keamanan dari TNI/Polri di pinggir pantai Lancok Aceh Utara.

Warga sempat mengamuk dan marah karena niat mereka untuk mendaratkan Etnis Rohingya yang awalnya disangka terdampar itu ke Desa mereka, pada saat itu ditentang aparat keamanan.

"Ngamuk kek gini, kalian itu seperti enggak ada hati, itu manusia bukan binatang kek gitu saya bilang. Itu bukan sinetron yang harus kita nonton", timpal Musliadi mengingat momen keramaian dan kehebohan warga Lancok memprotes sikap aparat keamanan yang awalnya tidak memperbolehkan pendaratan Etnis Rohingya.

Begitulah awal kisah kedatangan Etnis Rohingya alias 'Manusia Perahu' dari Negeri Junta Militer Myanmar ke Tanah Samudera Pasai, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Namun, dibalik kejadian itu semua, ketibaan Muslim Rohingya itu masih menyimpan teka - teki dan kejanggalan yang belum terjawab hingga detik ini.

Berhembus kabar, masih ada misteri yang belum terungkap di tengah laut. Pertanyaan besarnya adalah kenapa Boat Kapal yang mereka tumpangi terombang-ambing ditengah laut tanpa Nahkoda.

Kemudian sempat ada belasan mayat dengan bekas kekerasan tergeletak di atas Boat Kapal. Tetapi sampai saat ini, jasad tersebut tidak pernah ditemukan.

Kami mencoba menelusurinya lewat kesaksian seorang Nahkoda Kapal Nelayan yang pertama kali melihat dan mengevakuasi Etnis yang kini berstatus sebagai pengungsi itu ditengah laut.

"Itu ABK saya yang lihat. Saya suruh turun ABK ke dalam. Ada mayat. Ramai saya tanya, lima belas jawab ABK saya. Pikir yang hidup dulu saya suruh. Selamatkan anak kecil dulu saya bilang", kata Afrizal mengawali kesaksian di tengah laut ketika bertemu dengan Boat Kapal pengangkut Rohingya.

Belasan jenazah itu lalu ditinggal diatas kapal dibiarkannya terombang-ambing ditengah lautan. Sedangkan pengungsi yang masih hidup telah diangkut ke kapal miliknya.

Sampai sekarang jenazah dan boat kapal pengangkut Rohingya tidak pernah ditemukan. Apakah sudah tenggelam atau pun tidak.

"Enggak tau lagi, kita pun habis evakuasi udah malam, udah maghrib. Ditinggal, minta izin, minta maaf saya sama yang kuasa", ceritanya lagi seraya menghela nafas kepada RRI diatas tempat duduk dari balai bambu di halaman rumah semi permanen dua kamar miliknya.

Tim Liputan RRI Lhokseumawe di Halaman Rumah Afrizal

Semilir angin sepoi-sepoi bertiup diantara rimbunnya pohon kelapa, mangga, hingga pohon kakau dan lain-lain yang tumbuh disekeliling rumah Afrizal. 

Jam sudah pukul 15 Wib. Sesekali terdengar teriakan Bebek Angsa dibelakang rumahnya, namun Ayah dengan lima orang anak tersebut melanjutkan penuturannya soal jenazah Rohingya dengan bekas luka gorok di leher.

"Dipotong lehernya, ada yang dibuang ke dalam laut, ada juga yang masih di kapal. Itu cerita mereka (Rohingya) kepada ABK saya. Tekongnya (Nahkoda) udah pigi naik boat lain, seperti itulah cerita mereka", tutup Afrizal mengakhiri penuturannya.

Pengungsi Rohingya yang berhasil kami tanyai di Shelter Kamp Pengungsi, Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Kemukiman Kandang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe juga tidak mengetahui bagaimana nasib Kapal yang mereka naiki saat berangkat dari Bangladesh tujuan ke Malaysia.

Wawancara Dengan Pengungsi Rohingya, Ziaburrahmah 

"Tak tau juga. Ada tenggelamkah atau ada masih hidup tak tau juga. Kapal punya boat ini sudah rusak tapi ini kapal pun ada macam-macam susah lah. Bukan susah-susah saja, ini sudah rusak, lepas itu jumpailah dengan orang Aceh ini", tutur Ziaburrahmah dengan Dialek Melayu kental.

Tidak mudah untuk mengorek lebih jauh keterangan dari pengungsi Rohingya itu, karena keterbatasannya memahami bahasa Indonesia. Sebaliknya juga kami terkendala bahasa Melayu kental.

Tapi Ziaburrahmah sempat menyinggung soal beberapa Etnis Rohingya yang lain memiliki sanak famili di Malaysia. 

"Ini orang punya ada saudara - saudara dekat Malaysia tapi aku orang Myanmar tak ada tempat negeri lebih baik biar kita punya ada saudara lagi sama ada islam, punya kerjaan, kita mau pikir, masih mau hidup, mau selamat", kata dia.

Anak-anak Pengungsi Rohingya 

Kini, seratusan lebih wanita, anak-anak hingga orang tua dari Etnis Rohingya sedang meneruskan kelangsungan hidupnya serta menjalankan ibadah di Kamp Pengungsian setempat. 

Wanita Rohingya

Pihak UNHCR sendiri tidak mengetahui sampai kapan mereka harus ditampung dan bagaimana solusi selanjutnya.

"Kami belum bisa memastikan, yang mungkin akan paling tahu adalah pemerintah soal ini. Tapi kami terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk melihat bagaimana ke depannya, apa yang harus dilakukan, dan apa saja kebutuhan mereka selama disini gitu", ujar Professional Societ, UNHCR perwakilan Jakarta, Ray Fitra Malia di Shelter BLK Lhokseumawe, Agustus 2020.

Ray Firda Malia, Professional Societ UNHCR

Sementara UNHCR mulai membatasi pihak media untuk mengeksplorasi pengungsi. Proses dan Prosedurnya harus mendapatkan izin dari pihak Posko setempat. Termasuk memberi tahu apa tujuan wawancara dan lain sebagainya.

"Kami sebetulnya hanya ingin menjaga bahwa teman-teman Rohingya ini ketika mereka diambil fotonya atau videonya gitu, mereka pertama tau dan mereka tau konsekuensinya akan dimana saja misalnya mereka akan disiarkan. Atau akan siapa saja sih yang akan melihat itu gitu. Jika mereka memperlihatkan wajah. Kami hanya menjaga agar sebetulnya lebih ke septi dan security sih, bahwa mereka aman gitu dan ketika memang mereka disebar fotonya lewat media gitu, mereka tidak mempunyai masalah ke depannya gitu", jelas Ray.

Warga Pengungsi Rohingya Memasak di Dapur Umum Shelter

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00