Oknum Guru SD di Buton Dipolisikan Pasca Hukum Murid Makan Sampah Plastik

Unit PPA Polres Buton,(Dok.RRI).jpg

KBRN, Buton : Kasus guru menghukum enam belas murid kelas III SDN 50 Buton berbuntut panjang. Salah satu orang tua dari enam belas siswa/siswi kelas III SDN 50 Buton tak terima dengan tindakan tak terpuji salah satu oknum guru kelas di SDN yang terletak di Desa Winning Kecamatan Pasarwajo itu.

Rabu (26/1/2022) sore, Florentinus ayah korban inisial DS  bersama saudara perempuannya Prischa Leda langsung menyembangi Kantor Polres Buton untuk melaporkan kasus yang menimpa putrinya.

Bapak dua anak itu mengaku awalnya ingin atur damai dengan Oknum Guru tersebut, namun antara tersangka dan pihaknya terpaut waktu lama untuk mengkalirikasi insiden tersebut. Bahkan ditakutkan oknum guru itu akan berulah kembali diwaktu mendatang.

Awal mula Ia mengatahui buah hati nya di hukum memakan sampah dari orang tua korban lainnya yang datang  bercerita ke Rumahnya Sabtu (22/1) malam, bahwa anak mereka sama-sama dihukum oleh guru dengan cara disuapi plastik makanan ringan yang diambil dari dalam tempat sampah.

“Ini anak-anak kita disuruh makan sampah sama gurunya,”turut Florentinus saat diberitahun orang tua korban lainnya.

Pria yang sehari-hari beraktifitas sebagai petani itu bercerita insiden itu terjadi pada Jumat 21 Januari, Namun ditunggu hingga senin (24/1)  guru bersangkutan tak kunjung meminta maaf dan mengkalrifikasi adanya tindakan tragis itu.

Bahkan karena tak kunjung datang, para orang tua korban berinisiatif langsung datang ke sekolah pada Senin (24/1) dan meminta penjelasan langsung kepala sekolah dan menemui guru bersangkutan. Bahkan  meminta bantuan Babinkabtibmas wilayah setempat untuk menengahi permasalahan tersebut.

Di sekolah antara para  orang tua korban dan pihak sekolah saling memaafkan, namun Florentinus tetap akan melanjutkan kasus tersebut karena tidakannya tidak dibenarkan dan menghawatirkan berulang di kemudian hari.

“Secara kekeluargaan rata-rata orang tua murid memaafkan, tetapi saya pribadi akan tetap proses hukum karena ini mengenai sikap dan perbuatannya jangan sampai terjadi lagi kepada anak sekolah lainnya,kasus ini akan jadi contoh untuk guru lainya,”jelasnya.

Akibat insiden itu hingga Rabu (26/1) DS enggan ke Sekolah. Ia mengaku takut kejadian tersebut berulang.

“Saya masih takut sama ibu guru itu, saya belum berani ke Sekolah,”tutur DS.

Ia bercerita awal mulai di hukum guru karena ribut di kelas. Suasana kelas sudah dikendalikan karena  para siswa tersebut hendak merayakan ulang tahun guru kelasnya yang saat itu datang terlambat.

Ia menyebutkan jumlah siswa bersamanya ada 16 orang. Sampah yang telah masuk dimulut sempat digigit dan dibuang setelah oknum guru tersebut keluar ruangan.

Sementara Saudara Florentinus, Prischa Leda ditemui RRI usai melapor ke Unit PPA Polres Buton mengaku tidak terima baik kejadian tidak pantas itu. Ia berharap oknum guru tersebut diadili secara hukum.

“Kami tidak terima dengan perlakuan guru itu, menurut kami sangat keji dan tidak pantas,”kata Prisca.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar