Situs Rowo Bayu Banyuwanggi, Kebhinekaan Indonesia yang Tersembunyi

KBRN,Jember : Menempuh jarak sekitar 100 kilometer dari Kabupaten Jember menuju Obyek wisata Rowo Bayu yang terletak di Dusun Sambungrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon,Banyuwanggi. 

Sekitar kurang lebih 3 jam perjalaan mengunakan transportasi darat, kami pun akhirnya tiba di balai Desa Bayu yang berada di Dusun Plantaran, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwanggi. 

Desa dengan pesona alam sangat asri berbalut hawa dingin dan keramahan masnyarakatnya logat bahasa osing menjadi ciri khas saat berkunjung di desa yang terletak di kaki lereng Gunung Raung itu. 

Pagi itu aktivitas layanan masyarakat di balai Desa berjalan seperti biasa, para perangkat desa juga nampak berkumpul mengelar pertemuan rutin di depan pendopo balai desa. 

Kami pun bergegas menuju satu ruangan, untuk bertemu dengan Kepala Desa Bayu. Dengan sangat ramah salah satu perangkat desa mempersilahkan kami masuk ke salah satu ruangan yang pernah disinggahi Bupati Banyuwanggi Ipuk Fiestiandani Aswar Anas saat ngantor pertama kali sebagai Bupati.

Selang beberapa saat, kami ditemui oleh Kades Bayu, Sugito.  Sejak awal, Kades Sugito telah mengetahui maksud dan tujuan kami datang menemuinya. sehari sebelumnya kami sempat membuat janji melalui sambungan telpon untuk datang langsung berkunjung di Desa Bayu yang beberapa waktu ini viral dikaitkan dengan maha karya film produksi anak negeri "KKN di Desa Penari".

Dalam sesi wawancara bersama Kades Bayu, Sugito, kami pun mencoba menggali lebih jauh kebenaran dan keterkaitan fakta tentang Sejarah Rowo Bayu dengan cerita film KKN Desa Penari. 

Menurut Sugito, terdapat banyak kemiripan peristiwa yang terjadi dalam adegan film KKN Desa Penari dengan peristiwa yang pernah terjadi di Desa itu tahun 2009 silam.

"ada kemiripan cerita yang tersaji dalam film itu, diantaranya ada 11 orang mahasiswa dari salah satu universitas di Surabaya yang pernah menjalani KKN di desa Bayu pada tahun itu, terus ada juga dua orang yang sakit sampai meninggal dunia usai mengikuti KKN itu benar adanya, juga ada cerita tentang dua dusun yang hilang yakni dusun Pendarungan dan Dusun Langkir juga ada,"ujarnya saat ditemui di Balai Desa Bayu.

Cerita tentang dua dusun hilang itu diketahui dari petunjuk peta kuno masa Batavia tahun 1915  yang dimiliki pihak Perangkat Desa Bayu. Sugito mengklaim mendapat peta itu dari sebuah musium sejarah. peta itu diyakini belum diketahui oleh Pemerintah Daerah setempat.

"Dari banyaknya kesamaan peristiwa dengan cerita di film itu, termassuk sejumlah foto-foto yang ada di film itu juga identik dengan benda yang ada di Rowo Bayu, hanya yang tidak ada di desa Bayu ini namanya Desa Penari, kalau itu berkaitan dengan alam ghoib itu lain cerita karena hal itu didasari dari cerita dua mahasiswa kepada teman-teman KKNnya saat itu,"tandasnya.

Tertarik lebih jauh mengetahui peristiwa KKN (Kuliah Kerja Nyata) dari 11 orang Mahasiswa salah satu Universitas di Surabaya itu, kami pun mencoba menggali informasi dari salah satu perangkat desa bayu yang disebut-sebut mengetahui persis tentang peristiwa KKN di desa Bayu tahun 2009 itu. Saksi hidup itu adalah Panoto. 

Kediaman Panoto hanya berjarak sekitar 20 meter dari Balai Desa Bayu yang menjadi tempat singgah ke-11 orang maahasiswa KKN asal Surabaya kala itu. ia menceritakan ke 11 mahasiswa itu menjalani KKN selama 15 hari. Namun di hari ke 10 sebuah peristiwa mistis menimpa dua mahasiswa usai mereka berwisata di Rowo Bayu. Dua orang jatuh sakit dan sempat dirawat di Balai Desa.

