Desa Diminta Mampu Memaksimalkan Sumber Dayanya Untuk Memitigasi Bencana

Ketua Forum Perguruan Tinggi Pengurangan Risiko Bencana, Eko Teguh mengajak desa untuk tidak terjebak dalam kesesatan berpikir soal penanggulangan bencana merupakan tugas Pemerintah.

"Sesat pikirnya adalah bahwa seolah-olah desa dianggap gak mampu, padahal yang terjadi adalah desa belum melakukan cukup baik dan melakukan sumber daya yang ada," ucapnya saat ditemui dalam sosialisasi kebencanaan di Balai Kecamatan Puring.

Padahal kata Eko desa sangat memiliki sumber daya yang sangat mencukupi, salah satunya dana desa. Maksudnya desa bisa memanfaatkan dana itu dengan melakukan pembangunan sambil memperhatikan aspek - aspek keamanan di wilayah yang dikatakan rawan berpotensi terjadi bencana alam.

"Jangan lupa, dana dana desa saat ini sudah di alokasikan, sementara banyak alokasi dana yang belum digunakan efektif, sehingga mulai dari desa dalam melakukan perencanaan dan pembangunan dengan pendampigan menggunakan sistem, memfasilitasi desa, melalui KKN atau destana sendiri," ungkapnya.

Ketangguhan Desa Di Sekitar Puring

Penguatan kepedulian desa terhadap bencana sudah bisa di rasakan juga di sekitar Kecamatan Puring di desa Tegalretno, Petanahan. desa ini termasuk desa yang jaraknya dekat dengan bibir pantai pesisir selatan Kebumen.

Kepala Urusan Umum dan Perencanaan Desa Tegalretno, Teguh Priyatno menyebutkan pembahasan soal bagaimana konstruksi bangunan yang cocok di wilayah berpotensi tsunami sudah menjadi hal yang biasa dilakukan warganya.

Bahkan sekitar 150 KK di desanya sudah membangun rumah dengan tinggi diatas 2,5 meter untuk mengantisipasi terjadinya gelombang tinggi atau tsunami.

"Sudah biasa pak, lokasinya di selatan jalur Pansela," ucapnya.

Hanya saja, masih ada diantara warganya yang belum begitu paham akan pentingnya memperhatikan segi konstruksi bangunan.

Mereka justru marah ketika warga atau perangkat desa yang ingin mengintervensi memberikan saran terkait pembangunan yang sedang dilakukan warga tersebut.

"Kenapa tanah-tanah saya kok diatur, ya ada yang seperti itu, tapi kan dengan adanya apalagi dengan adanya jalur selatan pun sudah gimanapun caranya pemahaman warga kami yang namanya jalur setiap tahun ada kenaikan," tandasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00