Pentingnya Aspek Konstruksi dan Tata Letak Bangunan di Daerah Rawan Bencana

KBRN, Jawa Tengah: Sebanyak 16 desa yang berada di 3 kecamatan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah menjadi target sosialisasi kebencanaan Tim Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami BNPB 2019, Selasa (30/7/2019). 3 kecamatan ini diantaranya Ambal, Mirit dan Lembupurwo.

Salah seorang peserta sosialisasi, Wagino mengatakan secara umum pemahaman warganya akan pengetahuan cara mengevakuasi diri sudah terstruktur dengan matang. 

Wagino selaku Kepala Desa Ambal Resmi mengaku akan langsung mengkomando warganya dengan menggunakan kentongan untuk berkumpul di tempat terbuka kala  bencana seperti gempa terjadi.

"Ya kentongan, alami, karena alat dari pemerintah kita belum punya," ungkapnya.

Akan tetapi, dia mengakui pemahaman warganya dari sisi pembangunan desa yang ideal khususnya desanya yang dikatakan berpotensi terjadi tsunami masih sangat minim. Mulai dari tata letak sebuah bangunan kemudian konstruksi bangunan masih belum di sesuaikan dengan permodelan bangunan di daerah yang berpotensi tsunami. 

"Kalo secara teknis atau mungkin secara desain yang anti gempa ini belum kita belum tau mas cara bangunnya. Jadi saya belum berani sosialisasi ke masyarakat cara sistem untuk bangun desanya itu, bangun rumah nanti ada gempa itu kokoh rubuh atau mungkin tidak hancur itu seperti apa, itu belum ada komando dari pemerintah," ucapnya.

BNPB Ingatkan Masyarakat

Pentingnya akan pemahaman pembangunan maupun kontruksi yang tepat di kawasan berpotensi bencana alam kembali disinggung Kepala BNPB, Letjen Doni Monardo saat melakukan penanaman bibit mangrove di Pantai Laguna, Kebumen, Jawa Tengah, Selasa (30/7/2019). 

Doni mencontohkan bagaimana ganasnnya perisitiwa bencana gempa di Halmahera Selatan pada 14 Juli 2019 lalu, sekitar 1200 rumah rata dengan tanah hanya dalam hitungan detik. 

"Kalo masyarakat memiliki rumah konstruksinya tidak tahan gempa, maka cara mengatasinya berbeda dengan rumah yang punya konstruksi tahan gempa, ini yang harus kita lakukan sehingga masyarakat semua sadar," tuturnya.

Kedepan kata dia, sosialisasi kebencanaan tidak hanya menyasar desa tapi lebih intim lagi hingga di level keluarga.

"Sangat ingin supaya latihan ini sampai menyentuh sampai tingkat keluarga, setiap keluarga harus tahu kalau ada gempa apa yang harus mereka lakukan," ucapnya.

Kemudian, Jendral Bintang 3 ini mengimbau agar para pemilik resort maupun pelaku usaha di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa turut terlibat dalam hal memitigasi bencana.

"Sudah terlanjur dibangun kita tidak boleh memaksa masyarakat untuk keluar kawasan, yang penting semua tahu bahwa daerah ini adalah daerah rawan bencana," tegasnya.

"Pemilik - pemilik resort, pemilik-pemilik hotel, itu harus membangun sistem ketika ada gempa, tidak semua daerah ini memiliki sistem peringatan dini melalui sirine mungkin alarm, atau apa saja bentuknya dan tidak semua masyarakat kita itu punya handphone," tandasnya 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00