"jadi ceritanya di hari ke 10, mereka ini pagi hari pait ingin menikmati alam di kawasan Rowo Bayu, namanya orang Kota kalau kekampung menikamati alam itu kan seneng sekali, namun saat itu hanya ada dua orang laki-laki dan perempuan yang gak pulang dari pagi sampai magrib, dari cerita temannya, kedua muda-mudi itu pulang lewat jalan setapak ditengah perjalanan sempat ceritanya keduanya dihentikan oleh orang diajak mampir, paadahal sebenarnya di daerah itu tidak ada rumah yang ada hanya rumah kosong dan kampung mati, mereka merasa seperti berada di dalam Kerajaan dan juga melihat ada tari-tarian, setelahnya mereka pamit pulang dan sempat dikasih bungkusan bekal oleh orang yang mereka temui, bungkusan itu mereka bawa lantas karena penasaran merek membuka bungkusan tersebut ditengah jalan, namun saat bungkusan dibuka ternyata berisi potongan kepala kera," kata Panoto.

Setelah kejadiaan yang dialami, keduanya mengalami guncangan pikiran hingga akhirnya tak kuasa mengendalikan diri dan jatuh sakit. cerita mistis yang dialami keduanya sempat diceritakan kepada teman-teman lainnya setiba mereka di Balai Desa bayu yang menjadi tempat tinggal sementara 11 mahasiswa KKN dari Surabaya itu.

"KKN saat itu kalau tidak salah tinggal 5 hari, tapi karena ada dua mahasiswa yang sakit hingga mereka terpaksa harus pulang lebih awal dari 15 hari yang direncanakan melaksankan KKN di Desa Bayu, waktu mereka pamit pulang itu ya saya yang mendoakan kala itu," kenangnya.

Panoto menceritakan sejak tahun 2009 hingga saat ini, Balai Desa Bayu telah mengalami beberapa kali renovasi mulai dari bangunan dan ruangan. sehingga saat viral cerita film horor KKN di Desa Penari, banyak pihak yang sempat mendatangi dan menanyakan kebenaran kisah itu kepada para perangkat desa setempat. 

"Sejak film itu viral, kami mencoba mencari satu-satunya bukti yang bisa menjadi titik terang nama dari 11 mahasiswa yang KKN di Desa Bayu tahun 2009 itu, namun hingga saat ini kami belum berhasil menemukan karena memang bangunan balai desa sudah beberapa kali dipugar dan dirubah, kami kesulitan memperoleh plangkat itu," terangnya.

BERKUNJUNG KE KAWASAN ROWO BAYU

Usai mendengar ungkapan cerita dan fakta dari para perangkat Desa Bayu, Kami pun penasaran untuk melihat langsung kawasan Wisata Rowo Bayu yang banyak dikaitkan dengan kisah cerita dalam film KKN Di Desa Penari. kami pun bergegas dari Balai Desa Bayu menyusuri jalan pedesaan, perkaampungan pemukiman warga dan  pemandangan alam hamparan lahan pertaniaan yang luas diiringi rindangnya pepohonan di sepanjang jalan. kami bergegas dengan ditemani Kepala Desa Bayu menuju Obyek Wisata Rowo Bayu.

Suasana hening ditambah dengan rindang pohon pinus seakan menambah perasaan tenang saat tiba di pintu masuk menuju kawasa obyek wisata alam itu. langkah kaki kamipun beranjak menuju sebuah telaga sunyi dengan gemericik air yang dikelilingi rimbunya pohon bambu di kawasan itu. Pak Kades lantas mengarahkan jejak langkah kami mengelilingi tepi telaga rowo bayu. Disisi barat telaga kami pun ditunjukan sebuah sumber mata air dengan ornamen patung-patung dewa yang mengalirkan sumber mata air yang begitu jernih.

"Sumber ini namanya Sendang Kaputren, ceritanya merupakan tempat mandi bagi putri-putri kerajaan, kalau saat ini juga ada masyarakat terutama dari bali yang beragama Hindu datang kesini atau melakukan kegiatan kegiatan upacara keagamaan sesuai keyakinannya,"ujar Sugito.

Perjalanan kami lanjutkan menyusuri jalan setapak dibawah rindangnya pohon bambu. samar-samar dari kejauhan nampak sebuah sumber mata air dengan dua patung Putri mengenakan busana ala penari Gandrung dilengkapi ikat kepala. Kedua tangan sang Putri memegang sebuah guci mengalir mata air. Sugito mengungkapkan Sumber mata air itu biasa disebut Sumber Dewi Gangga.

Berdampingan dari lokasi yang kerap dijadikan tempat kegamaan umat Hindu, terlihat sebuah bangunan Mushola yang diperuntukan bagi umat muslim beribadah. dinding bangunan dipahat dengan arsitek dan ornamen menarik. Sugito menjelaskan bangunan Mushola Sabilul Khoirot itu dibangun oleh seorang pengusaha dari luar daerah yang pernah mengunjungi Rowo Bayu beberapa tahun silam. bangunan mushola itu menghabiskan biaya hingga ratusan juta rupiah.

"Saat itu seorang pengusaha yang usahanya bangkrut datang kesini untuk menenangkan diri, dalam hatinya dia berdoa dan berjanji untuk bangkit hingga usahanya kembali sukses, dan alhamdulliah ikhtiarnya berhasil sehingga ia meujudkan janjinya untuk membangun sebuah mushola ini," terangnya.

Kami melanjutkan perjalanan ke sisi utara bagunan mushola melintasi sebuah jembatan kecil yang dialiri mata air bermuara ditelaga rowo bayu. tak jauh dari kawasan itu berdiri sebuah bangunan candi yang disebut merupakan tempat petilasan Prabu Tawang Alun. Di depan pintu masuk area Petilasan Prabu Tawang Alun terdapat patung macan putih. Cerita Kebesaran Tokoh Prabu Tawang Alun telah akrab didengar oleh masyarakat Banyuwanggi. 

Prabu tawang Alun merupakan keturunan dari Pangeran Kedawung. dimasa kejayaanya tahun 1659 Prabu tawang Alun merupakan raja Blambangan yang kekuasaannya meliputi Jember, Lumajang, Bondowoso dan Panarukan. Namun hal itu banyak membuat saudaranya iri,dengki atas kepemimpinan sang Pabu Tawang Alun. Demi Keamanan dan Kedamaiaan Kerjaanya Prabu Tawang Alun rela menyerahkan tahtanya kepada adiknnya Prabu Mas Wilabrata.

"situs ini diyakini sebagai tempat pertapaan Prabu Tawang Alun setelah ia menyerahkan tahtanya kepada Saudaranya, Dirinya mengalah dan rela  meninggalkan Tahta demi keselamatan dan keamanan bagi rakyatnya,kalau saat ini juga banyak pengunjung yang biasannya datang kesini untuk berdoa dan melakukan wisata religi" cerita Sugito.

Petilasan Prabu Tawang Alun di kawasan Rowo Bayu cukup bersih dan terawat. Seorang juru kunci setia menjaga setiap hari. saat ini tak sedikit pengunjung yang datang untuk berdoa dan mengambil air yang ada di balik petilasan Prabu tawang Alun. Sebagaiaan dari pengunjung berkeyakinan air yang diambil dari tiga sumber mata air di dalam situs Petilasan Prabu Tawang Alun memiliki makna tersendiri dari keyakinan masing-masing.

Tiga sumber mata air ini diantarnya ada sumber mata air Kamulyan, Sumber Panguripan dan juga Sumber Rahayu. Masing-masing sumber mata air memiliki arti dan makna tersendiri bagi mereka yang meyakini.

"bisa dibuktikan sendiri bagi kami warga disini sangat mempercayai sumber mata air di petilasan Prabu tawang Alun ini berbeda dengan sumber mata air di lokasi lain, seperti di sumber Kamulyan itu meski datang pada malam hari cuaca dingin, namun air yang mengalir dari sumber mata airnya tidak terasa dingin cenderung hangat, makannya masyarakat disini memiliki kepercayaan di Rowo Bayu itu masih dipercaya menjadi daerah yang disakralkan warga sekitar, selain itu kepercayaan warga dari sendang-sendang yang ada di Rowo Bayu juga tidak diperbolehkan menyembelih ayam dan darahnya mengalir di sumber mata airnya karena dari dulu memang dikramatkan wilayah itu" kata Sugito.

Sugito menjelaskan juga ada beberapa mitos yang sampai saat ini diyakini dan dipercaya oleh warga sekitar yakni bagi mereka yang hendak berkunjung di kawasan wisata Rowo Bayu harus memiliki sikap tata krama sopan santun dan juga niat baik dalam hati. 

"ada sejumlah mitos yang dipercaya masyarakat saat berada di kawasan Rowo bayu, pantangan yang tidak boleh dilanggar diantaranya mengucapkan salam saat akan masuk kedalam, tidak membuang kotoran sembarangan, ada beberapa kasus yang pernah terjadi karena warga yang datang melanggar pantangan, pulang dari sana warga itu langsung sakit,"imbuhnya.

Tak hanya dikenal sebagai obyek wisata alam yang dikenal sakral, kramat dengan aura mistis, Kawasan Rowo Bayu juga memiliki sejarah cikal bakal lahirnya Kabupaten Banyuwanggi. Nilai-Nilai Toleransi keberagamaan umat beragama melambangkan Kebhinekaan Indonesia juga tersimpan tersembunyi dibalik kerindangan pepohonan hutan di dalam kawasan seluas 6 hektar itu. Dinding tiga sumber mata air di dalam area Petilasan Prabu tawang Alun juga berdiri tegak prasasti patung Burung Garuda, Teks Pancasila dan UUD 1945.  

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar