Kawasan Green Belt Jatimalang Yang Terancam Keberadaannya

KBRN, Jawa Tengah: Ketua Forum Penanggulangan Risiko Bencana Jawa Tengah, Juli Eko Nugroho menilai kepedulian warga di Desa Jatimalang, Purworejo, Jawa Tengah pada potensi bencana alam di daerahnya cukup tinggi. 

"Ketika pasca gempa Bantul, Jogja, tsunami Pangandaran 2006-2007 terus sempat 2009 juga pernah itu akhirnya muncul kesadaran," ungkapnya di sela kegiatan Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami BNPN 2019 Regoinal Jawa hari ke 18 di Jatimalang, Purworejo, Jawa Tengah, Senin (29/7/2019).

Hal ini tercermin menurut Juli dari aktifnya masyarakat dalam usahanya memitigasi desanya dari ganasnya terjangan gelombang tsunami. Warga diketahui pro aktif dalam menjaga kawasan Green Belt atau Sabuk Hijau di daerahnya.

"Tapi kesadaran muncul, salah satunya ini kenapa ditanami cemara udang, kepala desa dan masyarakat merasa harus dibuat sabuk pengaman sekaligus sabuk hijau, 2014-2015 itu inisiatif mangrove dimulai dari pojokan sana di perbatasan D.I. Yogyakarta - Jateng di sebelah sana Desa Gedangan, yang punya seperti sungai mati itu kayak payau gitu ditanami mangrove," ujarnya.

Keberadaan Green Belt Jatimalang Terancam

Juli mengatakan belakangan keberadaan sabuk hijau alam ini terancam karena mulai berkembangnya potensi ekonomi tambak udang di desa ini. Petani tambak udang yang masuk mulai menggerogoti kawasan Green Belt ini sedikit demi sedikit.

"Jatimalang paling tidak dulunya green belt, sabuk hijau, gumuk pasir, pohon cemara udang hampir 60 persen ini tinggal 40 persen," tuturnya.

Warga menurut Juli tidak tinggal diam, mereka sudah melakukan penolakan terhadap keberadaan tambak udang. Bahkan Kepala Desa menurutnya sudah mengajukan surat penolakan ke Pemprov setempat, tapi tak membuahkan hasil.

"Sebenarnya menolak, kepala desa sudah mengajukan surat ke kabupaten, tapi mereka ga punya kuasa karena ini merupakan tanah negara," ucapnya.

Akhirnya untuk terus mengupayakan menjaga keberadaan Green Belt di Jatimalang, warga berusaha semampunya agar sisa kawasan sabuk hijau tetap ada.

"Ya itu tadi misalkan, mereka ini tempat ini dulu kan diajukan lah alasannya untuk kuliner, satu contoh upaya di sebelah sana itu Pak Lurah, pasir dan ada tanaman kan disana dibuat pacuan kuda tapi tidak permanen tiap tahun itu kalau lebaran itu pasti ada pacuan kuda, biar tidak dipakai tambak, siapa cepat dia, karena ini inisiasi masyarakat desa," tutupnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00