Pemerintah Resmi Menurunkan Harga Minyak Goreng Rp14.000

Ilustrasi-Minyak (Foto:Website).jpg
asdin_stp.jpg

KBRN, Baubau : Rabu 19 Januari Pukul 00.00 WIB nampaknya merupakan waktu yang ditunggu oleh kebanyakan ibu-ibu ataupun pelaku UMKM di seluruh Indonesia. Karena pada waktu tersebut pemerintah resmi memberlakukan penetapan harga minyak goreng sebesar Rp. 14.000/liter. Harga ini tidak hanya diberikan untuk minyak goreng kemasan 1 liter, tetapi juga diberikan untuk minyak goreng dalam kemasan 2 liter, 5 liter, dan 25 liter.

Betapa tidak harga minyak goreng sejak akhir Tahun 2021 mengalami kenaikan harga, dimana harga minyak goreng kemasan sederhana naik 3,35% menjadi Rp.18.500 per liternya sedangkan harga minyak goreng kemasan premium naik 5,73% menjadi Rp. 20.300 kenaikan harga ini telah melampaui Harga Enceran Tertinggi (HET) di beberapa daerah. Hal tentunya sangat memberatkan bagi ibu-ibu rumah tangga atapun pelaku usaha yang usahanya harus bersentuhan dengan minyak goreng. Kenaikan harga minyak goreng ini sendiri tentunya akan mempengaruhi ekonomi mikro karena kenaiakan ini  akan berdampak langsung bagi daya beli masyarakat dan pelaku usaha UMKM pada umunya dimana pelaku usaha akan menjadi dilema, dilain sisi pelaku usaha harus menaikan harga produk untuk bisa menutupi biaya produksi yang melonjak karena kenaikan harga minyak namun di sisi lain pelaku usaha merasa berat karena takut produk yang dijual tidak mampu terbeli oleh masayarakat yang dikarenakan kondisi perekonomian masyarakat belum sepenuhnya pulih akibat pandemi Covid-19 yang masih melanda Indonesia.

Kenaikan Minyak goreng ini sendiri menurut Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan dalam Kontan.co.id (3 November 2021),  menyebutkan bahwa, kenaikan harga minyak goreng dipicu melonjaknya harga Crude Palm Oil (CPO) di pasar global, kenaikan harga CPO ini sendiri dipicu karena masih banyak pabrik minyak goreng di Indonesia yang belum terintegrasi dengan perkebunan sawit dan produsen CPO sehingga perusahaan membeli CPO sesuai harga CPO dunia. Selain dipicu kenaikan harga CPO di pasar global, kenaikan harga minyak goreng juga disokong meningkatnya permintaan bahan baku untuk biodiesel dalam rangka program B30. Kemudian, turunnya jumlah panen kelapa sawit di dalam negeri juga turut mendorong kenaikan harga bahan baku minyak goreng tersebut.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Presiden dalam pernyataannya di awal Januari lalu telah memerintahkan jajarannya untuk menjamin stabilitas harga minyak goreng di dalam negeri. Menjawab arahan dari Presiden Untuk mengendalikan lonjakan harga minyak goreng, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Ekon) Airlangga Hartarto  mengeluarkan kebijakan pemberlakuan harga Rp. 14.000 per Liter terhitung sejak Tanggal 19 Januari Pukul 00.00 WIB di Seluruh Indonesia.

Sebagai awalan Pendistribusiannya bekerja sama dengan peritel modern, dan pemerintah daerah, baik melalui 45.000 toko ritel maupun dengan operasi pasar atau pasar murah di lokasi-lokasi yang ditentukan pemerintah daerah. Sedangkan khusus untuk pasar tradisional diberikan waktu penyesuaian selambat-lambatnya 1 minggu dari tanggal pemberlakuan. Minyak goreng kemasan dengan harga khusus tersebut akan disediakan sebanyak 250 juta liter per bulan selama jangka waktu 6 bulan. Pemerintah juga akan terus melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin, minimal 1 bulan sekali, terkait dengan implementasi kebijakan ini. (dikutip dari laman resmi Kemenko Perekonomian, Rabu 19/01/2022).

Sebelumnya, pemerintah juga  telah memutuskan untuk meningkatkan upaya menutup selisih harga minyak goreng demi memenuhi kebutuhan rumah tangga, industri mikro, dan industri kecil. Kebijakan ini didasarkan atas hasil evaluasi yang mempertimbangkan ketersediaan dan keterjangkauan harga minyak goreng bagi masyarakat. Diharapkan dengan adanya penetapan harga terbaru minyak goreng ini dapat mendorong pelaku usaha industri mikro dan industri kecil untuk terus mampu eksis ditengah sulitnya perekonomian saat ini akibat Pandemi Covid-19 yang belum juga berlalu. (Oleh: Asdin, STP Mahasiswa Magister agribisnis DPPS Universitas Muhammadiyah Malang).

 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar