Kota Baubau Menuju Fase Eliminasi Kaki Gajah (Filariasis)

Programer Filariasis Dinkes Baubau, Mutia Aprilia Suhartono, S.Kep (Foto:RRI)

KBRN, Baubau : Sudah Lima tahun lamanya masyarakat Kota Baubau berjibaku dengan pengobatan filariasis, tepatnya setelah kasus pertama penyakit kaki gajah itu ditemukan di Kelurahan Kalia-Lia tahun 2005 silam.

Untuk mengetahui apakah pemberian obat itu berhasil atau tidak, belum lama ini Tim Dinas Kesehatan Kota Baubau bersama Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas I Makassar melakukan pengambilan 640 sampel darah jari bagi warga di Tiga kelurahan, yakni Kelurahan kalia-lia dan Kantalai sebagai spot penemuan kasus, dan Kelurahan Liabuku sebagai lokasi pembanding.

Programer Filariasis Dinkes Baubau, Mutia Aprilia Suhartono mengatakan pengambilan sampel darah jari dilakukan malam hari, karena cacing filarial keluar saat rentan waktu pukul 10 malam – 2 dini hari. Setelah itu cacing akan masuk kembali ke dalam jaringan limva atau hati.

Mutia menyebutkan saat ini 640 sampel darah itu masih diperiksa di BTKLPP Makassar dan menunggu Tiga Bulan lagi untuk mengetahui hasilnya.

“Paling cepatnya Dua bulan. Jika tidak lulus Pre Transmission Assessment Survey (TAS), kita mengulang Dua tahun minum obat, yang artinya kita gagal. Tapi kalau misalkan kita lulus Alhamdulillah kita mengarah ke TAS, rencananya tahun depan,” jelasnya kepada RRI, Senin (3/5/2021).

Mutia menambahkan jika dari hasil pemeriksaan darah itu tidak ditemukan lagi maka menjadi angin segar bagi Kota Baubau untuk terbebas dari filariasis dan masuk ke tahapan eliminasi.

“Jika ditemukan microfilaria di bawah 1 persen maka akan dilanjutkan ke tahap TAS 1 sebagai langkah menuju eliminasi. Meski demikian pemeriksaan kembali dilakukan dan sampelnya adalah anak usia 5-6 tahun atau kelas 1-2 Sekolah Dasar,” jelasnya.

Lanjut Mutia, tidak mudah untuk mendapat satatus eliminasi, sebab harus melalui Pra TAS kemudian masa TAS.

Mutia berharap setelah program minum obat tahunan sejak 2015 lalu itu, Kota Baubau dapat segera meraih predikat Eliminasi karena diakuinya saat ini masyarakat sudah mulai jenuh dengan pengobatan filariasis janga panjang.

“Karena butuh tenaga ekstra untuk memberi obat selama Lima tahun  kepada masyarakat dan itu bukan hal yang mudah. Pasti masyarakat merasa bosan apa lagi kalau harus ditambah Dua tahun lagi,” pungkasnya.

Seperti diketahui Kota Baubau pernah mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) Filariasis karena ditemukan beberapa kasus.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00